Lebih dari 15 Menit, Mobil Bandel di Juanda akan digembok

wheel lock

Photo diatas hanya ilustrasi.

Sekali lagi ditegaskan kendaraan roda empat haram berlama-lama menurunkan dan menaikkan penumpang di Bandara Internasional Juanda Surabaya.
Baca lebih lanjut

Iklan

Kedungdoro Macet Total Akibat Videotron Ambruk

100134largePolemik reklame gambar berjalan (videotron) di Jalan Kedungdoro mencapai klimaks kemarin. Media iklan milik PT Rajawali Citra Buana (RCB) itu roboh. Diduga kuat, proyek saluran air (box culvert) menjadi penyebabnya.

Tidak ada korban jiwa dalam insiden itu. Namun, bangunan di sekitarnya rusak tertimpa videotron. Salah satunya, toko onderdil mobil UD Selamat Motor. Baca lebih lanjut

Mumpung Gratis, Ayo naik KOMUTER AREK SUROKERTO

Foto: Imam Wahyudiyanta DetikSurabaya

Foto: Imam Wahyudiyanta DetikSurabaya

KA Angkutan Rakyat Ekonomi Kecil Surabaya Mojokerto (Arek Surokerto) yang baru diluncurkan sebagai alternatif angkutan darat menjelang lebaran. Hal itu dilakukan karena arus lalu lintas jalan darat terus meningkat setiap tahunnya.
Baca lebih lanjut

Surabaya nambah KOMUTER rek!

copyrighted by jawapos

copyrighted by jawapos

Tambah lagi kereta ulang-alik (komuter) dari Surabaya. Setelah Susi (Surabaya-Sidoarjo) dan Sulam (Surabaya-Lamongan), kini ada Arek Surokerto. Kemarin, komuter Surabaya-Mojokerto itu diresmikan Menhub Jusman Syafii Djamal dan Wagub Saifullah Yusuf.
Baca lebih lanjut

PASAR MAUT

Kaum migran Surabaya berebut remah-remah berkah Kota

Kaum migran Surabaya berebut remah-remah berkah Kota

Di tengah maraknya bangunan SuperMall yang berdiri di kota-kota besar, ternyata tidak sedikit migran kota yang hanya memperoleh kesempatan mengais rejeki di pingiran rel Kereta Api yang masih aktif.
Baca lebih lanjut

Tanda Nomor Kendaraan Bermotor

Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB), atau sering kali disebut plat nomor atau nomor polisi, adalah plat aluminium tanda kendaraan bermotor di Indonesia yang telah didaftarkan pada Kantor Bersama Samsat.
Baca lebih lanjut

Teleporter made in Surabaya

Surabaya adalah sebuah kota yang dibelah oleh sungai. Dari arah laut, tepatnya dari arah selat Madura, kita bisa langsung melihat sungai Kalimas yang mengaliri wilayah Surabaya utara. Bahkan hingga kini jembatan atau lebih tepatnya rongsokan bernama ‘Petekan’ menjadi sisa-sisa bukti sejarah bahwa Kota ini dulunya begitu makmur dengan hasil maritimnya.

Menelusuri Kalimas hingga ke perairan tengah kota, aliran air payau ini perlahan berubah menjadi sungai air tawar yang akrab disebut sebagai sungai Brantas. Mungkin kata ‘tawar’ kurang tepat mengingat laporan hasil riset teman-teman Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Observation) yang mengemukakan bahwa 600 pabrik di sepanjang aliran sungai di Surabaya, hanya 60 pabrik yang memenuhi syarat pengolahan limbah.

‘Tawar’ mungkin sudah terkontaminasi dengan asin, getir, pahit, asam, pekat, nyinyir dan kental. Lalu kemana perginya rasa ‘manis’ sungai Surabaya?

Barangkali hanya segelintir orang kecil yang masih bisa merasakan ‘manis’ dari berkah sungai Brantas ini. Setidaknya beberapa orang yang tiap hari menjadi operator ‘Teleporter’ made ini Surabaya alias Perahu Rakit a.k.a Perahu Nambang.

Sebut saja namanya Bu Yayuk (Bukan nama sebenarnya), sudah hampir sepuluh tahun ini ia menjalankan perahu rakit milik Haji Dollah (Juga nama samaran) setelah almarhum suaminya meninggalkan ia dan tiga orang anak.

Bu Yayuk yang menguasai jalur ‘Teleporter’ di kawasan Dinoyo Surabaya ini, setiap harinya ‘memindahkan’ puluhan para penumpang termasuk sepeda motor, dan bakul-bakul sayur dari kawasan Dinoyo ke kawasan Ngagel. Kalau menempuh jalur normal alias jalan raya biasa, mereka harus memutar dan melewati jembatan B.A.T yang memakan waktu 30 menit. Dengan bantuan ‘teleporter’ bu Yayuk, maka mereka hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari 5 menit untuk sampai di kawasan Ngagel dan sekitarnya.

Di Kawasan Dinoyo, bu Yayuk tidak sendirian, menurut hasil laporan pandangan para gelandangan yang sering tidur di pinggir sungai, setidaknya ada 4 buah jalur teleporter sepanjang sungai Brantas yang membelah kawasan Dinoyo hingga Darmo kali dengan kawasan Ngagel hingga Wonokromo.

Kabarnya, ‘teleporter’ dengan medium tali tambang berbahan bakar otot lengan manusia ini, juga ada di kawasan sungai Brantas sepanjang jalan raya Mastrip atau Kedurus dan terdapat pula di kawasan Dupak yang dibelah oleh sungai Kali anak.

Perahu Nambang di kawasan antara Kedurus dan Pagesangan

Penghasilan yang di dapat dari usaha perahu nambang ini rata-rata per hari berkisar antara Rp 150 ribu hingga 250 ribu. Bahkan untuk jenis perahu nambang yang sengaja di design khusus untuk bisa memuat lebih banyak penumpang dan sepeda motor seperti di daerah Kedurus, bisa mencapai 300 ribu hingga 500 ribu per hari. Dari penghasilan tersebut, si operator harus menyetor ke pemilik perahu sesuai dengan jumlah yang disepakati, sisanya baru menjadi haknya.

Beberapa tahun lalu, Pemerintah Kota Surabaya memang merencanakan akan membuka jalur wisata air yang hingga kini belum terealisasi dengan serius. Meskipun hal ini sempat dirintis dengan dibukanya perahu pesiar di Taman Prestasi (Belakang Grahadi) yang menempuh jalur ke arah Kayun dan berputar di area sungai pinggir Monumen Kapal Selam.

Jika anda cukup beruntung, anda mungkin sempat menikmati perahu pesiar yang beroperasi di sepanjang sungai menuju pintu air Jagir Wonokromo.

Saya tidak tahu apakah ini hanya semacam rendesvouz akan kejayaan kehidupan sungai Surabaya di masa lalu ataukah justru visi futuristik untuk kembali menghidupkan ‘jalan sungai’ layaknya kota-kota di banyak negara yang memiliki kondisi geografis yang serupa.

Namun jika mengingat ikan sungai yang terlalu beresiko untuk dikonsumsi, air sungai yang sudah jelas tak layak konsumsi, sebaiknya memang dibutuhkan gagasan cemerlang atau strategi baru agar sungai-sungai di kota Surabaya berfungsi kembali.

Seorang pengusaha kenamaan Surabaya yang kerap berkunjung di Eropa mengatakan suatu ketika kepada saya, bahwa Lay-out rumah-rumah di bantaran sungai yang cenderung membelakangi sungai, itu menandakan bahwa sungai di fungsikan sebagai jamban rumah tangga. Hal ini berbeda dengan letak rumah-rumah di Eropa yang selalu menghadap ke arah sungai. Secara psikis, rumah yang menghadap sungai pasti merangsang warga untuk turut merawat sungai yang setiap saat menjadi pemandangan depan rumah mereka.

Bahkan Dukut Imam Widodo suatu kali pernah menyodorkan sebuah foto Koleksi Surabaya Tempo Doeloe. Foto tersebut adalah foto gedung Grahadi yang saat itu masih menghadap ke arah sungai. Orang Belanda yang memang terbiasa dengan kehidupan dan jalan sungai, sejak awal telah mendesign letak gedung sengaja menghadap sungai.  Sejak kapan Gedung Grahadi membelakangi sungai? Sepertinya kita tak begitu berkepentingan tahu soal itu. Barangkali kita lebih ingin tahu apakah Gedung yang merepresentasikan kekuasaan (Baca: Kekuatan untuk mengelola) itu cukup punya energi dan semangat merestorasi sungai-sungai di Surabaya? ***