Daftar Toko Buku di Surabaya

Sebelum melangkah pergi belanja buku, ada baiknya anda tahu lokasi-lokasi mana saja di Surabaya yang memiliki toko buku. Lumayan bisa menghemat pengeluaran transportasi 🙂

Ok, langsung saja ya..Berikut Daftar Toko Buku yang ada di Surabaya..

Baca lebih lanjut

Relokasi Pedagang di Tiga Pasar Dilakukan Sesuai Jadwal

SURABAYA – Wali Kota Bambang Dwi Hartono tak terpengaruh oleh desakan pengelola Pasar Keputran, Peneleh, dan Koblen yang meminta relokasi ditunda saat demo di balai kota kemarin (3/5). Hingga kemarin, orang nomor satu di instansi Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya itu menegaskan, relokasi pedagang di tiga pasar tersebut ke Pasar Induk Osowilangun Surabaya (PIOS) dan tempat lain tetap dilakukan sesuai dengan jadwal. Baca lebih lanjut

PASAR MAUT

Kaum migran Surabaya berebut remah-remah berkah Kota

Kaum migran Surabaya berebut remah-remah berkah Kota

Di tengah maraknya bangunan SuperMall yang berdiri di kota-kota besar, ternyata tidak sedikit migran kota yang hanya memperoleh kesempatan mengais rejeki di pingiran rel Kereta Api yang masih aktif.
Baca lebih lanjut

Banjir mulai masuk pasar


Sejumlah toko di Pasar Kapasan terlihat sepi karena hujan deras yang mengguyur Surabaya, Senin (16/12). Sejumlah pemilik toko mengeluhkan buruknya rancangan renovasi pasar yang kurang memperhitungkan saluran pembuangan air, sehingga jika hujan lebat turun bisa dipastikan kejadian seperti ini akan terulang lagi.
Moch. Asim
sumber asli.

Daftar Pasar Tradisional di Surabaya

 

pasar-keputran
Berikut ini adalah daftar nama-nama Pasar tradisional di Surabaya lengkap dengan alamat lokasi pasar tersebut.
Baca lebih lanjut

[Photo Gallery] : Gembong in Memoriam 1958-2008

Di pasar Gembong, semuanya ada. Bahkan yang mungkin tak bisa anda sebutkan di wilayah pasar manapun. Inilah sebagian benda yang kini tak bisa lagi anda temui di kawasan yang kini telah raib itu.

Di pasar Gembong, semuanya ada. Bahkan yang mungkin tak bisa anda sebutkan di wilayah pasar manapun. Inilah sebagian benda yang kini tak bisa lagi anda temui di kawasan yang kini telah raib itu.

bagaikan kolase seni kontemporer di sebuah galeri kaki lima berlantai aspal beratap langit.

Patung wanita terbuat dari kayu, meja antik dari besi tembaga, patung budha, tripot, kipas angin plastik : bagaikan kolase seni kontemporer di sebuah galeri kaki lima berlantai aspal beratap langit.

barang bekas yang mereka jual akan lebih terlihat genit merayu pembeli dan ujungnya mereka bisa terjual dengan harga yang bisa mencukupi kehidupan keluarga para pedagang disana.

Salah satu trick pedagang Pasar Gembong adalah menata rapi dagangan layaknya ilmu display di Supermarket. Goalnya jelas: barang bekas yang mereka jual akan lebih terlihat genit merayu pembeli dan ujungnya mereka bisa terjual dengan harga yang bisa mencukupi kehidupan keluarga para pedagang disana.

Banyak yang berasumsi bahwa 90% barang-barang di Pasar Gembong adalah barang curian. Sayangnya belum ada satupun penelitian yang valid hingga Pasar itu berstatus Almarhum. Dulu, saya seperti bisa menghubungkan nama ‘Gembong’ dengan arti induk, atau Boss. Mungkinkah Pasar Gembong memang sarangnya para Boss Penadah barang curian? Yang jelas, bagi yang mengutamakan budget yang terbatas, boleh belanja di Pasar Gembong, dijamin pasti puas. (Sorry, Expired Advertisement)

Banyak yang berasumsi bahwa 90% barang-barang di Pasar Gembong adalah barang curian. Sayangnya belum ada satupun penelitian yang valid hingga Pasar itu berstatus Almarhum. Dulu, saya seperti bisa menghubungkan nama ‘Gembong’ dengan arti induk, atau Boss. Mungkinkah Pasar Gembong memang sarangnya para Boss Penadah barang curian? Yang jelas, bagi yang mengutamakan budget yang terbatas, boleh belanja di Pasar Gembong, dijamin pasti puas. (Sorry, Expired Advertisement)

Konon, kaum urban adalah mahluk yang sangat suka dengan semua hal yang berhubungan dengan kenyamanan. Kalau anda mengendarai motor yang sudah mati shock breaker nya sudah mati, pasti lama-lama anda tak tahan juga. Nah, inilah yang saya sebut Shock Theory, untuk mengalami kenyamanan anda harus punya Shock Control. Makin ingin memperoleh rasa nyaman yang tinggi, makin banyak pula perangkat kendali ’shock’ yang harus anda miliki.

Konon, kaum urban adalah mahluk yang sangat suka dengan semua hal yang berhubungan dengan kenyamanan. Kalau anda mengendarai motor yang sudah mati shock breaker nya sudah mati, pasti lama-lama anda tak tahan juga. Nah, inilah yang saya sebut Shock Theory, untuk mengalami kenyamanan anda harus punya Shock Control. Makin ingin memperoleh rasa nyaman yang tinggi, makin banyak pula perangkat kendali ’shock’ yang harus anda miliki.

apakah saya tidak sedang berada di Ace Hardware?

Terkadang saat jalan-jalan di Pasar Gembong, sesaat saya bingung: apakah saya tidak sedang berada di Ace Hardware?

Apakah mungkin buruh pabrik atau pekerja jalanan akan membeli lampu model begini untuk di pajang di langit-langit rumah mereka yang rendah dan sempit? So, benda-benda ini setidaknya memberi ‘clue’ buat saya bahwa ada pelanggan dari kelas menengah yang juga sering mampir dan beli barang disini.

Apakah mungkin buruh pabrik atau pekerja jalanan akan membeli lampu model begini untuk di pajang di langit-langit rumah mereka yang rendah dan sempit? So, benda-benda ini setidaknya memberi ‘clue’ buat saya bahwa ada pelanggan dari kelas menengah yang juga sering mampir dan beli barang disini.

Mau beli sepeda? Atau sekadar beli spare part sepeda? atau service barangkali? Dulu Pasar Gembong dengan komplit menyediakan semuanya.

Mau beli sepeda? Atau sekadar beli spare part sepeda? atau service barangkali? Dulu Pasar Gembong dengan komplit menyediakan semuanya.

Varanus Indicus adalah nama baptis latin hewan yang sehari-harinya akrab dipanggil dengan sebutan ‘Nyambik’ alias Biawak. Jangan heran, hewan ini bukan dipertontonkan semata, ia siap dibunuh untuk menyembuhkan eksim atau penyakit gatal-gatal di kulit anda yang tak kunjung sembuh.

Varanus Indicus adalah nama baptis latin hewan yang sehari-harinya akrab dipanggil dengan sebutan ‘Nyambik’ alias Biawak. Jangan heran, hewan ini bukan dipertontonkan semata, ia siap dibunuh untuk menyembuhkan eksim atau penyakit gatal-gatal di kulit anda yang tak kunjung sembuh.

Coba perhatikan apa saja yang disajikan di warung pinggir jalan kawasan Gembong ini. Ada Softdrink yang mewakili wajah industri besar, namun juga ada teh yang diolah secara manual oleh pemilik warung, ada pula jajanan / snack berupa krupuk atau kacang yang mewakili industri kecil rumah tangga para warga kampung di Surabaya. Semuanya di tampung dan tampil secara harmonis di deck warung ini. Hal yang tidak mungkin terjadi di deck Supermarket.

Coba perhatikan apa saja yang disajikan di warung pinggir jalan kawasan Gembong ini. Ada Softdrink yang mewakili wajah industri besar, namun juga ada teh yang diolah secara manual oleh pemilik warung, ada pula jajanan / snack berupa krupuk atau kacang yang mewakili industri kecil rumah tangga para warga kampung di Surabaya. Semuanya di tampung dan tampil secara harmonis di deck warung ini. Hal yang tidak mungkin terjadi di deck Supermarket.

Baju, jaket yang tergantung itu bukan jemuran. Tapi barang dagangan untuk dijual. Kok sepertinya sudah jelek dan butut begitu? apa masih laku? Percayalah saudaraku, masih ada sebagian saudara-saudara kita yang membeli dan memakainya.

Baju, jaket yang tergantung itu bukan jemuran. Tapi barang dagangan untuk dijual. Kok sepertinya sudah jelek dan butut begitu? apa masih laku? Percayalah saudaraku, masih ada sebagian saudara-saudara kita yang membeli dan memakainya.

Kelompok PKL Pasar Gembong alias Bangsa Rombeng, tak terasa sudah menjajah rumah-rumah yang berada di belakang stand-stand semi permanen mereka hampir selama 50 tahun lamanya. Anda bisa bayangkan, betapa menderitanya orang yang tinggal di belakang mereka. Apalagi jika mereka punya mobil dan garasi, punya rencana hajatan di depan rumah dst.

Kelompok PKL Pasar Gembong alias Bangsa Rombeng, tak terasa sudah menjajah rumah-rumah yang berada di belakang stand-stand semi permanen mereka hampir selama 50 tahun lamanya. Anda bisa bayangkan, betapa menderitanya orang yang tinggal di belakang mereka. Apalagi jika mereka punya mobil dan garasi, punya rencana hajatan di depan rumah dst.

Sampah besi, rongsokan yang sudah tak bisa dipajang sebagai barang sesuai fungsi awalnya, akan dimasukkan ke areal ini. Mereka mau tak mau, tak lagi dipandang sebagai ‘Barang’. Mereka akan dihargai sebatas berat mereka.

Sampah besi, rongsokan yang sudah tak bisa dipajang sebagai barang sesuai fungsi awalnya, akan dimasukkan ke areal ini. Mereka mau tak mau, tak lagi dipandang sebagai ‘Barang’. Mereka akan dihargai sebatas berat mereka.

Surabaya dan banyak kota besar di Indonesia kini sedang dilanda demam Hijau. Nama Anthurium, Adenium seakan-akan menjejali mulut orang-orang melebihi nama bapak Presiden sekalipun. Jika anda perhatikan dengan seksama, di Pasar Gembong saat gambar ini diambil, ada seorang pedagang yang mencoba peruntungan dengan menjual tanaman. Hal yang belum pernah ada sebelumnya di Pasar Gembong.

Surabaya dan banyak kota besar di Indonesia kini sedang dilanda demam Hijau. Nama Anthurium, Adenium seakan-akan menjejali mulut orang-orang melebihi nama bapak Presiden sekalipun. Jika anda perhatikan dengan seksama, di Pasar Gembong saat gambar ini diambil, ada seorang pedagang yang mencoba peruntungan dengan menjual tanaman. Hal yang belum pernah ada sebelumnya di Pasar Gembong.

Kalau Pasar Gembong ini digusur, mereka sepakat akan bertetangga lagi di Lokasi yang baru.

Dua orang pedagang nampak sedang menyusun rencana: Kalau Pasar Gembong ini digusur, mereka sepakat akan bertetangga lagi di Lokasi yang baru.

Mbah yang tidak mau ditulis namanya ini, mengaku sejak masih gadis sudah berjualan koran, majalah dan buku-buku bekas di Pasar Gembong. Pekerjaannya selain menjual, tentu saja membeli koleksi koran bekas atau majalah dan buku bekas anda dengan harga sangat murah karena akan dihitung per kilo, tak peduli itu koran kliping atau majalah Kalam, Horison koleksi anda. Ia juga tak peduli sekalipun buku karangan Adolf Hitler yang berjudul Mein Kampf, semuanya masuk timbangan dan hanya dibayar sesuai berat fisiknya. Maka beruntunglah seorang teman yang menemukan edisi cetakan pertama buku Mein Kampf yang kabarnya laku seharga 1,5 M itu. Sementara hingga pasar Gembong telah wafat, Mbah pedagang koran bekas itu tak pernah tahu bagaimana manisnya buku mahal. Makanya mbah, jangan kejam-kejam sama buku..

Mbah yang tidak mau ditulis namanya ini, mengaku sejak masih gadis sudah berjualan koran, majalah dan buku-buku bekas di Pasar Gembong. Pekerjaannya selain menjual, tentu saja membeli koleksi koran bekas atau majalah dan buku bekas anda dengan harga sangat murah karena akan dihitung per kilo, tak peduli itu koran kliping atau majalah Kalam, Horison koleksi anda. Ia juga tak peduli sekalipun buku karangan Adolf Hitler yang berjudul Mein Kampf, semuanya masuk timbangan dan hanya dibayar sesuai berat fisiknya. Maka beruntunglah seorang teman yang menemukan edisi cetakan pertama buku Mein Kampf yang kabarnya laku seharga 1,5 M itu. Sementara hingga pasar Gembong telah wafat, Mbah pedagang koran bekas itu tak pernah tahu bagaimana manisnya buku mahal. Makanya mbah, jangan kejam-kejam sama buku..

Prinsip teliti sebelum membeli selalu dinasehatkan jika kita hendak membeli barang di tempat semacam Pasar Gembong. Sebaliknya, jika kita belanja di supermarket kita amat jarang meneliti barang yang kita beli.Akibatnya, beberapa kasus keracunan terjadi karena membeli susu yang sudah kadaluwarsa atau makan snack yang bercampur biji staples. Alamaak..

Prinsip teliti sebelum membeli selalu dinasehatkan jika kita hendak membeli barang di tempat semacam Pasar Gembong. Sebaliknya, jika kita belanja di supermarket kita amat jarang meneliti barang yang kita beli.Akibatnya, beberapa kasus keracunan terjadi karena membeli susu yang sudah kadaluwarsa atau makan snack yang bercampur biji staples. Alamaak..

Di sepatumu, tersimpan sejarahmu. Terekam jejak kemana langkah-langkah membawamu pergi. Tukang bikin betul sepatu itu cuma menjahit dan bisa membenarkan sepatumu, tak bisa membenarkan langkahmu..pilihanmu..

Di sepatumu, tersimpan sejarahmu. Terekam jejak kemana langkah-langkah membawamu pergi. Tukang bikin betul sepatu itu cuma menjahit dan bisa membenarkan sepatumu, tak bisa membenarkan langkahmu..pilihanmu..

Sepotong jalan direbutkan. Sepenggal hidup diributkan. Ada motor, ada becak, ada mobil, sepeda, ada anak kecil, ada orang kecil, ada penguasa, ada orang yang merasa penting, aaah..

Sepotong jalan direbutkan. Sepenggal hidup diributkan. Ada motor, ada becak, ada mobil, sepeda, ada anak kecil, ada orang kecil, ada penguasa, ada orang yang merasa penting, aaah..

Sebuah sepeda pancal telah terjual. Dan mas yang sedang berbahagia itu tengah menuntun sepeda ‘baru’ nya menuju pulang. Semoga kelak jika sepeda itu dicuri, ia akan ingat arah pulang.

Sebuah sepeda pancal telah terjual. Dan mas yang sedang berbahagia itu tengah menuntun sepeda ‘baru’ nya menuju pulang. Semoga kelak jika sepeda itu dicuri, ia akan ingat arah pulang.

***

Gembong in Memoriam (1958-2008): Museum tanpa atap dan Kolonialisme Bangsa Rombeng

Siang itu, di tahun 1959 seorang laki-laki butut bersepeda tiba-tiba menghentikan sepedanya. Matanya tertahan oleh termos almini bermotif blirik. Buru-buru ia parkir sepedanya di tepi jalan. Ia jongkok memeriksa termos itu dengan seksama. Tak lama ia tersenyum, ia ingat keluhan istrinya kemarin karena harus selalu masak air setiap kali hendak bikin kopi untuknya.

Mendadak sebuah becak penuh barang-barang rongsokan hampir saja menabraknya. Ia kaget dan mau marah. Tapi urung, karena ia lihat di atas jok becak itu tergolek beberapa benda yang juga menarik perhatiannya; ada kompor, timbangan, Velg sepeda, radio tua, selimut, topi, tumpukan suratkabar dan buku-buku usang, bahkan kursi kayu dan tas koper yang terbuat dari kulit dan besi. Sebentar kemudian, orang-orang di sekitar tempat itu sudah mengerumuni becak tadi, sibuk memilih barang. Ada yang langsung beli, ada yang memilah-milah barang yang hanya ia perlukan, dan ada pula yang sibuk menawar.

Suasana di tahun 1950an itu sepertinya tak banyak berubah hingga di tahun 2008. Setidaknya itu yang saya temukan saat berkunjung buat terakhir kali di Pasar Loak Jl. Gembong Surabaya minggu pertama Februari 2008 lalu.

Seorang teman, Antropolog yang menyamar menjadi pedagang barang rombeng untuk melakukan riset buku terbarunya, suatu malam menelpon saya. Ia memberitahukan bahwa Pasar Gembong tiga hari lagi akan diratakan dengan tanah.

Tanpa ragu saya mengajak beberapa teman untuk mengabadikan Pasar ‘Legendaris’ Gembong lewat photo. Tapi salah seorang dari mahasiswa itu menghentikan saya dan bertanya,

-Sebenarnya apa sih arti penting Pasar Gembong ini mas? Maaf, saya kan lahir tahun 1980an, lagi pula saya bukan asli Surabaya, jadi nggak seberapa paham..

*Waduh, mungkin arti terpentingnya ya buat pedagang dan sejumlah orang yang sehari-harinya mencari nafkah di situ, kalau buat saya sih, nggak penting-penting amat..

-Lhaa..kalau nggak penting, kok pake di ‘abadi’kan segala..

*Mau dibuat pura-pura penting juga bisa. Sebenarnya Pasar gembong ini bagi saya semacam wisata, melihat dari dekat apa saja sebenarnya isi rumah orang surabaya, dari jaman ke jaman. Jadi sebenarnya Pasar Gembong itu semacam galeri, atau museum sosial budaya tanpa atap yang jauh lebih komplit dari museum yang ada di Surabaya. Kamu akan menemukan artefak tahun 1900an, produk fashion tahun 1970an hingga elemen teknologi tinggi (high tech) pada masa-masa awal.

-Wah..jadi penting dong?

*Bagi siapa?

-Kok bagi siapa, ya bagi semua orang yang butuh pengetahuan tentang hal-hal itu..

*Yaah..itu sih relatif..pengetahuan itu kan kekayaan bathin, sepertinya kekayaan macam itu nggak penting buat orang Indonesia..

-Jangan sinis begitu mas, saya ini orang Indonesia juga! Mungkin maksud mas, itu oknum pejabat PEMKOT yang suka gusar-gusur sana sini..

*Lha si Oknum kalau bukan orang Indonesia apa bisa jadi pejabat PEMKOT??

-Iya juga sih..

*Embeeerrr..

-Terus, gimana mas?

*Terus ya dibongkar, digusur, diratakan dengan tanah, bahasa santunnya ‘ditertibkan’..

-Bukan, maksud saya terus bagaimana nasib kekayaan pengetahuan yang seharusnya dilestarikan itu mas..

+Sebentar bung!

Tiba-tiba temen saya yang antropolog itu datang dan langsung menyela pembicaraan.

+Kalau tadi bung katakan, bahwa pasar gembong itu cuma perkara kekayaan pengetahuan atau bathin buat warga kota Surabaya, saya kurang sepaham..

*Memang ada lagi bang?

Saya memanggil ‘bang’ teman saya itu karena ia pernah menirukan logat bahasa Batak semasa di SMA. Dia sendiri lahir di Tulungagung dan besar di Surabaya.

+Dari hasil riset saya, dengan menyamar menjadi pedagang buku bekas di pasar Gembong mulai tahun 2004 hingga 2008 ini, saya memperoleh data bahwa pendapatan ekonomi perbulan pasar gembong rata-rata bisa mencapai 1,5 M..

Saya dan teman-teman mahasiswa melongo, setengah tak percaya.

-Dari hasil jual barang rongsokan, bisa dapat hasil segitu?

Teman Antropolog saya mengangguk tenang. Seakan-akan dia juga telah ikut merasakan manis dengan berdagang buku bekas disana.

-Itu pendapatan kotor mungkin mas?

Teman saya menggeleng. Lalu ia melempar sebuah komik karya Ganes Th. ke lantai.

+Coba tebak, berapa saya beli komik butut ini dari pasar itu?

-Hmm…tiga ribu?

Teman saya tersenyum lalu menggeleng.

-Mmm..seribu lima ratus?

+Saya beli cuma 5000 rupiah komplit alias 10 hingga 12 jilid. Lalu saya bisa menjualnya di kolektor komik seharga 100 hingga 250 ribu tergantung kondisi fisik komiknya.

*Sebentar toh bang, sebenarnya kamu itu mau riset buat tulisan-tulisanmu atau beneran mau jadi tukang rombeng profesional?

Teman saya nyengir, lalu ia menepuk pundak saya.

+Ini namanya penelitian yang terlibat,..menyelam sambil minum air..ya penelitian, ya bisnis..

Saya geleng-geleng melihat kepawaian teman saya yang satu ini.

+Tapi jangan salah, aku bukan mau menyerobot jatah rejeki orang-orang kecil yang berdagang disana. Aku cuma ngetest kemampuan ‘salesmanship’ku disana.. buktinya aku sekarang sudah menulis dan menghasilkan trilogi novel ‘Buku Harian seorang Tukang Rombeng’..

*Nah..benar kan kataku tadi, Gembong itu bukan sekadar pasar. Bagi orang-orang tertentu, Gembong bisa memberikan arti dan fungsi yang beragam, ada yang mencari bahan inspirasi, alternatif buku murah, hunting benda-benda tempo doeloe buat koleksi hingga mencari barang bekas pakai yang masih bisa digunakan untuk menambal kecelakaan ekonomi..

Misalkan kamu bangkrut karena bapakmu korupsi, terbiasa pakai AC, nah di Gembong kamu masih bisa beli kipas angin dengan harga murah,..kamu sudah terbiasa kemana-mana pakai sepeda motor, lalu karena doyan togel terus motormu amblas ikut terjual, nah kamu masih bisa membeli sepeda pancal dengan harga miring asal kamu bisa menawar..

-Satu lagi mas..

*Apa ?

-Kalau pas lagi kepepet..aku bisa merombeng baju sama celana disana..

*Nah..makin pinter kamu…

-Kalau ke Carefour atau Giant, Hypermart dan sejenisnya..kan nggak ada yang mau beli barang bekas kita? Kalau di Gembong kan oke-oke aja, hehehe..

+Tapi nggak usah terlalu sedih..’mental Gembong’ masih akan terus menyala di jiwa alumni pasar Gembong. Karena pada dasarnya filosofi mereka adalah ‘Always Move’..bahasa antropologinya ‘nomaden’. Justru itu yang membuat mereka tetap survive. Kalau pasar Gembong digusur, nggak usah kuatir, masih banyak lapak-lapak bebas yang tersebar di seluruh permukaan tanah air Indonesia!

*Kamu kok semangat gitu bang? Mentang-mentang alumni Gembong..

+Oh jelas! Kalau soal mencari nafkah kita harus selalu pantang mundur, jangan mudah menyerah meskipun banyak cobaan dan ujian.

*By the way,..mereka pindah kemana ya bang? Apa ke Bangkalan seperti yang direncanakan dengan manis oleh pemerintah..

+No way!..kita adalah majikan hidup kita sendiri. Jangan mau terlalu banyak diatur orang lain yang sok peduli, tetapi di balik itu hatinya penuh ulat belatung!

-Wah mas ini ternyata penuh dendam kesumat..maklum habis digusur ya?

+Kita para kaum rombeng menolak untuk tunduk pada bahasa undang-undang yang dirakit dengan pikiran laba, perasaan lupa dan mental kolonial! Kita akan terus penuhi setiap ruas-ruas jalan yang masih tersisa untuk membeber semua barang yang masih bisa kami jual..apa saja yang masih bisa kami jual, akan kami jual! Asal tidak harga diri kami, apalagi hati kecil kami!

*Waduuh..sebentar..sebentar bang, mentang-mentang kamu mantan aktivis demo terus ngomongnya berapi-api gitu…coba kita dudukkan persoalan ini dengan tenang, dengan kepala dan hati dingin..

+Kepala dan Hati dingin cuma akan membawamu menjadi Tiran!

*Hei bang,..makanya kamu jangan terlalu lama kalau melakukan riset di satu habitat, ya begini ini akibatnya, kamu jadi kehilangan obyektivitas! Bagi ilmuwan, obyektivitas kan penting bang?

+Tahu apa kamu tentang obyektivitas? Obyektivitas itu kumpulan dari subyektivitas! Jadi sumbernya adalah juga subyektif! Subyektif itu pendapat, dan pendapat itu dilindungi oleh undang-undang!

*Maksudku begini bang,..di kawasan Gembong itu kan ada rumah-rumah, lalu karena letaknya di pinggir jalan, ada juga keluarga yang membuka usaha toko..nah selama ini kan usaha mereka tidak bisa maksimal karena tertutupi oleh keberadaan para kaum rombeng yang dengan gaya anarkis membuka lapak-lapak bahkan sampai ada lapak yang semi permanen?

*Kamu pernah nggak mencoba dialog dari hati ke hati dengan penduduk yang bertempat tinggal disana..membayangkan betapa susahnya mereka kalau pas lagi punya hajatan..rumah mereka kehilangan wajah karena terasnya di’duduki’ selama 50 tahun oleh Kolonialisme Bangsa Rombeng?

+Tapi kan itu bukan sebab! Itu kan karena akibat sistem pemerataan ekonomi kita yang carut marut? Keterbukaan informasi yang pincang dan jalur distribusi kemakmuran yang macet!

+Para Kaum rombeng itu adalah warna bangsa yang sejati, ia tak menyerah karena tak bisa sekolah layak hingga menjadi abdi dalem departemen-departemen Pemerintah, ia juga tak menyerah dengan menjadi begal atau begundal-begundal, memlih jalan rombeng adalah salah satu bentuk survival! Dan bagiku tak sekadar itu, memilih jalan rombeng adalah perlawanan terhadap kapitalisme pasar modern, plaza, departemen store atau sistem supermarket yang mengamini kebuasan hedonisme.

*Kamu kok jadi serius begini bang?

+Karena sekarang makin jarang orang yang serius dengan hal-hal yang sudah semestinya dipedulikan..mereka semua cuma main-main..dan yang dipermainkan adalah nasib bahkan nyawa banyak orang..

-Mereka itu siapa mas?

Teman saya geregetan menahan gemeletuk amarahnya yang sudah sampai ke ujung gigi. Ia tak menjawab. Ia cuma menyepak besi penahan sepeda pancalnya dan segera mengayuh sepedanya ke arah utara.

*Oii bang!?..kemana?

+Aku sudah telat! Aku mau jualan di pasar Maling dekat kantor DPRD Jatim!! Nanti kita sambung lagi..

Teman saya berteriak dari atas sepedanya. Roda-roda sepedanya berputar cepat meninggalkan saya dan seorang teman mahasiswa yang masih berusaha mencerna kalimat-kalimatnya.

***