Daftar STASIUN PENYIARAN TVRI se Indonesia

Berikut ini adalah daftar Stasiun TVRI di seluruh Indonesia, lengkap dengan informasi alamatnya.
Baca lebih lanjut

Iklan

Tolak RUU Perfilman, Sineas Geruduk DPR

no  facebook

Sejumlah artis dan pekerja seni mendatangi gedung DPR, Jakarta untuk menyatakan penolakan terhadap RUU Perfilman nasional yang dijadwalkan akan disahkan dalam paripurna DPR siang ini .
Baca lebih lanjut

Daftar alamat kantor cabang PWI Cabang PWI (Persatuan Wartawan Indonesia)

Berikut ini adalah Daftar alamat kantor cabang PWI Cabang PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) di seluruh
Indonesia
Baca lebih lanjut

WARTAWAN DIUSIR SAAT TAHU PDI RAPAT DI PEMKOT

PDIP Rungkut Rakor di Gedung Badan Arsip

PDIP Rungkut Rakor di Gedung Badan Arsip

Aktivitas partai politik (parpol) diam-diam sudah merambah ke kantor pemkot. Seperti yang terjadi kemarin (11/1), gedung kantor badan arsip dan perpustakaan daerah milik pemkot digunakan untuk rapat koordinasi pengurus anak cabang PDIP Rungkut. Baca lebih lanjut

RUNTUHNYA SISTEM STUDIO, MUNCULNYA TELEVISI DAN GERAKAN INDEPENDEN

If Hollywood is like the Mafia, indies are like the Russian mob. Life in the indie world can be nasty, brutish, and short.

(Peter Biskind)

Tahun-tahun perang merupakan tahun-tahun sulit bagi industri film Amerika, terutama sejak tahun 1941 ketika Jepang menyerang Pearl Habour. Hollywod praktis mulai kehilangan pasar internasionalnya. Tetapi selama tahun 1943-1946, Hollywod berusaha pulih dan mendapatkan keuntungan. Hal ini terutama didorong oleh produksi film bersuara yang sudah mapan. Masa-masa pasca-perang, terutama pada tahun 1946, Hollywood mengalami masa keemasannya dengan tingkat kehadiran penonton di bioskop mencapai angka tertinggi. Hal ini didorong oleh pulangnya serdadu-serdadu Amerika Serikat dari medan perang. Serdadu-serdadu bersama keluarganya memadati bioskop-bioskop untuk mencari hiburan.

Di masa pasca-perang, Hollywood juga menyaksikan bangkitnya konsumtivisme, musik modern jazz, nilai-nilai kelas menengah dan berkobarnya Perang Dingin. Konsumtivisme ditandai dengan munculnya makanan cepat saji seperti Jack in the Box tahun 1951, McDonalds yang berkembang sejak 1955, A&W Root Beer Company yang didirikan tahun 1950, dan beroperasinya kartu krediat (Diners Club, pada tahun 1951). Saat itu juga bermunculan bioskop-bioskop drive in dengan sekira 4000 layar di seluruh Amerika Serikat. Total jumlah penonton bioskop di tahun 1946 mencapai 98 juta, jumlah tertinggi yang pernah dicapai industri film Hollywood.

Selama masa perang, film-film tetap diproduksi, tapi kebanyakan film-film propaganda dan film-film perang. Banyak pembuat film diterjunkan sebagai pasukan perang dan juga pegawai di badan-badan pemerintah, baik sebagai pembuat film dokumenter perang, propagandis, maupun pencari dana. Salah satu film yang terkenal di tahun perang adalah Hollywood Canteen (1944) yang berupa film propaganda patriotik tanpa plot. Film ini memang terutama ditujukan untuk menghibur pasukan AS yang sedang berperang.

Di akhir dekade 1940-an, ketika perang mulai berakhir, kondisi Amerika Serikat tidak menentu. Setelah perang, AS mengalami depresi ekonomi dan muncul persoalan-persoalan yang diakibatkan kembalinya para tentara ke rumah mereka di AS. Dunia semakin sinis. Kondisi ekonomi tidak menentu.

Hollywood, yang menggunakan sistem monopoli mengalami krisis eksistensi yang relatif dasyat. Sejak tahun 1930-an, lima studio besar dan 3 studio kecil-menengah telah menguasai Hollywood. Ke lima studio itu adalah Paramount, Warner Bros., Loew’s (MGM), 20th Century Fox, dan RKO. Sementara 3 studio yang lebih kecil adalah Universal, Columbia dan United Artist.

Studio-studio besar ini menguasai industri film Hollywood dan akhirnya dunia dengan sistem memonopoli seluruh bisnis film, mulai dari produksi, distribusi hingga eksebisi (vertical integrated company). Studio besar membuat film di tempat mereka sendiri dan menggunakan pekerja kreatif yang terikat kontrak jangka panjang. Mereka memiliki studio produksi, jaringan bioskop, film-film yang dijual dengan sistem blind booking, blocking-booked dan sistem lain yang tidak memungkinkan pembuat film independent dan kecil untuk mempertunjukkan filmnya. Meski ketiga studio yang lebih kecil tidak memiliki jaringan bioskop, tetapi mereka mendukung atau setidaknya membiarkan praktik monopoli itu terjadi.

Persoalan monopoli ini merupakan salah satu persoalan mendasar dalam industri film Amerika pasca-perang. Selain persoalan cara Hollywood berbisnis, berubahnya kultur menonton orang Amerika merupakan faktor lain yang menjadi tantangan bagi industri tontonan Hollywood.

Sejak tahun 1938, Pengadilan Tertinggi Amerika Serikat sebenarnya sudah memutuskan bahwa studio-studio besar Hollywood telah melakukan sebuah monopoli. Akhirnya, gerakan menentang penggabungan industri-industri besar film atau anti-trust action dimulai.

Dua tahun kemudian, setelah menolak adanya praktik monopoli, studio-studio besar setuju untuk berhenti membeli bioskop, menghilangkan teknik blind booking (meminta bioskop memesan/menyewa film tanpa melihatnya terlebih dahulu), dan membatasi block booking (menjual banyak film kepada bioskop dalam satu paket) hingga 5 film saja perpaketnya. Blocked booking biasanya menjual 20 film perpaket dan hanya sedikit film berkualitas di dalamnya. Sisanya yang merupakan film kelas dua dianggap hanya sebagai tambahan. Hal ini dilakukan studio-studio besar untuk mendorong keuangan mereka.

Namun 4 tahun kemudian (1944), studio-studio besar tetap memegang kendali yang sangat besar dalm industri film AS. Anti-trust action kembali dilakukan untuk melawan The Big Five ini. Pada tanggal 4 Mei 1948, pemerintah Federal Amerika Serikat membuat sebuah keputusan yang sangat fenomenal. Lewat Mahkamah Agung, pemerintah Amerika menghentikan praktik monopoli bisnis Paramount yang praktis menjadi pukulan telak bagi studio-studio lain. Pengadilan memutuskan bahwa studio-studio besar harus melepaskan saham kepemilikan atas infrastruktur eksebisi –jaringan bioskop- mereka. Kepemilikan atas semua lini bisnis dianggap telah melanggar hukum Anti-Trust yang berlaku di negara tersebut.

Sejak itu, studio-studio besar mulai berkonsentrasi di lini produksi dan distribusi, serta meninggalkan lini eksebisinya. Keputusan ini tidak hanya berlaku untuk Paramount, tetapi juga studio lain, termasuk RKO yang pemiliknya, Howard Hughes menjadi salah satu ‘patron’ dalam film legendaries, Citizen Kane.

Keputusan studio besar untuk melepaskan kepemilikan atas jaringan bioskop merupakan akhir dari masa emas Hollywood. United Artists mungkin merupakan satu-satunya studio yang mampu menyesuaikan diri dengan situasi baru ini. Tetapi sistem studio praktis lumpuh setelah tahun 1954.

Setelah monopoli mereka berakhir, studio harus mendapatkan box-office tidak dari kekuatan monopolinya, tetapi dari kualitas film itu sendiri. Film-film mulai dijual satu demi satu (per film) dengan sistem per teater. Di lini pemasaran ini jelas-jelas mengguncang keberadaan studio. Dengan kondisi seperti ini, mereka semakin selektif dalam memilih cerita film yang akan diproduksi. Hasilnya, produksi film mereka juga menurun.

Krisis dan berakhirnya sistem studio ini memiliki dampak positif pada pembuat film kecil dan independent. Bioskop independent yang selama ini hanya bisa memutar film-film kelas dua, akhirnya bisa memiliki akses yang lebih luas pada film. Di ranah studio sendiri, keterbatasan akses pada jaringan bioskop juga membuat banyak studio besar rontok karena tidak bisa mempertahankan mutu produknya.

Hal ini mendorong produksi independent. Banyak bintang film dan sutradara memulai membuat perusahaan produksi mereka sendiri. Di level industri, situasi ini mengubah sedikit struktur industri Hollywood, terutama di ranah produksi dan eksebisi. Tetapi di wilayah distribusi, perusahaan-perusahaan atau studio besar tetap memegang peranan yang sangat penting.

Televisi

Persoalan kedua yang melanda industri film pasca-perang adalah berubahnya kebiasaan/kultur menonton di Amerika Serikat. Fenomena ini terdorong, terutama karena hadirnya televisi. Pada tahun 1954, 32 juta rumah tangga memiliki televisi di rumah mereka. Tetapi pada akhir dekade, 90% rumah tangga di Amerika Serikat telah memiliki televisi. Televisi sebagai perangkat teknis merupakan hasil evolusi teknis yang panjang. Televisi dibangun dengan penemuan fotokonduktivitas oleh Willoughby Smith pada tahun 1873. Penemuan ini diikuti oleh penemuan telectroscope dan penemuan “scanning disk” oleh Paul Nipkow pada 1884.

Pemograman TV elektronik dimulai oleh BBC dari Istana Alexandra di London pada tahun 1936. pemograman ini dilakukan oleh Marconi. Di Amerika Serikat, ada 4 orang yang dianggap memiliki kontribusi besar pada penemuan televisi, yaitu Philo T. Farnsworth, Allen B. DuMont, Charles Jenkins, dan Vladimir K. Zworykin.

Philo T. Farnsworth adalah insinyur Amerika yang menemukan bahwa televisi akan bekerja dengan baik jika gambar-gambarnya ditransfer bukan dari piranti mekanik, tapi dari aliran elektron. Pada tahun 1926, dia mencoba membuat sebuah pesawat penerima (receiver) TV di apartemennya di Hollywood, California. Percobaan ini bisa dikatakan gagal. Farnsworth lalu mengembangkan salah satu elemen kamera TV yang disebut dissector tube. Alat ini bisa digunakan sebagai jalan lewatnya gelombang elektron yang menampilkan informasi di televisi.

Penemuan ini disempurnakan oleh penemuan-penemuan berikutnya, seperti penemuan John Logie Baird,Charles Francis Jenkins, Frank Conrad, Frank Gray dan Herbert E. Ives. RCA merupakan pihak yang paling progresif yang menggunakan penemuan teknik televisi ini menjadi asset perusahaan dan menjadikan televisi sebagai media publik. Mereka adalah perusahaan yang secara resmi meluncurkan ‘televisi’ di Amerika Serikat dengan menyiarkan bagian dari New York World’s Fair di tahun 1939, termasuk merekam pidato Presiden Franklin Roosevelt. Tetapi jauh-jauh hari, telah ada siaran drama yang disiarkan televisi Amerika. Drama televisi The Queen’s Messenger merupakan drama televisi pertama yang diputar di televisi Amerika. Film ini ditransmisikan pada tahun 1928 dari stasiun General Electric di Schenectady, NY.

Pesawat penerima TV mulanya memiliki layar 13 cm (5 inchi) dan berwarna hitam-putih. Harganya pun masih mahal, hampir separuh harga mobil. Pada saat perang dunia kedua (1939-1945), perkembangan televisi bisa dibilang berhenti. Tetapi setelah perang, ada 70 stasiun televisi yang langsung mengudara di Amerika Serikat. Saat itu jumlah channel tidak mencukupi permintaan akan stasiun TV baru. Maka muncullah saluran televisi UHF (frekuensi ultra tinggi, 14-83 channels) pada tahun 1952. Namun muncul masalah baru. Televisi penerima tidak bisa menerima saluran UHF dan VHF dalam satu TV. Pasar menyediakan TV yang dapat menyediakan kedua-duanya namun penonton mulai menyadari UHF sulit didengarkan ketimbang VHF selain itu butuh banyak transmitter untuk sampai ke daerah yang dituju. UHF mengalami kerugian besar sehingga dijual seharga US$1. Pada tahun 1950, Community Antenna Television menemukan TV kabel di Philadelphia. TV kabel menyediakan stasiun TV dengan program-program khusus, juga radio FM, film dan acara lokal.

Pada tahun 1951, stasiun televisi NBC menjadi jaringan TV nasional pertama. Pada Maret 1953, ajang Academy Awards/Oscar disiarkan pertama kali di televisi NBC dan mendapatkan jumlah penonton terbanyak selama 5 tahun

Kehadiran televisi dengan sendirinya mengambil tingkat kehadiran penonton di bioskop. Banyak bioskop tutup karena tidak bisa menarik penonton untuk datang. Pada akhir tahun 1950-an, 4000 bioskop menggulung layarnya. Jumlah penonton menurun dari 98 juta pada tahun 1946 menjadi 47 juta pada tahun 1957.

Komposisi demografi yang tersusun oleh anak-anak kecil memungkinkan keluarga lebih memilih menonton televisi di rumah daripada keluar menonton film di bioskop. Hal ini juga mendorong penonton lebih selektif dalam memilih film untuk ditonton di bioskop. Perubahan ini membuat produser pun lebih berhati-hati dalam memproduksi film. Film mengalami penurunan jumlah penonton sejak televisi menjadi alternatif hiburan baru. Fenomena ini membuat tingkat keuntungan industri film menurun drastis sebesar 74% pada dekade 1947-1957.

Studio film banyak yang menyesuaikan diri dengan memproduksi film untuk televisi. Hal ini didorong oleh berdirinya berbagai stasiun televisi yang membutuhkan program-program sebagai pengisinya. Pada tahun 1949, Columbia membuka lini televisinya, Screen Gems, untuk memproduksi film-film televisi (serial). Pada tahun 1954, Disney menjalin kontrak dengan stasiun televisi ABC untuk memproduksi seri Disneyland. Pada tahun 1955-1956, ABC TV menyiarkan program televisi dari Warner Brothers dan merupakan penanda awal dari terjunnya studio dalam bisnis televisi. Setelah Warner Brothers, 20th Century Fox membuat program untuk CBS dan MGM untuk ABC. Di pertengahan dan akhir 1950-an Warner Bros memproduksi lebih banyak serial TV, antara lain Cheyenne (1955-1963 dengan bintang Clint Walker), Maverick (1957-1962, dengan bintang with James Garner) and 77 Sunset Strip (1958-1964). Sementara film fiksi panjang pertama yang disiarkan televisi adalah film Wizard of Oz (1939) yang disiarkan pada 3 November 1956.

Bintang-bintang yang muncul di televisi kemudian juga bermain film serta sebaliknya. Pada awal tahun 1950-an, bintang film cowboy Gene Autry merupakan bintang film pertama yang terjun ke layar gelas. Film berwarna Dragnet (1954) merupakan film pertama yang diadaptasi dari program televisi.

Peluang baru ini membuat studio tetap berjaya dengan program televisinya dengan mengalihkan produksi film untuk layar lebar menjadi produksi program televisi. Untuk film-film layar lebar, studio dan pembuat film mulai berkonsentrasi pada segmen penonton yang lebih berpendidikan, dengan kelas sosial lebih tinggi dan berusia di bawah 30 tahun (kaum muda). Di awal 1960, komposisi penonton film di Amerika Serikat sendiri berubah dengan 75% penonton merupakan kelas menengah atas berpendidikan dengan usia muda. Berikut tabel data penurunan jumlah tiket bioskop dari tahun ke tahun.

Kehadiran televisi sebenarnya juga memiliki dampak positif, yakni menjadi ajang latihan dan pembuktian bagi para sutradara film layar lebar. Sutradara Arthur Penn yang membuat Bonnie and Clyde (1967), Robert Mulligan dengan To Kill a Mockingbird (1962) dan John Frankenheimer lewat The Manchurian Candidate (1962) merupakan sutradara-sutradara yang mengawali debut karirnya di televisi.

Perang Hollywood Melawan Televisi: Teknik

Kehadiran televisi mendorong (atau lebih tepatnya memaksa) orang-orang yang berada di industri perfilman untuk memperbaiki diri dan membuat inovasi-inovasi baru. Film-film mulai diproduksi dengan warna, dengan kualitas teknis yang lebih bagus. Mereka menggunakan Technicolor untuk menampilkan film berwarna sehingga mereka bisa membedakan dirinya dengan televisi. Di awal 1950-an, produksi film berwarna meningkat dari 20% menjadi 50%.

Monopoli Technicolor di tataran teknik pewarnaan membuat para produser mengeluh karena studio besar memiliki akses yang lebih besar ke Technicolor. Pengadilan AS setuju dan pada tahun 1950, Technicolor harus dijual dengan lebih terbuka. Di tahun yang sama, Eastman memperkenalkan film berwarna monopack (single strip). Film Eastman bisa digunakan di berbagai kamera dan mudah dikembangkan. Pada tahun 1967 ketika televisi warna sudah biasa, Hollywood juga telah 100% menggunakan teknologi warna. Sebagai tambahan informasi, studio-studio Hollywood waktu itu telah menjadikan televisi sebagai sumber keuangan atas penjualan film-film televisi mereka dan televisi pun meminta studio untuk memproduksi film-film warna untuk siaran mereka.

Di industri eksebisi, dikenalkan sistem cinemascope (dan atau Cinerama). Cinemascope diperkenalkan oleh 20th Century Fox pada tahun 1953 dalam pemutaran film The Robe. Sistem ini meningkatkan mutu tontonan film. Di tataran tata suara, Hollywood menggunakan perekaman magnetik setelah selama bertahun-tahun menggunakan sistem perekaman optis.

Secara garis besar, penemuan-penemuan teknis di industri eksebisi yang dilakukan industri film saat itu menyangkut:
1. Cinerama (1952-1962)

Layar besar Cinerama dipertunjukkan pertama kali oleh Paramount pada tahun 1952. Sistem ini menggunakan 3 kamera, 3 proyektor, interlocking dan layar dengan kemiringan 146°, dengan 4 jalur suara. Setting seperti ini membuat penonton berada di tengah peristiwa dalam film.

Film yang diputar pertama dengan sistem Cinerama adalah This is Cinerama (1952), sebuah film perjalanan, dengan adegan rollercoaster. Film ini diputar di bioskop di New York selama 2 tahun dengan harga yang luar biasa mahal dan mengumpulkan pendapatan hingga US$5 juta. Meski pernah sangat populer, sistem ini kemudian ditinggalkan karena peralatannya yang banyak dan besar serta harganya yang tidak ekonomis. Film terakhir yang diputar dengan sistem ini adalah film How the West Was Won (1962)

Pada tahun 1960-an, MGM dan UA juga memproduksi film Khartoum (1966), It’s a Mad, Mad, Mad, Mad World (1965), and The Greatest Story Ever Told (1965) dalam versi 70 mm, dengan sistem putar Super Cinerama atau Cinerama 70mm.

2. Film 3-D (3 dimensi).
Pada tahun yang sama dengan dirilisnya sistem Cinerama (1952), industri film mulai membuat film 3-D (3 dimensi) untuk menarik kembali para penonton untuk datang ke bioskop. Meski demikian, trik ini tidak berhasil karena kacamata 3-D yang dipakai untuk menonton kadang jelek, tidak gaya, dan membuat gambar terlihat blur (tidak jelas).

Film yang dibuat khusus untuk 3-D antara lain film United Artist berjudul Bwana Devil (1952), House of Wax (1953), Kiss Me Kate (1953), Son of Cochise (1954), It Came From Outer Space (1953) dan Dial M For Murder (1954))

3. Aroma-Rama dan Smell-O-Vision
Cara lain untuk menarik minat penonton adalah dengan membangkitkan bau/aroma lewat AC yang disebut Aroma-Rama. Aroma-Rama dipopulerkan oleh film Behind the Great Wall (1959), karya sutradara Carlo Lizzani.

Sementara Smell-O-Vision dikembangkan oleh seorang kelahiran Swiss, Hans Laube. Sistem ini menggunakan 30 aroma yang berbeda yang disuntikkan ke kursi dan akan mengeluarkan reaksi yang berbeda sesuai dengan soundtrack film.

4. CinemaScope
Ketika Cinerama dan 3-D mati, cinemascope yang diperkenalkan oleh 20th Century Fox’ justru berkembang pesat. CinemaScope memang lebih murah dan lebih mudah dioperasikan karena menggunakn lensa anamorphic untuk menciptakan efek layar lebar. Rasio aspek kebanyakan film Hollywood sebelum tahun 1950 adalah 4:3 (1.33:1), hampir sama dengan ukuran televisi berukuran besar. Rasio aspek (lebar ke tinggi) cinemascope adalah 2.35:1. Lensa khusus yang digunakan adalah lensa buatan seorang Perancis bernama Henri Chretian. Sistem cinemascope menggunakan film 35 mm yang sudah biasa digunakan sehingga banyak studio yang kemudian mengadopsinya. Film pertama yang menggunakan sistem ini adalah The Robe (1953) buatan sutradara Henry Koster di Roxy Theater, New York. Sistem cinemascope ini bertahan hingga sekarang.

Format layar lebar lainnya.
Selain format-format umum yang dikenal diatas, ada beberapa teknik/format yang populer di tahun 1950-an, antara lain:

Vista Vision oleh Paramount (digunakan dalam film Alfred Hitchcock To Catch a Thief (1955), The Man Who Knew Too Much (1956), Vertigo (1958), and North by Northwest (1959), dan film DeMille, The Ten Commandments (1956))
– SuperScope oleh RKO
– MGM’s Camera 65 (yang juga disebut Super Panavision-70 dan Ultra Panavision-70)
– Panavision
– TechniScope
– Todd-AO 70 mm .

Agar bisa bersaing dengan industri film Amerika, industri film di luar Amerika membuat sistem mereka sendiri, seperti Sovscope (Uni Sovyet), Dyaliscope (Perancis), Techniscope (Technicolor Italia), Shawscope (Hongkong), dan TohoScope (Jepang).

Rasio gambar yang lebih bagus membutuhkan layar yang lebih lebar, proyektor yang lebih tajam, dan modifikasi dalam desain bioskop. Selama awal tahun 1950-an, studio Hollywood mengubah sistem perekamannya dari perekaman optis yang dipakai sejak 1920-an ke perekaman magnetik yang menggunakan audio ¼ inchi. Inovasi ini memungkinkan pelebaran presentasi/proyeksi layar lebarnya dengan sistem suara multisaluran (multiple channel). Cinerama menggunakan 6 saluran, sementara cinemascope menggunakan hanya 4 saluran.

Munculnya Film Independen

Menurunnya produksi film oleh studio membuat produksi independent lebih menonjol. Di awal tahun 1959, hampir 70% film fiksi yang diproduksi merupakan film independent. Studio sendiri kemudian lebih berkonsentrasi membuat film televisi. Pembuat film independent ini tidak hanya mendobrak sistem industri Hollywood dengan sistem kerjanya yang lebih kecil dan fleksibel, tetapi mereka juga memproduksi film dengan standar estetika yang berbeda.

Bila pada masa studio, film yang diproduksi kebanyakan film untuk keluarga, maka film-film independent lebih menampilkan tema-tema realis yang lebih kompleks, individual dan ‘berbeda’ (cutting edge) dengan segmentasi penonton lebih beragam (dewasa, remaja, anak-anak, dll). Dalam periode perang, film diidealisasikan dengan figur-figur pasangan ideal, sementara kaum muda menginginkan hal-hal baru yang lebih seru dan memberontak. Hollywood menanggapi keingian anak muda ini dengan film The Silver Chalice (1954) yang menampilkan bintang muda James Dean. Generasi bintang baru hadir. Selain James Dean, muncul Paul Newman, Robert deNiro, Marilyn Monroe.

Era 1950-an ditandai dengan bangkitnya musik rock and roll dan munculnya generasi baru anak muda/remaja. Selera anak-anak muda ini sangat berbeda dengan selera generasi sebelumnya yang lebih menyukai film-film nostalgia. Film yang memenuhi selera baru ini di antaranya Rock around the Clock (1956) yang menampilkan seorang dj bernama Alan Freed dan grup musik Bill Haley and His Comets.

Film musikal berjaya. MGM via Arthur Freed menciptakan film-film dengan warna yang bagus dan desain produksi yang mewah. Film Irving Berlin, Annie Get Your Gun (1950) sempat menjadi hits di awal-awal dekade. Film ini memperkenalkan Betty Hutton sebagai Annie Oakley. Film ini juga memperkenalkan lagu-lagu yang kelak akan menjadi jargon di dunia hiburan Amerika, misalnya “There’s No Business Like Show Business” dan “Anything You Can Do, I Can Do Better” . Film klasik musikal yang terkenal juga diproduksi di tahun ini, yakni film Singin’ In The Rain (1952), yang menampilkan bintang Gene Kelly menari di tengah guyuran hujan. Sementara bintang legendaries Doris Day bermain di Calamity Jane (1953), bersama Howard Keel sebagai Wild Bill Hickok. Lagu film ini “Secret Love” mendapatkan penghargaan sebagai lagu terbaik di ajang Oscar.

Sutradara Vincente Minnelli juga membuat film-film musical di antaranya An American in Paris (1951), yang menggunakan “jazz ballet” yang dikoreografi oleh Gene Kelly. Selain itu, Minnelli juga memproduksi The Band Wagon (1953), Brigadoon (1954) dan Gigi (1958) yang memenangkan penghargaan gambar dan sutradara terbaik di Oscar.
Fred Astaire berkarya menghasilkan Daddy Long Legs (1955) (dengan Leslie Caron), dan Funny Face (1957) (dengan Audrey Hepburn), dan Silk Stockings (1957) (lagi-lagi dengan Cyd Charisse).

Bandstand menjadi program pertama remaja di televisi WFIL (sekarang WPVI), Channel 6 di Philadelphia awal Oktober 1952. Kehadiran musik rock and roll ini bersamaan dengan kemunculan bintang film tak berbakat Jayne Mansfield dalam film satir komedi The Girl Can’t Help It (1956). Mansfield menjadi ikon seks sampai kemudian digantikan Marilyn Monroe yang muncul sejak tahun 1953. Di akhir tahun 1950-an, pangsa pasar kaum muda di AS saja mencapai nilai US $10 miliar pertahun.

Beberapa genre menguasai masa-masa awal sistem independent Hollywood, yakni di sekitar tahun 1953. Genre-genre itu antara lain horror murahan, science fiction dan film erotik.

Film-film science fiction, horor dan film fantasi yang berkembang karena paranoia Perang Dingin, berkembang dan mendominasi perolehan box office di pertengahan 1950-an. Film-film itu sering disebut film monster karena banyaknya monster yang ada dalam film-film tersebut. Monster-monster ini merupakan pengganti dari sosok Komunis yang menjadi ketakutan Amerika Serikat waktu itu. George Pal merupakan pionir film-film fantasi lewat filmnya Destination Moon (1950). Film ini memenangkan Oscar untuk special effect.

Film lain yang juga populer adalah The Day the Earth Stood Still (1951) karya sutradara Robert Wise. Film ini menampilkan alien yang sangat aneh bernama Klaatu dengan asistennya yang serupa robot bernama Gort. Rudolph Mate dan produser George Pal membuat film When Worlds Collide (1951) menampilkan special effect. Film ini bercerita tentang pertarungan melawan kepunahan bumi dan pertandingan melawan waktu untuk menyelamatkannya. George Pal juga memproduseri film karya Byron Haskin berjudul The War of the Worlds (1953) yang merupakan adaptasi dari buku H.G. Wells yang terbit di tahun 1898. Film ini bercerita tentang invasi kaum Martian yang kemudian dikalahkan oleh kuman bakteri. Kisah ini juga pernah disiarkan di radio pada tahun 1938 oleh Orson Welles dan menggegerkan seluruh kota karena pendengar menganggap hal itu nyata.

Sutradara William Cameron Menzies membuat Invaders From Mars (1953), berkisah tentang seorang anak laki-laki berumur 12 tahun (Jimmy Hunt) yang melihat orang-orang tertelan bumi ( di mana orang-orang Martian membangun markas besarnya). Earth vs. The Flying Saucers (1956) menggambarkan penghancuran monument Washington Monument dan Capitol Building oleh pesawat luar angkasa. Film ini menggunakan special effect yang dirancang oleh Ray Harryhausen.

Film sci-fi/monster klasik The Thing (From Another World) (1951) yang disutradarai Christian Nyby menampilkan seorang makhluk aneh (James Arness) dari luar angkasa yang mendarat ke sebuah markas tentara di Antartika, Kutub Utara. It Came From Outer Space (1953) merupakan karya sutradara Jack Arnold yang diterima secara baik, seperti juga film Creature from the Black Lagoon (1954) dan The Incredible Shrinking Man (1957). Film ini bercerita tentang kabut radioaktif yang menyebabkan Grant Williams mengecil dan berubah menjadi makhluk cebol.

Film pertama tentang munculnya monster raksasa akibat tes bom atom adalah Beast from 20,000 Fathoms (1953). Film sci-fi thriller Them! (1954) menggambarkan mutan semut raksasa yang bermutasi karena tes bom atom dan radiasi. Semut ini diceritakan mengancam kota Los Angeles. Film klasik sci-fi yang penuh dengan unsur melodrama dan sangat legendaris adalah film Don Siegel berjudul Invasion of the Body Snatchers (1956). Film ini berkisah tentang ketakutan terhadap makhluk luar angkasa (sebuah simbol ketakutan pada Komunisme) yang hendak menggantikan manusia. Film ini dibuat kembali dan diadaptasi oleh Phil Kaufman pada tahun 1978 dan tahun 1994.

Studio besar MGM memproduksi sebuah film sci-fi yang dibuat berdasarkan drama The Tempest karya Shakespeare. Film itu berjudul Forbidden Planet (1956) yang disutradarai Fred Wilcox. Film ini menggunakan standar produksi yang sangat tinggi dan menghasilkan ikon film sci-fi terkenal, yakni Robby the Robot. Film ini sendiri bercerita tentang kehidupan di planet Altair-4, di mana peradaban suku Krell hendak dihancurkan oleh mahkluk dari Id. Genre sci-fi horor horror muncul di tahun 1958 dengan film The Fly yang bercerita tentang eksperimen teleportasi yang gagal dan menghasilkan makhluk setengah manusia.

Film horor yang dibuat tahun itu antara lain film-film Edward D. Wood (Glen or Glenda, White Zombie), I was a Teenage Frankenstein (1957). Edward D. Wood juga membuat film science fiction norak berjudul Plan No. 9 to Outer Space. Sutradara lain yang bekerja di masa ini adalah Roger Corman yang memproduksi The Monster from the Ocean Floor (1954), A Bucket of Blood, Little Shop of Horrors dan Creature from the Haunted Sea (1960).

Vincent Price membuat film House on Haunted Hill (1958) yang menggambarkan rumah berhantu dengan lelehan asam di lantai dasar. Film ini dibuat kembali 40 tahun kemudian oleh sutradara William Malone dengan judul yang sama, House on Haunted Hill (1999). Film ini menggunakan teknologi “Emergo” 3-D yang menampilkan tengkorak yang bisa menyala di saat gelap untuk menakut-nakuti penonton.

Price juga membuat film The Tingler (1959), yang menggunakan efek Percepto, yakni memasang semacam motor elektrik di bawah kursi penonton untuk menakuti mereka ketika Vincent Price tampil di layar atau ketika teriakan mengerikan tampil

Untuk genre film erotik, Herschell Gordon Lewis memproduksi Blood Feast (1963) dan 2000 Maniacs (1964). Film-film ini mulai menampilkan tubuh-tubuh nudis (telanjang) dan kekerasan yang tanpa ampun. Sebuah perubahan revolusioner jika ditilik dari masa-masa sebelumnya yang berkonsentrasi pada film-film keluarga dan musikal.

Hal ini didorong oleh film-film keluarga yang pindah medium ke televisi dan berubahnya sistem sosial dan budaya Amerika.. Dengan berubahnya nilai moralitas Amerika, film juga mulai berani menampilkan tema-tema ‘dewasa’. Dengan demikian, film menjadi media ekspresi yang lebih bebas. Film Alfred Hitchcock, Strangers on a Train (1951) menyarukan tema homoseksualitas, sementara Rear Window (1954) menampilkan adegan voyeristik. Film produksi Columbia Pictures, From Here To Eternity (1953) dipertanyakan oleh banyak pihak karena adegan bercinta di pantai yang dilakukan oleh bintangnya, Burt Lancaster dan Deborah Kerr.

Gerakan independent juga memunculkan film-film yang memiliki ‘sense’ politik kuat. Contohnya, film Salf of the Earth (1954) karya Herbert Biberman, Little Fugitive (1953) karya Morris Engel. Produser dan sutradara independent Stanley Kramer membuat salah satu film yang kelak akan menjadi legenda, High Noon (1952), sebuah film yang sangat anti kebijakan McCarthy yang menyingkirkan kru film yang dicurigai komunis. Film dia yang lain adalah Champion (1949), yang menampilkan bintang Kirk Douglas, film Home of the Brave (1949), sebuah film yang luar biasa tentang prasangka ras dalam Perang Dunia Kedua. Film The Men (1950) menandai debut Marlon Brando sebagai seorang veteran perang, film Death of a Salesman (1951), adaptasi dari drama Arthur Miller, dan The Wild One (1954), yang sekali lagi menampilkan Marlon Brando sebagai seorang anak muda ugal-ugalan. Film The Defiant Ones (1958) menampilkan aktor Sidney Poitier yang merupakan aktor kulit hitam pertama yang muncul dalam film Hollywood dalam karakter yang tidak stereotip. Film ini membuat Stanley Kramer dinominasikan sebagai sutradara terbaik di Oscar.

Dalam film-film selanjutnya, Kramer tetap bersuara kritis dengan film Judgment at Nuremberg (1961) yang mengungkap peradilan gembong-gembong NAZI. Film selnjutnya Guess Who’s Coming to Dinner (1967) yang bercerita tentang hubungan antar-ras di dalam perkawinan.

Sutradara Elia Kazan meluncurkan A Face in the Crowd (1957) yang mengungkapkan tentang bagaimana media memaniplulasi publik. Sementara film Will Success Spoil Rock Hunter? (1954) merupakan drama satir atas moral tahun 1950-an.

Perkembangan teknologi dengan ditemukannya kamera yang lebih kecil dan ringan mendorong perkembangan genre dokumenter dan campurannya (dokudrama, dlsb). Penemuan kamera ini mendorong orang untuk lebih banyak merekam ‘realita’ atau apa yang terjadi di masyarakat.

Seperti masa sebelumnya, film musikal tetap memiliki penonton fanatik. Tetapi era setelah perang menandai dirinya dengan munculnya jenis musik anak muda yang memberontak seperti rock and roll. Perkembangan ini berpengaruh ke dunia film dengan munculnya film Love Me Tender (1956), film yang menampilkan rockstar terkenal, Elvis Presley.

Elvis Presley meluncurkan album pertamanya berjudul That’s All Right Mama pada Juli, 1954 di Memphis. Album itu ditandatangani di bawah label Sun Records. Hit lagunya, Heartbreak Hotel, ia nyanyikan saat tampil pertama di TV, yakni di acara Dorsey’s Stage Show di stasiun TV CBS pada Januari 1956. Penampilannya mulai banyak digemari saat di Milton Berle Show dan di Ed Sullivan Show mulai dari September 1956 hingga Januari 1957.

Setelah tampil di film debutnya, Love Me Tender (1956) produksi Paramount, ia kemudian menjadi bintang film Jailhouse Rock (1957) yang merupakan filmnya yang paling terkenal. Ia juga tampil di Loving You (1957) yang menggambarkan Elvis beradegan ciuman untuk pertama kali. Ia juga terlibat dalam film King Creole (1958) karya Michael Curtiz. Film ini berkisah tentang seorang remaja pemberontak dari New Orlean di akhir dekade 1950-an. Di sini, ia dianggap menampilkan aktingnya yag paling cemerlang. Setelah itu, ia juga membintangi G.I. Blues (1960), lalu film western Don Siegel berjudul Flaming Star (1960), film melodrama Wild in the Country (1961), Blue Hawaii (1961), Kid Galahad (1962), dan Viva Las Vegas (1964)). Dia meninggal di tahun 1977 karena penyalahgunaan obat-obatan.

Perkembangan teknis dengan adanya cinemascope dan tata suara yang lebih baik menghadirkan kembali film-film adaptasi dan film-film kolosal. Film Samson and Delilah (1949) karya Cecil B. DeMille, The Ten Commandments (1956), The Fall of Roman Empire (1964) menjadi hits di masanya. Film-film kolosal ini dibuat dengan durasi lebih dari 3 jam dengan kisah epik dan musik yang ekstravagansa.

Epik-epik yang diambil biasanya dari Yunani, Roma atau kisah di Alkitab. Tren film epik dimulai oleh film The Robe (1953). Sebelum memproduksi Samson and Dellilah, Cecil B. DeMille memproduksi film mahal The Greatest Show on Earth pada tahun 1952.

Dua tahun setelahnya Michael Curtiz mengambil kisah Alkitab untuk film The Egyptian (1954) dan Desiree (1954) yang menampilkan Marlon Brando sebagai Napoleon. Produser/sutradara Howard Hawks memproduksi film Land of the Pharaohs (1955). Film ini menggunakan William Faulkner, seorang sastrawan terkenal sebagai penulis skrip sementara bintangnya adalah Joan Collins sebagai ratu Mesir yang jahat. Film ini melibatkan ribuan figuran. Film petualangan eksotik King Solomon’s Mines (1950) diadaptasi dari novel karya H.R. Haggard, dan dibintangi Stewart Granger sebagai pemburu intan dan Deborah Kerr di rimba Afrika. Dua film yang didasarkan dari novel karya Jules Verne dan dibintangi oleh James Mason, yakni 20,000 Leagues Under the Sea (1954) produksi Disney, dan Journey to the Center of the Earth (1959).

3 epik monumental di tahun 1956 antara lain:

(1) DeMille membuat kembali film bisunya yang pernah diproduksi di tahun 1923. Ia menggunakan tiruan Laut Merah dan menggunakan 300,000 galon air. Film ini berjudul The Ten Commandments (1956).

(2) George Stevens membuat film Giant (1956) yang berkisah tentang keluarga kaya Texas dengan bintang James Dean, Rock Hudson, dan Elizabeth Taylor.

(3) Epik ketiga, Mike Todd mengadaptasi novel Jules Verne dan membuatnya epik perjalanan besar berjudul Around the World in 80 Days (1956). Film ini konon merupakan proyek film terbesar yang pernah dibuat Hollywood. Film ini memenangkan Academy Awards, untuk gambar terbaik.

Selain itu, beredar pula film-film lain macam War and Peace (1956) yang dibintangi Audrey Hepburn dan Henry Fonda, film El Cid (1961) karya Anthony Mann dan dibintangi Charlton Heston dan Sophia Loren. Film The Bridge On the River Kwai (1957) merupakan film David Lean yang berbudget besar dan spektakuler. Kirk Douglas membintangi film epik tradisional The Vikings (1958). William Wyler menyutradarai film Ben-Hur (1959) yang mendapatkan banyak penghargaan. Film ini berformat 65 mm dan memenangkan 11 Oscar untuk 12 nominasi, penghargaan paling banyak yang pernah didapat film Hollywood. Dengan budget US $15 juta, Ben Hur menjadi film termahal yang pernah dibuat pada dekade itu. Stanley Kubrick muncul dengan film epik Roma, Spartacus (1960) yang juga dibintangi Kirk Douglas yang berperan sebagai gladiator.

Tahun 1950-an, Hollywood menampilkan 3 bintang mudanya yang cemerlang dan menjadi legenda. Mereka digambarkan agak menakutkan atau sensual, sangat ekspresif dan pemberontak. Mereka adalah Marlon Brando, James Dean dan Marilyn Moenroe.

Marlon Brando lahir pada tahun 1924 dan belajar akting di studio Lee Strasberg di New York. Gaya aktingnya yang mentah dan realistik sangat diilhami oleh gaya akting Stella Adler. Gaya aktingnya akan menjadi blueprint bagi gaya akting aktor-aktor Hollywood selanjutnya. Brando membintangi pertunjukan A Streetcar Named Desire di panggung Broadway (1947) kemudian membintangi filmnya di tahun 1951 yang mendapat nominasi Oscar.

Dalam film The Wild One (1954), ia menjadi karakter yang arogan, memberontak dan sensitif. Ia menjadi ketua gang motor yang memakai kaos oblong dan jaket kulit.

Bintang film yang tak kalah populernya waktu itu adalah James Dean. Dilahirkan di tahun 1932 dan meninggal dalam kecelakaan 23 tahun kemudian, ia hanya membintangi 3 film. Film pertamanya adalah film East of Eden karya Elia Kazan yang diadaptasi dari novel John Steinbeck. Setelah itu ia membintangi film yang sangat fenomenal dan legendaris, Rebel Without A Cause (1955) karya sutradara Nicholas Ray. Di film ini James Dean bermain sebagai karakter yang melodramatik dan sensitif. Dean kemudian membintangi film terakhirnya yang dibuat oleh George Steven berjudul Giant yang dirilis setahun setelah kematiannya, yakni pada tahun 1956.

Marilyn Monroe dilahirkan sebagai Norma Jean Baker di tahun 1926. Debut karirnya dimulai dari Twentieth Century Fox di pertengahan 1946 dan muncul di film The Shocking Miss Pilgrim (1947), Scudda-Hoo! Scudda-Hay! (1948) dan Dangerous Years (1947). Setelah pindah ke Columbia Pictures untuk sesaat, ia kembali ke 20th Century untuk membintangi Don’t Bother to Knock (1952). Pada Desember 1953, ia muncul sebagai model sampul dan tengah majalah Playboy. Penampilannya di majalah ini menjadikannya populer. Setelah tahun 1953, ia terlibat dalam banyak film seperti Niagara (1953), Gentlemen Prefer Blondes (1953), dan How to Marry a Millionaire (1953).

Sutradara Billy Wilder menjadikannya bintang di film The Seven Year Itch (1955) dan Some Like It Hot (1959). Di film Some Like It Hot, Moenroe bekerja bersama bintang Jack Lemmon dan Tony Curtis. Moenroe memenangkan penghargaan Golden Globe sebagai aktris komedi terbaik.

Setelah itu deretan filmnya semakin bertambah, antara lain Bus Stop (1956), The Prince and the Showgirl (1957), Let’s Make Love (1960), The Misfits (1961), Something’s Got To Give (1962), dan My Favorite Wife (1940). Hingga sekarang, Marilyn tetaplah dianggap ikon terbesar dalam sejarah film Hollywood.

Selain genre dan bintang-bintang yang muncul bak meteor, gerakan independent juga menghadirkan salah satu sutradara paling ‘ganjil’ di Hollywood, yakni John Casavettes. Meski filmnya tidak selalu laris, tapi dia memiliki standar estetika sendiri yang kemudian ditiru oleh banyak pembuat film independent kontemporer. Casavettes seperti pembuat-pembuat film lain pada masanya merupakan generasi teater. Hal ini berpengaruh di tingkatan akting yang banyak menggunakan pendekatan Stanislavsky.

Sistem akting Stanislavski merupakan gaya akting yang diperkenalkan oleh Konstantin Stanislavski, seorang aktor Rusia dan sutradara di Moscow Art Theatre (didirikan 1897). Sistem ini berfokus pada bagaimana manusia mengontrol aspek paling tak terkontrol dari tingkah lakunya: emosi dan inspirasi artistik.

Stanislavski belajar dari berbagai aktor besar Rusia. Ia kemudian berusaha menyusun pendekatan baru dalam akting. Konstantin Stanislavski percaya bahwa: seorang aktor harus mendekati peran mereka selangsung mungkin dan melihat apakah peran yang dimainkannya hidup. Jadi seorang aktor membutuhkan teknik untuk bisa berakting. Stanislavski merupakan orang pertama yang mempertanyakan dan mempersoalkan masalah psikologis dalam akting. Oleh karena itu, gaya akting seperti Stanislavski ini menghasilkan karakter/akting realistik.

Gaya akting Stanislavsky diadopsi oleh orang-orang Brodway dan kemudian Hollywood sejak tahun 1930-an dan 1940-an. Aktor dan sutradara yang memakai gaya akting ini antara lain Elia Kazan, Robert Lewis, dll.

Kemunculan John Casavettes ini akan disusul oleh generasi sutradara ‘auteur’ di tahun 1960-an dan 1970-an seperti Francis Ford Coppola, Martin Scorsese, Steven Spielberg, dan lain-lain, yang memiliki kontrol besar pada filmnya. Masa-masa berakhirnya sistem studio dan munculnya film-film independent memang mengubah hubungan antara sutradara, aktor/akris dengan para eksekutif/produser. Jika pada sistem studio, eksekutif/produser memiliki wewenang yang luar biasa besar, sementara sutradara hanya seperti pekerja, maka pada masa independent, sutradara (artis) memiliki kontrol yang lebih besar pada produksi dan estetika yang ingin dibuatnya. Dengan inilah, industri Hollywood memasuki tahap evolusi selanjutnya, munculnya generasi sutradara pasca-perang di tahun 1960-an dan 1970-an. ***

dikutip dari http://www.pravdakino.multiply.com

OUT OF THE BLUE: DOCUMENTARY FILMMAKING IN INDONESIA

When I started my first documentary project, I was spending such as US$1200. I was lucky because a non-governmental organization supported our documentary team with MiniDV Camera and editing computer with pirated editing software. It was like 2 years ago.

Last year, when I and my friend won Jakarta International Film Festival Short Documentary Script Competition, we really should start from the scratch. We don’t have equipment. Our camera was broken. We have no decent editing computer and no big budget. Even we won the prize, we just got US$2500 for the whole process of filmmaking, from researching, production till postproduction.

But in Indonesia, such amount is quite big budget for documentary. As any other part in the world, documentary in Indonesia is marginal discourse among film industry. Yet documentary filmmakers are abundant.

Statistic in 2002 stated that 32 documentaries were produced that year (In-Docs, 2002). The first documentary film festival in Yogyakarta received 35 entries from public, varied from professional to amateur documentary filmmakers. From the mapping made by In-Docs, there are 295 documentary films about Indonesia that have ever been made by Indonesians and foreign filmmakers during 1950-2002. Most of them (about 223) are about social culture, while the rest are about nature and flora fauna. There are also 159 documentaries made by university or film school student for their final task.

During the recent Konfiden festival (Indonesian Short Film Festival, 2006), there were 46 short documentaries submitted. The 46 short documentaries are produced during 2004-2006. Jakarta Slingshort Festival, a first South East Asia short film festival admitted many documentaries (around 30%) from total 300 films entries to the festival.

2006 Indonesia Documentary Film Festival as a venue for all Indonesia documentary films accepted at least 54 films. In 2006. Eagle Award, a documentary script competition hold by big television corporation called Metro TV, received 462 documentary proposal in 2005 and 369 proposal last year (2006).

This respond proved that there are enthusiasm among filmmakers, particularly young filmmakers to produce documentary. Previously, the lack of enthusiasm toward documentary was pushed by the fact that documentary doesn’t have economic value, comparing to fiction/feature films. As documentarian suffered from inferior complex in term of business, many documentary filmmakers are still lack of access to the production capital. In Indonesia, most of the documentary production are independent. Documentary filmmakers produce film in tight budget, even with their own money. Lack of access to capital is causing lack of technical value of the film. Most documentaries are shot in video. Sometimes they could get good video camera,but sometimes they use the old technology like single CCD. And it affect the quality of the screening.

Some filmmakers like Garin Nugroho have very strong capital basis and international network that enable them to have funding from foreign institutions.

Beside of that, many young filmmakers (beginner level) don’t come from film school. There is only one film school in Indonesia, so it’s too much to expect them to focus on documentary.

In recent years, the popularization of documentary is improving. As part of international impact, now documentary is having better position in term of its position among filmmaker, its position to business/market and its position in politic.

Audience now are more aware of documentary pushed by new phenomenon of popularization of documentary in the West. Documentary film like The Corporation, March of The Penguin, Fahrenheit 9/11 and any other films make positive impact on society that now they are really aware of this genre. Film like The Corporation and Inconvenient Truth are screened in the commercial theater during the festival. Some any other documentaries are screened in cultural centre and university. And it got better appreciation from the public.

Dating back to the New Order period (1966-1998) when Soeharto was in throne, the development of documentary scene is very very amazing. Not only in economic aspect and public appreciation, but also in its diverse of themes and way of storytelling.

According an interview with Garin Nugroho (Ishizaka Kenji, 2000), documentaries are distinctly divided into two types: propaganda films made by governments or those on the side of authority, and anti-authority documentaries made to counter such forces. Garin Nugroho said that ninety percent of documentary films in Indonesia are government propaganda.

History of Indonesian documentary film is closely related to Indonesian history, ie. history of colonialism. Despite claim that first documentary was brought by Christian missionaries in Nusatenggara, the history of documentary films in Indonesia tends to start with the Dutch colonial era, when documentary films were screened at night bazaars in Jakarta.

When the Dutch established plantations in Sumatra, documentary films were used as propaganda to entice Javanese peasants to migrate to the plantations. The same thing happened under Japanese rule, when the Japanese used film as propaganda to advance the “Greater East Asia Co-Prosperity Sphere.”

During the New Order years of the Soeharto reign, documentary films followed two routes. First, documentaries used mainly for educational and informational purposes extolled the good results of the New Order’s national development. Second, a small fraction were ethnographic or environmental films made for general educational or scientific purposes.

Indonesian documentary film from the era of independence through the 1990s has had only two dimensions: development propaganda and scientific knowledge. Even the latter has been very limited in both approach and variety. Most scientific and enthographic films portray the life of primitive ethnic group in remote Papua or Borneo. These films always use narrator who tell what’s happening in the location. Pictures show exotic places, with its ‘uncivilized’indigenous people doing some major tribal ceremonies. Also, because so many documentaries are co-produced by local filmmaker and major foreign television companies, personally initiated documentary filmmaking has disappeared.

The situation up until the 1990s was exacerbated by the fact that Indonesia had only the one government television station, TVRI [Television Republik Indonesia]. Consequently, television documentaries feature the development successes of a village, complete with images of government officials cutting ribbons and so on. Comparing Indonesian documentaries with documentary film in the rest of the world, Indonesia films tend to be outdated in content, format, and approach.

Many documentaries were made by director under tight supervision of government (via department of information). According to Regulation No. 8/1992, all filmmakers should give their proposal and script before producing their films. To make a documentary film, filmmakers should have to secure permits, submit the screenplay for scrutiny, approve the title with the government, and report the names of all crew.

It enabled government to supervise the content or material of the film. This policy makes it’s very difficult to produce film during New Order. At that time, documentary were available in official television (TVRI) and documentary permitted to be screen on TV should be documentary about animal, plant, indigenous people, and traveling.

But it’s just first exam. If the filmmaker passed the first exam, they should pass the second exam, ie. Cencorship Board. In 1992, New Order tried to deregulate film industry but yet Indonesia is still keeping its Censorship Board. Censorship Board functions to decide whether certain film is avalaible for public or not.

Cencorship Board functions as supra-body who could ban and censor the films. Either it can cut the film, it also could not release the film. Members of cencorship board are coming from intelligent agency, police department, military, department of education, and religious leaders. Many documentaries are suffered from being banned by that body, particularly political documentary. Authoritarian regime didn’t allow filmmakers to make political film. Recently Indonesian Censorship Board banned film Promised Paradise (2006) by Leonard Retel Helmrich, Black Road (2005) by William Nessen, Passabe (2005) by James Leong and Lynn Lee, Timor Loro Sae (2003) directed by Vitor Lopes and Tales of Crocodile (2003) directed by Jan van den Berg. Aforementioned films are portraying political issues that are sensitive to Indonesia, like terrorism, East Timor and Aceh.

During the New Order period, we could hardly find any independent documentarian. If they live, they produced and distributed it underground. And it’s quite difficult to compile statistic about them.

In term of aesthetic values, Indonesian documentary in New Order era seem getting impasse. Film students and some filmmakers knew numerous varieties of documentary, everything from poetic to social approaches to much more but it’s just getting well soil to grow after the new order outthrown. Previously very thick in propaganda, now Indonesian documentaries are varied in style and approach and addressed the social and political issues.

Some new approachs are introduced to filmmaker, like verite and or direct cinema. Different from ethnographic documentaries that tends to portray the indigenous people, now filmmakers make their own life as a documentary. Film is becoming about an everyday life open to anything at all. It can explore far ahead into the future, or dig deep into the past.

The 1990s brought a trend toward more openness in television news broadcasting. There are now ten private television channels that open channel for documentary. Film like Children of a Thousand Islands (“Anak Seribu Pulau”) was made by Garin Nugroho. Although still using some old pattern of documentary, this film made remarkable change on the documentary filmmaking.

Since 1999, Indonesia was shifting to a new political regime. It is during particularly chaotic times like that, when the system has yet to stabilize, that many filmmakers ought to dare to be revolutionary, to advance subjects with sensitive themes like religion, communism, or sex. The 1990s have been the era of private television stations, but they were still dominated by politics, precisely anarchic ones. As the news shows, documentary film emerged when economic matters forced politics aside. Previously, only the government set the agenda through news broadcasts on the government monopoly station. Then the private stations were established, each with their own news shows. And from these a new basis for documentary films emerged.

What typifies the past 8 years has been increasing attention to theoretical and approach issues in documentary as opposed to the practical, everyday problems of filmmaking.

In Indonesia, it’s essential to discuss about the form and aspect of story telling of documentary and above all, the political aspect of documentary filmmaking. These aspects have been changing since New Order outstated from power.

The young filmmakers are learning and finding the effective and interesting way to tell their stories in documentary. Some are good at it, some are bad. Without any prior knowledge of production, they are trying to tell their own stories. And it’s interesting process.

Taking advantage of the relatively cheap and flexible medium of television, numerous filmmakers entered the scene and began to mass-produce documentaries for airing on Indonesian television. Nonetheless, filmmakers continue to make documentaries, and use various means to get films seen. Some filmmakers travel with their films and show them wherever facilities exist, others route them through the country’s large film society circuit.

Now many [young] documentary filmmaker challenged the old rule. They started to make political documentary based their own experience as New Order’s victims. Lexy Junior Rambadetta with his Offstream produced ..which covered PKI issues, titled Mass Grave (2000) . PKI (Indonesian Communist Party) was active in Indonesia politic in 1950-1960. Soeharto gained its power by killing at least 3 million peoples suspected to be communist.

This massacre is frequently called “G-30-S” and was the black history for Indonesia. During New Order era, there was nobody brave enough to challenge the regime. And if it’s any, Soeharto regime would organize extrajudicial killing, like what they did to the PKI followers in 1965. In 2002, film titled Student Movement by Tino Saroengallo became the first Indonesian documentary screened in commercial theater (21 chains). This film conveyed the 1998 student movement. The emerging of political documentary is very important breakthrough in documentary discourse.

Documentaries have come a long way from the boring newsreels shown before main features in cinemas. With changes in technology amplifying the potential for production and broadcasting, the day of the documentary may finally dawn.

This chain of events has provided a launching pad for the coming era of documentary filmmaking, as long as we are determined to keep developing it. Filmmakers must commit to a new openness and produce documentaries that are open to a whole range of issues. At the same time, filmmakers must be increasingly vigilant against new problems forcibly advanced by anarchic forces, for example the spread of hate based on ethnicity, religion, and so on. The recent year promises to be a most potent era for documentary film if, and only if, filmmakers are daring enough to seize the opportunity presented.***



Reference

Kenji, Ishizaka, Interview with Garin Nugroho, http://www.yidff.jp/docbox/14/box14-2-1-e.html

In-Docs Newsletter, 2002

Prakosa, Gotot, Film Pinggiran, Jakarta : FFTV-IKJ in cooperation with YLP, 1997.

Rosenthal, Alan and John Corner, New Challenges for Documentary, Manchester: Manchester University Press, 2005.

dikutip dari : pravdakino.multiply.com