Sutradara Belanda Filmkan Cagar Budaya Surabaya

Kagum, Bangunan Kuno Masih Berfungsi
Tak banyak yang peduli terhadap cagar budaya Surabaya. Gedung, gereja, dan pintu air peninggalan Belanda dianggap sesuatu yang biasa. Tapi, Tie van Der Horst, sutradara dari Belanda, justru merasa harus mengabadikannya dalam film dokumenter.

AGUNG PUTU ISKANDAR

PENAMPILANNYA funky. Pakaian dan sepatunya didominasi warna putih dan pink. Kaus merah muda yang dilapisi kaus abu-abu tanpa lengan sengaja agak dijulurkan. Celana tiga perempatnya memberi ruang untuk kaus kaki merah muda agar terlihat jelas.

Sepatu kets jenis sport dengan warna yang sama terlihat mencolok. Sebuah tas putih melintang di tubuhnya. “Usia saya memang 60 tahun. Tapi, saya selalu ingin tampil segar,” kata Tie van Der Horst ketika ditemui saat mengambil gambar di Hotel Majapahit, Rabu (13/2).

Jalannya cepat dan bicaranya penuh semangat. Sikapnya yang egaliter membuat Tie gampang akrab dengan siapa pun. Dia bahkan tak mau dipanggil mevrou (nyonya atau ibu, Red). “Cukup panggil saya Tie,” ujarnya.

Hal itu juga berlaku untuk lima kru filmnya yang dibawa dari Belanda. “Meski saya sutradara, dalam tim, kami semua setara,” tegas ibu tiga anak tersebut.

Ketika observasi ruangan hotel, Tie tak pernah berhenti berdecak kagum. Dia terhenyak saat berjalan di lobi menuju ruang tengah. “Look up, isn’t that beautiful,” ujarnya sambil menunjuk langit-langit teras Ballroom Hotel Majapahit.

Di langit-langit tersebut, tampak ornamen khas Belanda, garis-garis minimalis dengan dominasi kurva persegi yang memanjang. Ketika melihat lampu gantung yang dipasang di langit-langit, dia bekernyit. “Itu tidak orisinal,” katanya.

Padahal, lampu tersebut tampak kuno. Besi penyangganya hitam dan tua. “Saya bisa mengenali karakter desain Belanda,” tegasnya sambil melanjutkan observasi ke presidential suite room. Kamar itu khusus untuk tamu VVIP. Tercatat, mantan Presiden RI Megawati pernah menginap di situ.

Di ruang yang keran kamar mandinya disaput emas tersebut, mata Tie tak henti-henti menjelajahi seluruh sudut. Dia kemudian duduk di sofa besar sambil menyilangkan kaki dan menelungkupkan tangannya di atas paha. “I feel like a queen,” ungkapnya.

Ide mendokumentasikan Surabaya dalam sebuah film sebetulnya tak pernah terlintas di benak Tie. Selama 25 tahun menggeluti film dokumenter, dia hanya menggarap Eropa. “Saya tidak menyangka. Ternyata, ada juga kota yang kaya bangunan berarsitektur Belanda di luar Eropa,” ujar wanita yang sudah membuat 95 film dokumenter tersebut.

Tie pantas terkejut. Cukup banyak bangunan tua yang dibangun Belanda di Surabaya. Bukan hanya berupa gedung, tapi juga pintu air. “Yang membuat saya semakin semangat, bangunan-bangunan kuno tersebut masih difungsikan. Jadi, heritage (warisan, Red) itu tidak hanya dipajang dan dikagumi dengan melihat dari jauh. Masyarakat masih memanfaatkannya. Apalagi, pintu air sampai sekarang masih bisa diandalkan untuk mencegah banjir di Surabaya,” jelasnya.

Khusus pintu air, dia merasa harus memfilmkan. Sebab, pintu air merupakan landmark negeri asalnya. “Belanda kan negara air. Dengan memfilmkan pintu air, ada kaitan emosional dengan negeri saya,” katanya.

Wanita yang kini menetap di Utrecht tersebut menuturkan, karakteristik arsitektur Belanda cenderung mudah dikenali. Cenderung minimalis dengan garis-garis lurus yang membentuk kurva-kurva sederhana. “Umumnya motif-motifnya berbentuk simpel. Tidak seperti rococo, ciri arsitektur Prancis,” ungkapnya.

Prancis memang dikenal dengan desain arsitektur ornamen yang mewah, megah, serta rumit. Ulir serta garis-garisnya cenderung menunjukkan nuansa kekayaan dan kemewahan. Rococo menjadi arsitektur khas Prancis sejak zaman Marie Antoinette, ratu kerajaan Perancis pada abad ke-18. “Makanya, desain arsitektur Belanda itu mengusung tren baru yang lebih simpel dan minimalis,” jelasnya.

Karena itu, kata dia, rata-rata bangunan Belanda di Indonesia tak terlalu banyak pernik. Dinding dan tiang-tiangnya cenderung berbentuk kotak-kotak. “Namun, itu justru menunjukkan kesan bangunan yang kuat,” tegasnya.

Tie menjelaskan, gedung-gedung Belanda yang dibuat pada abad ke-19 memang bernuansa feodalistis. Ada kesan angkuh. “Itu memang sesuai konteks zaman ketika bangunan dibuat,” katanya.

Salah satu yang didokumentasi adalah Balai Pemuda. Menurut Tie, Balai Pemuda sudah merupakan bangunan modern untuk ukuran zamannya. Bahkan, hingga kini, gedung serupa masih banyak ditemui di Belanda.

Ciri arsitektur Belanda begitu tampak pada bangunan tersebut. Jendela yang tinggi dan lebar membuat aliran udara lancar. Pintu dua sisi yang lebar membuat Balai Pemuda layak dipakai untuk acara-acara publik. “Sangat kental arsitektur Belanda. Pintu megah dan atap yang tinggi membuat gedung itu menawarkan ketenangan,” jelasnya.

Kompleks Balai Pemuda, ujar dia, sengaja dibuat di tengah kota karena gedung tersebut dibangun untuk pusat aktivitas masyarakat kota. “Lihat saja, kalau mau pergi ke bagian kota mana saja di Surabaya, kita bisa menempuhnya dengan mudah dari sini,” ungkapnya.

Dia menyatakan, Balai Pemuda memiliki banyak potensi. Tidak hanya karena tempatnya yang strategis, tapi juga ruang-ruang di dalamnya yang bisa dibuat banyak eksplorasi. “Tempat tersebut bisa dipakai untuk segala kreativitas. Itu sangat cocok untuk konser musik atau teater. Apalagi kalau ada tempat duduk di luar gedung, akan semakin menarik,” tegasnya.

Setelah observasi dan pengambilan gambar sebentar, Tie duduk di sebuah bench. Mengambil sebatang rokok dari tasnya, disulut, dan diisap. Bekerja dengan iklim seperti di Indonesia, kata dia, sangat berbeda dari Belanda. Pekerja di Belanda bisa diajak terus-menerus bekerja. Sebab, semakin giat bekerja, suhu badan semakin hangat. “Kalau di Indonesia, harus sering-sering break, soalnya cepat haus,” katanya kemudian minum segelas air putih.

“Tapi, iklim Indonesia sebenarnya cocok kok buat saya. Orang Belanda yang ke sini bilang di sini panas. Padahal, saya nyaman-nyaman saja.”

Ide membuat film di Surabaya berawal dari cerita kakaknya. Sang kakak cukup sering ke Surabaya untuk urusan bisnis. Ketika balik ke Belanda, dia bercerita kepada Tie tentang arsitektur serta bangunan peninggalan Belanda lain di Surabaya. “Saya sempat ragu. Masak ada sih kota seperti itu,” ujarnya.

Begitu tiba di Surabaya, dia sangat kaget. Wanita penggemar jalan kaki tersebut benar-benar membuktikan sendiri begitu banyak arsitektur warisan Belanda di kota ini. Dalam setiap perjalanan keliling Surabaya, Tie merasa selalu dikelilingi bangunan-bangunan kuno. “Seperti berada di rumah,” ungkapnya.

Dia akhirnya memutuskan menjadikan Surabaya sebagai objek film dokumenternya. Pertama, dia akan membuat contoh film (pilot project). Film tersebut berdurasi 10-40 menit. Film itu akan dibawa ke Belanda untuk diajukan ke komisi perlindungan cagar budaya. “Dananya secara tidak langsung memang dari pemerintah Belanda. Tapi, dana itu kan diberikan ke yayasan untuk dikelola,” jelas sutradara sekaligus produser di perusahaan pembuat film dokumenter Stichting Full Moon Foundation tersebut.

Tie kali pertama belajar membuat film pada 1983. Ketika itu, seorang pembuat film yang juga pengungsi dari Iran mengajari dirinya membuat film. Sejak itu, dia sering terlibat dalam pembuatan film. “Saat itu, saya hanya menjadi asisten sutradara. Jadi asisten enak. Saya bisa belajar banyak hal tanpa mengemban tanggung jawab berat seorang sutradara,” tegasnya.

Setelah cukup belajar, dia memutuskan fokus pada film dokumenter. “Membuat film dokumenter harus mampu menangkap simbol-simbol pada sebuah benda,” ujarnya. Dia menargetkan pembuatan film tentang Surabaya itu rampung pada akhir Maret.

Kota ini sebetulnya tidak terlalu asing bagi dirinya. Meski bapaknya orang Belanda, ibunya adalah wanita asli Indonesia kelahiran Medan. “Ketika ke sini, saya baru tahu mengapa dia tidak pernah betah di Belanda. Ibu selalu mengeluh soal iklim di Belanda yang dingin,” jelas wanita yang ditinggal ibunya sejak berusia 12 tahun tersebut.

Tie mengaku terkesan pada kehidupan di Surabaya. Orang tak pernah terburu-buru dan tegang. Kehidupan masyarakat berjalan halus dan lembut. Tidak seperti yang dia rasakan di Belanda. Masing-masing orang seolah tergesa-gesa, di mana-mana tensi hidup selalu tinggi. “Di sini, saya merasa tenang dan nyaman,” ungkapnya.

Tapi, kata Tie, ada beberapa hal yang tidak dia sukai di kota ini. Masyarakat kurang menghargai pejalan kaki. Kendaraan cenderung semena-mena. “Padahal, di Belanda, pejalan kaki dan pengendara sepeda angin diberi kemudahan lebih banyak daripada pengemudi mobil. Yang punya mobil dikenai pajak bertumpuk-tumpuk. Mau tidak mau, masyarakat beralih ke alat transportasi murah. Kalau tidak begitu, jalan kaki.” (cfu)

dikutip dari : http://eastindonesia.com/news/?p=713

Komentar & Pertanyaan yang santun pasti dimuat, iklan boleh tapi jangan berlebihan (SPAM)

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: