Kedungdoro Macet Total Akibat Videotron Ambruk

100134largePolemik reklame gambar berjalan (videotron) di Jalan Kedungdoro mencapai klimaks kemarin. Media iklan milik PT Rajawali Citra Buana (RCB) itu roboh. Diduga kuat, proyek saluran air (box culvert) menjadi penyebabnya.

Tidak ada korban jiwa dalam insiden itu. Namun, bangunan di sekitarnya rusak tertimpa videotron. Salah satunya, toko onderdil mobil UD Selamat Motor.

Sejumlah saksi mengungkapkan, videotron tersebut tumbang pukul 12.15. Sebelumnya, papan iklan itu doyong ke timur secara perlahan. ”Jatuhnya perlahan-lahan. Pokoknya, mulai miring ke timur sekitar pukul 11.00,” ungkap Mujiyono, salah seorang saksi.

Pernyataan Mujiono itu senada dengan pemilik UD Selamat Motor yang mengaku bernama Kristin. Menurut dia, dirinya dan karyawannya sudah tahu videotron tersebut akan jatuh ke timur dan menimpa toko miliknya. Karena itu, dia langsung menutup tokonya.

Di sekitar videotron memang terdapat proyek box culvert. Begitu tahu media iklan tersebut hendak roboh, seluruh pekerja proyek langsung menjauh.

Robohnya videotron itu membuat jalan Kedungdoro macet total. Pengguna lalu lintas terlihat berebut ingin mengetahui kondisi videotron itu.

Sebelum tumbang, videotron yang memuat gambar iklan rokok tersebut memang mengundang kontroversi. Masa izin reklame itu habis pada 29 Juni lalu. Pemkot menolak memperpanjang izin dengan alasan ada pembangunan box culvert di Jalan Kedungdoro. Jika diperpanjang, videotron akan mengganggu proyek saluran tersebut.

Pemkot bahkan sudah mengeluarkan surat perintah membongkar. Namun, satpol PP tak berani bertindak setelah RCB melayangkan gugatan ke pengadilan. Mereka menilai pemkot tidak bisa membongkar karena pihaknya mengantongi SPW (surat perintah wali kota) dengan durasi dua tahun. Dengan demikian, videtron tersebut seharusnya bisa beroperasi hingga 2010.

Saat proyek box culvert dimulai, videotron itu tetap berdiri kukuh. Karena itu, proyek pembangunan saluran tersebut pun terkendala. Pelaksana proyek saluran, PT Gorga Telaga Mandiri, membuat saluran di sekitar videotron.

Nah, proyek box culvert itulah yang disebut-sebut mengakibatkan robohnya videotron tersebut. Sebab, galian tanah di Kedungdoro membuat konstruksi reklame rapuh.

Setengah jam setelah roboh, sejumlah anggota DPRD Kota Surabaya langsung datang ke lokasi. Di antaranya, dua anggota komisi C, Agus Santoso dan Herlina Harsono Njoto.

Namun, bukan sambutan baik yang diterima dua anggota DPRD tersebut. Mereka bahkan harus beradu mulut dengan sejumlah pemilik toko di kawasan tersebut. Hilmi, salah seorang pemilik toko aksesori mobil, mengungkapkan bahwa anggota dewan hanya bisa bicara. Mereka tidak bisa bertindak cepat untuk mengatasi masalah tersebut.

”Harusnya dewan melarang videotron itu berdiri, sehingga tidak timbul masalah seperti sekarang ini. Namun, ternyata dibiarkan dan masyarakat yang menjadi korban,” tegas Hilmi dengan suara tinggi.

Mendengar perkataan tersebut, Agus Santoso terlihat agak emosional. Dia menyatakan pihaknya akan berupaya menyelesaikan kasus itu. Dia pun berjanji memanggil kontraktor proyek, PT Gorga Telaga Mandiri, PT RCB sebagai pemilik videotron, dan tim reklame Pemkot Surabaya. ”Hari ini pun (kemarin, Red) mereka akan saya panggil,” ujar Agus geram.

Dia membuktikan janjinya. Agus bersama komisi C langsung mengundang pihak yang terkait dalam insiden videotron tersebut. Hujan kritik pun meluncur dalam rapat hearing di Komisi C DPRD Kota Surabaya kemarin.

”Asisten I sudah memberi perintah bongkar. Sebab, videotron itu sudah tidak punya izin. Tapi, kok pemkot tidak melaksanakan?” ucap Ketua Komisi C Sachiroel Alim Anwar.

Jika pemkot bertindak cepat membongkar, seharusnya videotron itu tidak sampai roboh. ”Memangnya ada apa? Kok kesannya takut pada biro reklame. Sudah jelas-jelas melanggar, kok dibiarkan,” timpal anggota komisi C Sudirdjo.

Selama hearing, seluruh pimpinan dan anggota komisi memang terkesan menyalahkan pemkot. Mereka menuding penataan reklame di Surabaya selama ini begitu karut-marut dan menimbulkan banyak masalah. ”Cari makan di Surabaya sih boleh-boleh saja. Tapi, jangan menghalalkan segala macam cara,” tegas anggota komisi C lainnya, Agus Sudarsono.

Mendapat hujatan dari dewan, pemkot terkesan pasrah. Mereka belum bisa memutuskan siapa yang bersalah dalam insiden itu. Apakah memang konstruksi videotron yang rapuh atau pelaksanaan proyek box culvert menyalahi aturan.

”Kami perlu berkoordinasi dulu. Karena itu, kami belum bisa memberi keputusan. Siapa yang salah, termasuk siapa yang bertanggung jawab untuk memperbaiki bangunan yang rusak,” kata Kepala Dinas PU Bina Marga dan Pematusan Sri Mulyono.

Meski belum mengambil kesimpulan, tampaknya, pemkot terkesan membela proyek box culvert. Buktinya, selama hearing, Sri Mul menyatakan bahwa kemungkinan robohnya videotron itu bukan disebabkan adanya pengerjaan saluran gorong-gorong tersebut.

”Pekerjaannya ada di sebelah selatan. Jauh dari videotron. Karena itu, saya juga kaget, kok bisa roboh begitu,” ucapnya. ***
Sumber : http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=100134

Komentar & Pertanyaan yang santun pasti dimuat, iklan boleh tapi jangan berlebihan (SPAM)

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: