Wak Santun, (Petugas Kebersihan Madrasah) Bertahan Dalam Kesabaran, Beban Hidup Jadi Berkurang

Reporter : Hare Kurniawan & Hilal Mabruri
Penulis : Rokimdakas

Wak Santun, bertahan dalam kesabaran

Wak Santun, bertahan dalam kesabaran

Mulanya biasa saja, pekerjaan Wak Santun (64) sebagai petugas kebersihan sekolah dianggap tidak istimewa tapi jika direnungi apa yang dilakukan sangatlah berarti. Dengan kondisi ruang kelas bersih peserta didik merasa nyaman belajar membuat mudah menyerap ilmu sehingga pintar. Dengan begitu dia ikut berperan sebagai elemen pendukung. Itu dilakoni selama 38 tahun di madrasah Nasrul Umam, Duduk Sampeyan , Gresik.

Di era agraris orang berpendapat, banyak anak banyak rezeki karena bisa dilibatkan untuk membantu pekerjaan di sawah. Namun setelah sawah diwariskan pada anak keturunannya kemudian dibagi merata maka area produksinya semakin sempit. Sangat banyak diantara mereka yang menjual sawahnya agar bisa ke Mekkah. Dan tidak sedikit dari mereka yang merasa dendam terhadap kemiskinan lalu menjual sawahnya agar hidup yang cuma sekali ini bisa foya-foya.
Kemelaratan sering mengantarkan pada keterpaksaan untuk melakukan apapun agar bisa bertahan hidup. Pasangan Zaelani (69) – Santun (64) pun begitu, hidup di desa apa yang bisa diharap jika tak punya sawah? Ketika ada tawaran dari H. Murtadlo dan H. Ilyas untuk menjadi petugas kebersihan Madrasah Nasrul Umam tahun 1968 mereka tak perlu berpikir panjang, langsung mengiyakan. Dalam benak mereka yang penting harus ada pemasukan yang bisa menghidupi 11 anak mereka, 3 diantaranya akhirnya meninggal.
Zaelani yang semula bekerja serabutan kemudian menjalankan tugasnya, jika menjelang malam dia menyalakan lampu ‘ting’ semacam templok berbentuk kotak yang diletakkan di beberapa lokasi sekolah karena waktu itu belum ada listrik, lantainya pun belum dikeramik seperti sekarang. Seusai kegiatan belajar mengajar dari pukul 12.00 hingga 14.00 membersihkan enam ruang kelas, kantor dan halaman. Pada pagi hari membukakan pintu gerbang dan semua kelas. Untuk semua itu dia dibayar Rp 40 ribu per bulan.
Diolah dengan cara apapun gaji yang diterimanya tak bisa dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sementara istrinya sibuk merawat anak-anak yang masih kecil. Lelaki itu memeras pikirannya lalu menemukan ide, jualan bakwan di depan rumah. Mendengar niatan itu istrinya menyambut gembira.

Bertepuk Sebelah Tangan
Tahun 1971 tongkat estafet dilimpahkan ke istrinya sementara Zaelani mengail rezeki dengan pentol bakwan. Tidak terasa sudah 38 tahun Wak Santun istiqomah membersihkan madrasah, semula digaji Rp 100 ribu baru dua terakhir menjadi Rp 125 ribu. Tak jarang dia usul pada pengurus yayasan, “Walaa… mbok dijangkepi 150 ewu…”
Ternyata dia hanya bisa bertepuk sebelah tangan, usulannya belum bisa dipenuhi pihak sekolah karena pemasukan yayasan sekarang berkurang semenjak sekolah bebas biaya. Artinya, nilai yang diterima takkan berubah, yang berubah hanya tanggal penerimaannya. Jika dulu setiap tanggal satu selalu menerima gaji tapi sekarang waktunya tidak tentu, sering terlambat. YPI MI Nasrul Umam merupakan sekolah kecil, terdiri dari enam kelas dengan 150-an siswa asal kawasan Desa Ambeng Ambeng, Duduk Sampeyan, Gresik
Bertahan dalam kesabaran membuat beban kehidupan Santun berkurang. Anak-anaknya sebagian sudah berkeluarga dan mandiri dan tidak jarang mereka memberi limpahan rezeki. Bagi Santun, kemampuannya bertahan dari beban hidup yang begitu lama memberi hikmah tersendiri. Kata dia, “Kalau ada persoalan yang tak bisa dipikir jangan dipikir karena daripada kepikiran, toh persoalannya akan lewat. Yaah… dalam hidup ini kadang perlu ndableg”.
Kini Wak Santun lebih bisa menikmati pekerjaan yang dianggap sebagai hiburan olahraga karena seusia dia jika kurang bergerak malah akan mengadapi banyak masalah kesehatan. Meski begitu kadangkala dia merasa kurang sehat kemudian tugasnya dijalankan oleh suaminya. Hanya saja kesulitannya sekarang jika harus naik ke lantai dua yang membuat ngos-ngosan. Jika sudah begitu nenek dari 15 cucu ini baru merasa kalau dirinya sudah renta. Selain menyapu, secara berkala dia harus menguras bak mandi madrasah, untuk itu dia mendapat upah Rp 5 ribu sekali kuras.
Kata perenung, dalam kehidupan ini kita merasa sebentar susah sebentar senang. Keduanya perasaan itu tidak ada yang berlangsung lama. Santun juga merasakan seperti itu,
apabila datang masa penerimaan raport, hatinya berbunga-bunga. Banyak wali murid yang bersimpati padanya memberi uang. “Saya tidak melihat nilainya tapi saya merasa senang mendapat perhatian para orang tua murid,” tutur Wak Santun dengan sumringah.
Hidup di lingkungan sekolah dia memaklumi bahwa kadang ada yang teledor merawat perlengkapan sekolahnya.
Saat membersihkan Wak Santun tidak jarang menemukan barang, baik uang atau handphone namun selalu dia kembalikan. Baginya lebih baik hidup ala kadarnya daripada berlebihan tapi menyusahkan orang lain.
Lagi-lagi dia bertutur, “rejeki, jodoh, pati iku wis ono sing ngurusi. Awake dhewe kari ngelakoni. Urip iku sing temen, ojo males, sing sregep nyandak penggawean,nek kerasa ngantuk ojo dituruti turu tapi gawien tandang gawe. Sing lebih penting ojo gampang sambat merga ndadekno awake dhewe gak ono ajine. Coba’en lak gak kiro kekurangan “.
Secara harfiah diartikan, “Rejeki, jodoh, mati itu sudah ada yang mengurusi. Kita tinggal menjalani. Hidup itu yang sungguh-sungguh, jangan malas, yang giat menangani pekerjaan, kalau merasa mengantuk jangan dituruti tapi gunakan bekerja. Yang lebih penting jangan gampang mengeluh karena membuat kita tidak berarti. Cobalah tidak akan kekurangan…” ***

Komentar & Pertanyaan yang santun pasti dimuat, iklan boleh tapi jangan berlebihan (SPAM)

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: