Ust H. Saiful Bahri, Guru Ngaji yang bersahaja

Reporter : Didik Haryanto
Penulis : Rokimdakas

Ustadz Bahri bersama para santrinya.

Ustadz Bahri bersama para santrinya.

Apa yang bisa disyukuri jika tiba saatnya kita tidak mampu lagi berperan dalam kehidupan? Bila pertanyaan itu melintas dalam benaknya kemudian Saiful Bachri membaca papan bertuliskan, “Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya”, matanya berkaca-kaca. Seperempat abad sudah dia tekun mengajari ratusan anak-anak dan orang tua agar bisa membaca kitab suci.

Di ruang tamunya tak terdapat meja atau kursi, siapapun yang bertandang cukup duduk di lantai berkeramik putih. Lebar-panjang ruangannya hanya 2,5 x 7 meter, berarah timur barat dengan dinding warna putih tanpa hiasan atau lukisan hanya papan tulis hitam terletak di atas lantai. Di situlah 154 anak bergantian belajar mengaji. “Sehari-hari aktivitas saya hanya mengajar mengaji,” tutur Ustadz Haji Saiful Bahri, pembimbing TPQ – Taman Pendidikan Al Qur’an – Matholiul Falah.
Pendarmaan dirinya di altar religi bagi Saiful adalah untuk meneruskan langkah kakeknya, KH. Tohir, yang semasa hidupnya berperan sebagai guru ngaji bagi warga Nambi. Sebuah pemukiman kecil di ujung utara Kecamatan Manyar dengan jumlah rumah sekitar 147 buah. Mayoritas penduduknya menyandarkan perekonomiannya pada tambak dan sawah tadah hujan yang pada musim kemarau kering kerontang.
Bagi Saiful, kehidupan yang relatif mapan sudah pernah dia nikmati bersama keluarga ketika menjabat sebagai kepala dusun sejak tahun 1980 selama seperempat abad. Sebagai tunjangan jabatannya waktu itu, bapak dari Umi Malikah dan Mohammad Thozim ini mendapat ‘tanah bengkok’ seluas 1,3 hektar yang kemudian ditarik kembali oleh desa. Sebagai balas budi pengabdiannya maka sejak tahun 2008 sampai sekarang dia ditunjuk oleh pengurus desa sebagai Mudin Nikah, membantu pencatatan nikah ke KUA Kec. Manyar. Untuk jabatan tersebut dia mendapat insentif Rp 4 juta per tahun.
Ketika menjabat Kepala Dusun, tahun 1985 Saiful mulai mengamalkan ilmu agamanya yang dipelajari dari Pesantren Qomaruddin, Bungah dengan mengajar mengaji bagi kalangan anak, dari TK hingga SMA. Mereka diajar secara bergiliran sesuai seusai shalat Subuh dan Ashar. Dalam buku catatan siswa sekarang terdapat 154 anak yang diasuh suami Asrofiah ini.
Apa yang melatari niatannya untuk melakukan semua ini? “Jika kita sedang dititipi sedikit ilmu lalu ada yang membutuhkan, apakah kita masih menunggu orang lain memberi jawaban?”, lelaki dengan tiga bersaudara itu balik bertanya. “Saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk mengamalkan sedikit ilmu yang saya miliki, sebab banyak orang pintar tapi tidak memiliki kesempatan hingga sulit untuk mengamalkan ilmunya,” tuturnya diplomatis.

Mengajar Orang Tua
Berbicara tentang peserta didik, Buchori menuturkan, “Di tempat kami juga terdapat orang-orang tua yang giat belajar membaca Qur’an karena semasa kecil tidak sempat mengaji, mereka ada yang berasal dari desa tetangga. Meski tergolong terlambat tapi umumnya memiliki semangat yang bagus sehingga bisa cepat menguasai materi,” tutur Saiful yang merasa bangga karena banyak siswa kelas IV SD yang sudah mampu khataman 30 juz malah diantaranya ada yang sudah hafal Al Qur’an.
Agar pola ajarannya efektif, dia dibantu oleh sebelas asisten, diantaranya Umi Malikah, putri sulung beserta suaminya M. Shohib. Masing-masing guru pembantu mengajar 13 siswa yang setiap minggu masing-masing anak memberi infaq senilai Rp 1.000. Setelah seluruh dana terkumpul kemudian dibagi rata bagi guru pembantu. Selain itu TPQ Matholiul Falah mendapat subsidi dari Pemkab Gresik senilai Rp 50 ribu per bulan yang penyerahannya tidak pernah tepat waktu, kadang per triwulan, kwartal, semester atau setahun sekali.
Meski usianya hampir berkepala enam namun semangat Saiful tak pernah pupus untuk terus menimba ilmu. Dia ajeg mengaji sampai sekarang di pesantren Qomaruddin asuhan KH Achmat Muhammad yang lokasinya berjarak 3 km dari desanya.
Di tempatnya mengajar dia pernah menerapkan beberapa metoda, semula Al Barqi kemudian Iqro’ yang bersertifikat. Sempat beralih ke metoda baru bernama Qiro’ati namun tidak sampai lulus muncul lagi metoda terbaru yakni Tilawati.
Demi efisiensi, TPQ Matholiul Falah bersinergi dengan Yayasan Nurul Falah, Surabaya yang bermarkas di kawasan Ketintang. Kerjasama tersebut menyangkut pola ajaran, buku pelajaran, sistem pengujian hingga sertifikasi. “Berdasar pengakuan siswa metoda Tilawati dianggap lebih mudah untuk menguasai bacaan Alquran,” tutur Saiful yang secara periodik siswanya mengikuti ujian di kantor pusat Nurul Falah. Baru lalu, sekitar 35 anak menjalani ujian dan hanya seorang yang dinyatakan tidak lulus.
Setelah 25 tahun berjalan , Saiful berharap TPQ Matholiul Falah bisa terus berkembang agar makin bermanfaat bagi masyarakat pedesaan. Sebuah harapan yang menuntut ketabahan.***

Komentar & Pertanyaan yang santun pasti dimuat, iklan boleh tapi jangan berlebihan (SPAM)

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: