Tuminah, (Dukun Bayi) Dikenal “Marasi”, Siapapun yang Ditolong Akan Sembuh

Reporter : Didik Haryanto
Penulis : Rokimdakas

Mbah Tuminah bercanda dengan 'pasien'nya.

Mbah Tuminah bercanda dengan 'pasien'nya.

Sering terbetik berita, ada seorang ibu ditahan rumah sakit karena keluarganya tidak mampu membayar biaya melahirkan. Jika itu terjadi di Munggu Giyanti, Mbah Tuminah pasti mengatasi. Selama 60 tahun dia mengabdikan diri menjadi juru pijat dan tulung bayi, membantu proses persalinan orang-orang dhuafa tanpa memungut biaya. “Saya tidak tegaan melihat orang yang akan melahirkan tapi tak punya uang, kalau dikasih malah saya kembalikan.” Sebuah kemuliaan yang patut diteladani dari seorang dukun bayi.

Hampir semua orang di Benjeng pernah ditangani Mbah Tuminah (88). Dialah dukun bayi yang menjadi tumpuan para orang tua ketika anak-anaknya mengalami pegal-pegal atau keseleo hingga jaringan syarafnya bermasalah. Sudah 60 tahun dia mengabdikan diri di bidang layanan kesehatan masyarakat dan banyak mantan pasiennya sekarang telah menjadi kakek-nenek. Siapapun yang ditanya tentang Mbak Tum akan berkomentar, “Dia marasi”. Siapapun yang ditolong akan sembuh. Waras.

“Saya ini orangnya tidak tegaan, kalau ada orang sakit rasanya ikut merasakan. Makanya kalau saya bisa menolong pasti saya tolong. Saya tidak pernah mikir soal imbalan, bila diberi alhamdulillah… tidak pun alhamdulillah karena masih diberi kesempatan menolong orang,” tutur Tuminah yang akrab dipanggil Mbah Tum, perempuan berusia senja ini mengungkapkan falsafah keikhlasan kiprahnya dalam bahasa sederhana namun untuk melakukannya tidak semudah pengucapan.

“Selain mijat juga tulung bayi,” tutur Mbah Tum, warga Desa Munggu Giyanti, Kec. Benjeng, Gresik. Tulung bayi merupakan kemampuan untuk membantu proses persalinan secara tradisional dimana pemotongan tali pusar bayinya menggunakan ‘sembilu’, sayatan kulit bambu yang begitu tajam. “Tujuh kali saya menangani semuanya selamat, alhamdulillah,” imbuhnya, mereka meminta tolong karena tidak mempunyai biaya untuk melahirkan di rumah sakit. Berkat jasanya dia pernah mendapat hadiah dari seorang bidan yang memberinya seperangkat peralatan persalinan sederhana.

Tanpa Sajen
Menurut beberapa tetangganya yang pernah ditolong mengatakan, “Mbah Tum itu orangnya ‘marasi’, anak-anak yang terkena sawan, keseleo atau kurang sehat bila dia tangani biasanya sembuh,” tutur Bu Kuning, Utari maupun Rozi, lurah Desa Munggu Giyanti. Sejak mereka masih kanak-kanak hingga telah berkeluarga masih tetap meminta pertolongan Mbah Tum bila menghadapi masalah kesehatan anak.

“Awalnya saya hanya melihat caranya emak memijat, seperti gerakan tangan dan urut-urutan bagian tubuh yang ditangani kemudian saya coba memijat diri sendiri dan merasakan efeknya. Juga ketika saya sedang pijat maka selalu saya ingat semua sentuhannya,” tutur Mbah Tum mengilas balik awal dirinya belajar memijat. Setelah dia merasa bisa mengingat semua pelajaran secara pandang kemudian dia memberanikan diri menolong orang. Bagi siapapun yang melibati dunia terapi selalu memiliki mantera tidak terkecuali Mbah Tum. Penyampaian doa diyakini bisa mengantarkan seseorang pada situasi transenden dan tumbuhnya kesadaran bahwa dirinya hanya berperan sebagai mediator atau sarana dari Energi Penyembuh. Setiap memulai memijat Mbah Tum mengucap, “Bismillahirrohmanirrohiim. Darah putih, darah kuning, darah abang, darah ireng, nang panggonanmu dhewe-dhewe. Ono Jakatawa, ngurus sak jerone raga. Tawa-tawi, aku turune Jakatawa. Tawa tawar, adhem asrep saking kersaning Allah…” Telapak tangan yang telah dilumuri minyak disentuhkan ke tubuh pasien. Meski jadi dukun tapi dia mengaku tidak pernah menggunakan sesajen.

Menurut Mbah Tum, mantera tersebut diajari oleh emaknya tanpa tahu maksudnya namun dia menghafalnya dengan baik dan selalu diucapkan ketika hendak menangani pasien. Dia mengaku selama memijat tidak pernah menggunakan pikiran tapi menuruti kata hati untuk menggerakkan tangan. Ibarat pisau yang diasah saban hari tentu akan semakin tajam, juga tangan Mbah Tum yang kian peka menangkap ether bagian tubuh yang kurang sehat, di bagian itulah tangannya ‘mengusir penyakit’.

Sementara itu jika hendak tulung bayi Mbah Tum mengucap , “Bismillahirrohmanirrohiim. Jabang bayi metu sak jerone garba garwa. Ansale sukma lan nyawa. Sandang lan pangan. Teguh wiyana rahayu selamet. Mugi mugi jabang bayi dadoso kaken nini. Assalamualaikum. Walaikumsalam”. Tanpa perlu memahami maknanya secara harfiah namun dia meyakini bacaan tersebut akan bisa membantu dirinya menolong pasiennya. Tangannya hanya diusap-usapkan ke perut pasien agar dengan harapan proses persalinannya berlangsung lancar.

Dari pernikahannya dengan Sampan dikaruniahi tujuh orang anak, dua diantaranya meninggal dunia. Mereka antara lain, Sidiq, Kasiati, Patri (almh), Dewi Suryati, Niswatin, Darwiyono (alm) dan Endaryana. Menurut dia, suaminya merupakan petani yang ulet dan tabah mengolah sawah. Meski anaknya cukup banyak Mbah Tum mengaku hidupnya tidak merasa kekurangan, sandang pangannya tercukupi oleh hasil pertanian. Bahkan ketika suaminya telah meninggal dunia, harta warisannya telah dibagikan kepada semua anaknya secara rata. Kini dia tinggal secara bergiliran di rumah anak-anaknya di seputar Desa Munggu Giyanti.

Walau hidup dalam kecukupan namun Mbah Tum merasa ada yang kurang karena buta aksara. Sejak kanak-kanak sampai jadi buyut dia tidak mampu baca tulis seperti umumnya para wanita pedesaan pada jamannya. Waktu itu dia pernah ingin sekolah tapi oleh bapaknya, Rejo, dicegah karena anak perempuan dianggap tidak terlalu penting. Asal bisa membantu pekerjaan di rumah sudah bagus. Malah bapaknya merasa gembira bila dia mau mengantar makanan ke sawah. “Kalau saja saya sekolah pasti jadi orang pintar,” tutur Mbah Tum berandai-andai, pandangannya menerawang ke masa silam.

Meski tidak tidak pernah duduk di bangku sekolah namun Mbah Tum tetap dikenal sebagai orang pintar yang bisa mengatasi keseleo atau salah urat, anak sawanen akibat energi buruk yang mengguncang tubuhnya maupun menata susunan syaraf untuk melancarkan metabolisme darah. Kemampuan tersebut dia warisi dari emaknya, Senapi, yang semasa hidupnya juga menjadi juru pijat.

Lantas siapa yang akan menjadi penerus Mbah Tum agar kelak masih ada penolong anak-anak? “Anak-anak kula mboten enten sing purun mijet,” sahut Mbah Tum sambil tersenyum.***

Komentar & Pertanyaan yang santun pasti dimuat, iklan boleh tapi jangan berlebihan (SPAM)

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: