Suwoto, (Hansip Kampung) Kalau Ada Hajatan Baru Dapat Bayaran

Reporter : Hare Kurniawan & Hilal Mabruri
Penulis : Rokimdakas

Suwoto: saya cuma seorang Hansip..

Suwoto: saya cuma seorang Hansip..

Sekali jadi hansip tetap jadi hansip. Begitulah semboyan Suwoto (60) yang berbangga diri atas perannya menjadi Hansip Kampung selama 19 tahun. Beragam jenis pekerjaan pernah dicoba namun suratan takdir seakan menggaris hidupnya untuk menjadi Hansip, menjaga keamanan dan ketertiban desa. Sebuah pekerjaan yang kian jarang peminat.

“Kalau boleh memilih saya pasti milih yang lain,” ucap Suwoto yang populer disapa Marsim membuka percakapan di rumahnya tentang predikat pilihannya. Di ruang tamu yang tak begitu luas disesaki seperangkat meja kursi kayu, televisi 14 inchi ditata di atas buffet mungil yang bagian bawahnya berisi barang pecah belah. Seperti umumnya masyarakat pedesaan yang memajang piring dan gelasnya di ruang tamu sebagai koleksi istimewa sekaligus hiasan. Rona kesederhanaan memancar dalam rumah petugas keamanan Desa Ngebret RT 02 RW 03 Kecamatan Cerme, Gresik tersebut.
Sejak tahun 1990 Suwoto resmi menggunakan uniform petugas Pertahanan Sipil (Hansip) di Kupang Krajan, perkampungan belakang hotel LA Surabaya. Tugasnya menjaga keamanan lingkungan, berjaga dan meronda kampung setiap malam serta membantu orang yang sedang hajatan dengan mengatur lalu lintas dan parkir kendaraan undangan.
Hidup berijazah SD, apa yang bisa diandalkan untuk berkompetisi di bursa kerja Surabaya? Namun sebagai tanggung jawabnya pada hidup, Suwoto tak pernah merasa malu untuk mengadu nasib dengan menjadi tukang sepatu di Jl. Kinibalu, karena hasilnya tidak menggembirakan dia pun pindah pekerjaan menjadi kernet bus antar provinsi Surya Buana jurusan Surabaya – Jakarta.
Meski setiap hari bisa berkelana ke berbagai kota tapi pekerjaan menjadi kernet tak membuatnya nyaman. Dijajalah kuli bangunan juga tukang pelitur namun ujung-ujungnya kembali ke Hansip. “Apa yang bisa diandalkan dengan sekolah SD selain jadi Hansip. Namun dengan menjadi Hansip saya merasa berperan membantu menjaga suatu lingkungan,” tutur lelaki kelahiran 3 April 1949 ini.
Karena tak betah tinggal di kawasan padat penduduk membuat Napi’ah, istrinya mengajak hijrah ke desa. Tak lama berselang dari kepindahannya, warga Ngebret mengadakan rapat kampung untuk memilih Hansip baru karena pejabat lama, Muchtar, mengundurkan diri. “Karena banyak warga yang tahu kalau saya pernah jadi Hansip lalu orang-orang memilih saya menjadi pengganti sekaligus komandan,” tutur Suwoto bangga, senyumnya mengembang.
Tugas utamanya menjaga keamanan kampung. Diantaranya jika ada kegiatan dia dan teman-temannya mengawasi agar berlangsung aman juga apabila ada warga yang bertikai, dia pula yang ditugasi untuk mendamaikan.
Berapa upah yang diterima untuk tugas seperti itu? “Upah?”, Suwoto balik bertanya lalu disahut sendiri, “Tidak ada. Kalau dikasih ya syukur, kalau tidak yaah.. mau bagaimana lagi.” Tapi sekarang mulai ada perhatian. Hansip mulai mendapat tunjangan dari pengurus kampung meskipun tidak banyak, istilahnya uang rokok dan kopi. Bila ada orang hajatan atau menjaga upacara 17 Agustus di kantor Kecamatan Cerme biasanya diberi angpao.
Apa cukup untuk hidup? Suwoto tampak terkesiap, “Cukup darimana? Ya pasti tidak cukuplah… Kan dapat duitnya kalau sedang ada acara, kalau tidak ya tidak dapat uang.” Karena pendapatan yang tidak menentu itulah Suwoto menerima tawaran untuk menjaga toko di kawasan Rungkut, Surabaya. Jam kerjanya mulai pukul 19.00 sampai 06.00. Jarak tempuh ke tempat kerja yang begitu jauh sekarang terasa dekat dengan membaiknya akses jalan. Tak terasa sudah 10 tahun dia mengemban tugas tersebut.
Seiring meningkatnya orang menempati pemukiman di wilayah barat membuat jarak tempuh Cerme – Surabaya kian dekat. Perasaan seperti itu juga yang membuat Suwoto enteng saja menempuh jarak 80 km Cerme – Rungkut, pergi pulang saban hari. Bukan itu saja yang dilakukan untuk menyambung hidup, bila sedang libur dia sering diminta tetangganya membantu perbaikan rumah atau melitur perabot.
Meski beragam pekerjaan yang ditangani namun jangan ditanya soal dedikasinya sebagai Hansip. Apabila warga kampung membutuhkan perannya maka dia memilih ijin untuk absen menjaga toko. “Karena saya tinggal di kampung maka saya lebih mementingkan urusan kampung. Lagi pula saya memutuskan untuk menjadi Hansip hanya karena ingin menjaga kampung merasa aman dan tidak pernah menuntut bayaran,” tuturnya. Beberapa warga yang ditanya tentang perannya mengamini, mereka merasa aman jika Suwoto menjaga desanya dan selama ini memang aman-aman saja, belum pernah ada kejadian yang merugikan masyarakat Desa Ngebret.
Dalam menjaga kelanggengan seragam pun Suwoto menunjukkan kecintaannya. Setiap usai tugas , dia meminta seluruh seragam anak buahnya, pakaian dan sepatu, kemudian dia yang mencucinya, disetrika lalu disimpan secara rapi. Dia tidak ingin seragam itu rusak apalagi hilang karena semuanya menggunakan uang rakyat pedesaan.
Betapa elok jika para pejabat dan wakil rakyat mempunyai kesadaran seperti Hansip Kampung ini. ***

Komentar & Pertanyaan yang santun pasti dimuat, iklan boleh tapi jangan berlebihan (SPAM)

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: