Sungkowo, (Penggali Kubur) Sangat Sulit Menggali Makam Orang Pelit

Reporter : Hare Kurniawan & Hilal Mabruri
Penulis : Rokimdakas

Sungkowo : menggali tanah kubur orang pelit, sungguh sulit

Sungkowo : menggali tanah kubur orang pelit, sungguh sulit

Ada satu kepastian dalam hidup ini: mati. Tapi siapa yang membantu jika kematian itu benar-benar tiba? Mendengar pertanyaan itu Sungkowo (51) hanya tersenyum. Sebab pasti dirinya yang akan dicari jika malaikat maut telah menjalan tugasnya. Sudah 32 tahun dia sukarela menggali kubur. “Mudah tidaknya penggalian kubur itu tergantung amal perbuatan orangnya semasa hidup, jika orangnya pelit pengerukan tanahnya amat sulit.” Ini bukan kisah sinetron.

“Kalau ada orang meninggal jangan pernah kamu abaikan. Biarpun sedang bekerja atau keluargamu tidak bisa makan sekalipun, menggali kubur harus tetap kamu utamakan”. Sungkowo yang sedang diwejang Pakdenya, Alm. Seroh, menyimak kata demi kata agar benar-benar bisa memahami pekerjaan yang akan dilakukan, menjadi penggali kubur. Adegan tersebut berlangsung pada 1977.
Sebenarnya pakdenya tidak menyampaikan pesan tersebut secara tiba-tiba namun berdasar pengamatan lelaki tua itu pada keponakannya yang gemar mendarmakan tenaganya membantu orang yang sedang kesusahan. Di awal tahun ‘70 Sungkowo sudah mulai belajar menggali kubur dan tujuh tahun kemudian dia merasa sudah mampu menangani pekerjaan yang jarang dilakukan banyak orang. Sejak itulah dia resmi menjalankan amanat pakdenya serta menjadi penerus penggali kubur lama yang telah udzur. Meski tidak mendapat gaji tetap namun dia lakukan secara sukarela, ikhlas.
Saat ditanya, darimana sumber penghasilan untuk mencukupi kebutuhan keluarga? Suami Ri’ah ini tak segera mengucapkan kata-kata, pandangannya kosong, ada sesuatu yang bisa dirasakan namun sulit diutarakan. Hingga perbincangan berlangsung beberapa saat dia tetap tidak menemukan jawaban. Tersenyum saja responnya.
Lelaki kelahiran 2 Juni 1958 ini tumbuh dan berkembang dalam keluarga miskin. Hanya sampai Sekolah Rakyat pendidikan yang dilewati, beragam pekerjaan kasar dia lakukan hingga menikah dengan Ri’ah dan dikaruniahi seorang putri bernama Niswatul Rohma. Di sebuah rumah sederhana di Desa Domas, RT 04 RW 02 Kecamatan Menganti, Gresik inilah mereka tinggal.
Karena tidak punya sawah atau ladang maka pekerjaan yang dilakukan adalah menjadi kuli bangunan insidentil, kadang tampil sebagai hansip. “Apapun yang saya lakukan hanyalah ingin membahagiakan anak dan istri agar tak kurang suatu apapun,” Kowo, begitu dia biasa disapa. Bila sedang bekerja di bangunan kemudian ada orang di desanya yang meninggal maka dia akan minta ijin pada mandornya untuk menggali kubur dahulu. Dia mencoba untuk tetap amanah.

Belajar Dari Kubur
Mendengar kata kuburan bulu kuduk kita pasti segera meremang. Lubang yang dalam dan tulang belulang berserakan menjadi pemandangan pelengkap dari sebuah kawasan pemakanan yang telah penuh sesak namun harus tetap dipergunakan. Di arena seperti itulah Kowo beraksi dan tak terhitung pengalaman gaib yang dialami selama mendulang makam.
Suatu ketika dia menjalankan tugasnya, tanah yang biasanya empuk tiba-tiba berubah keras. Setiap linggis dihujamkan serasa membentur batu, beberapa kali dipaksakan untuk menembus kedalamnya ternyata tidak juga berhasil. “Ujung linggis saya sampai patah, aneh” , Kowo terheran-heran. Beberapa waktu berselang dia menceritakan pada beberapa rekannya tentang pengalaman tersebut dan usut punya usut ternyata jenazah yang dia tangani itu semasa hidupnya terkenal kaya raya tapi kikir. Meskipun tergolong kaya tapi tetangganya tidak mengakui kalau dia orang berpunya karena mereka tidak pernah menikmati kekayaannya, saking kikirnya.
“Saya niteni, gampang tidaknya menggali kubur itu tergantung dari amal perbuatan semasih hidup. Kalau orangnya pelit, bukan main sulitnya mengeduk tanahnya,” Kowo mengudar pengalamannya.
Sebaliknya dia pernah terheran-heran ketika menemukan kain kafan yang masih utuh membungkus tulang belulang. Kejadiannya berlangsung di makam lama di makam Domas, ketika linggisnya mendongkel tanah tiba-tiba terlihat kain kafan, dia berhenti lalu menyibak tanahnya untuk mengambil kain kafan tersebut. Anehnya, meski sudah tertanam puluhan tahun namun kondisinya kainnya masih utuh, juga tulang-tulangnya tertata rapi . “Hanya orang sholeh saja yang seperti itu,” ucap sukarelawan tersebut.
Mengamati betapa berat beban kerja ditangani Kowo, kepala Desa Domas pernah mengusulkan untuk menarik biaya bagi warga yang menggunakan jasanya namun Kowo menolak. Alasan dia, kalau orang yang dipungut biaya memang sedang punya uang bukan masalah tapi kalau tidak? Kan malah bertambah berat kesusahannya. Lantas secara santun dia menampik usulan itu.
Lebih lanjut dia katakan, kalaupun ada yang memberi imbalan biasanya selalu digunakan untuk membeli peralatan baru seperti linggis, cangkul dan sekop. Apabila dianggap sudah lengkap maka dia akan menolak uang yang diberikan sebagai balas budi pertolongannya. Karena itulah hanya di Desa Domas saja orang yang kesusahan tidak dipungut biaya.
Inilah potret pengabdian yang luhur, sayangnya masyarakat terkesan meremehkan. ***

Komentar & Pertanyaan yang santun pasti dimuat, iklan boleh tapi jangan berlebihan (SPAM)

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: