Sakri, (Tukang Sapu Pasar Balongpanggang) Karena Melarat Rela Bekerja Berat Sampai Buta

Reporter : Hare Kurniawan & Hilal Mabruri
Penulis : Rokimdakas

Sakri terpaksa berhenti menyapu pasar, karena hampir Buta

Sakri terpaksa berhenti menyapu pasar, karena hampir Buta

Pernahkah para pedagang yang mendulang kekayaan di pasar tradisional memikirkan nasib penyapu pasar? Jika kondisi pasar tampak kotor dan jorok, siapa yang mau belanja?
Di tangan penyapu lah nasib pasar bergantung, tapi siapa peduli? Lihatlah Sakri (60) yang telah 28 tahun membersihkan pasar Kedungpring, Balongpanggang, kesejahteraannya ibarat masih jauh panggang dari api. Meski tugasnya cukup berat, Sakri hanya bisa menelan ludah menerima 12 ribu rupiah tiap bulan.

Tahun 1981 peta kehidupan Sakri bergeser. Awalnya dia menjadi kusir, dengan modal seekor kuda dan sebuah dokar, kehidupan keluarganya bergantung pada putaran roda pedati. Trayek angkutan kota menuju pedesaan mulanya masih sedikit, juga volume sepeda motor belum membludak. Namun perkembangan jaman senantiasa menawarkan kemudahan. Jalur angkot yang melintasi pelosok desa kian bertambah, peran sepeda motor telah menggantikan sepeda angin, fenomena itu membuat Sakri tak mampu lagi memberdayakan kudanya.
“Mulanya saya paksakan untuk tetap menjalankan dokar meskipun semakin sedikit orang yang menumpang tapi lama kelamaan saya tidak tahan karena pemasukan tidak cukup untuk makan. Jangankan untuk keluarga, untuk makan sendiri saja tidak cukup,” tutur Sakri, bapak lima anak warga Dusun Kedungrukun, Desa Kedungpring, Kec. Balongpanggang, Gresik, dengan napas berat. Kondisi matanya yang terkena katarak sejak kecil menjadi beban tersendiri bagi dirinya untuk mengembangkan aktivitas.
Betapa berat beban hidup yang harus dipanggul. Di rumah, istrinya Suparmi beserta anak-anaknya berharap pada jerih payahnya namun setiap pulang yang dia bawa hanya perasaan perih dan payah. Walau lelaki kelahiran Gresik, 3 Maret 1949 ini sedang dalam stamina puncak, namun dalam usianya yang ke-32 dia tidak mempunyai sarana produksi. Sawah apalagi tambak, sejengkal pun tidak punya. Satu-satunya sandaran hidup hanyalah dokar yang masa penggunaannya sudah usang.
Sebagai orang yang pernah mendengar ajaran agama, dia berusaha untuk tidak kalap, menghalalkan segala cara untuk bertahan hidup. Meski didera kesulitan dia meyakini pasti akan ada kemudahan. Dalam perenungannya, dia teringat pada beberapa pengajian yang dia kunjungi, pengkhotbah pernah mengucap, “Disamping kesulitan ada kemudahan.”
“Kula percados Pengeran niku welas asih, pasti nyukani pitulungan,” tutur bapak dari Moch. Fatchur, Moch. Fauz, Agus Subagyo, Ely Ernawati, Fery Hermawan, ini menuturkan keyakinannya dalam dialek Gresik Benjeng-an, “Saya percaya Tuhan itu pengasih penyayang, pasti memberi pertolongan.” Dia pernah mencoba beralih pekerjaan menjadi tukang loper es lilin tapi hasil tidak banyak menolong.

HIJRAH PEKERJAAN
Karena sering memarkir dokar di seputar pasar, membuatnya mengenal banyak orang. Diantaranya pengurus pasar yang kemudian menawari pekerjaan menjadi tukang sapu pasar. “Tanpa banyak pertimbangan saya terima tawaran itu karena saya harus punya penghasilan agar bisa menafkahi keluarga meski hasilnya kecil,” Sakri mengenang awal mula dia hijrah pekerjaan menjadi tukang sapu pasar Kedungpring. Hanya karena melarat dia rela menerima pekerjaan berat. Dengan bekal pendidikan Sekolah Rakyat (SR) selama dua tahun, apa yang bisa diperani di tengah bergesernya budaya agraris ke era industrial?
Bagi masyarakat Balongpanggang pasti pernah bertandang ke pasar Kedungpring yang tergolong besar, lokasinya tepat di tepi jalan raya kecamatan. Beragam komoditas diperdagangkan, mulai sayur mayur, daging, ikan hingga pakaian dan obat-obatan. Tugas Sakri adalah menyapu seluruh area ketika kegiatan pasar sudah selesai kemudian sampahnya dibuang ke TPA – tempat penampungan akhir- di pasar hewan yang berjarak sekitar 50 meter arah timur.
Saat ditanya soal upah, Sakri tampak tercenung, dia tidak siap menerima pertanyaan itu apalagi mengungkap. Setelah pertanyaan itu diulang dengan selingan tema lain dia baru menyahut, “Seingat saya pertama kali menerima upah Rp 12 ribu per bulan setelah beberapa tahun naik Rp 80 ribu, tahun 2000an menjadi Rp 150 ribu dan terakhir Rp 250 ribu” .
Apa cukup untuk menafkahi keluarga dengan lima anak? Serta merta Sukri menyela, “Wah .. ya jelas nggak cukup, tapi daripada nggak ada.” Jawaban Sakri menyiratkan falsafah Jawa tentang nerima ing pandum, bahwa hidup harus siap untuk menerima apa pun walau jauh dari harapan. Sementara bahasa ludruk mengatakan, “dicokot alot diuntal nyengkal”. Digigit sulit, ditelan melintang. Sebuah keterpaksaan seorang Sakri. Untuk menopang kebutuhan keluarga, istrinya Suparmi membantu berjualan es dan jajan untuk anak-anak sekitar rumahnya.
Jika tangan tak memegang uang, pikiran kita membayangkan yang bukan-bukan, tidak terkecuali Sakri. Kejadiannya beberapa tahun silam, ketika tangannya menggerakkan gagang sapu, pandangannya menyisir area pasar, siapa tahu ada rejeki nomplok? “Ketika saya melihat sebuah dompet di samping gerobak, secara spontan saya tergerak untuk meraihnya,” kenangnya, “ tapi belum sampai tersentuh dari arah belakang ada suara menyela, dompet itu isinya enam ratus ribu…”
Setelah dibuka ternyata benar, Sakri terpana, dompet itu diambil oleh si empunya. “Memang bukan rejeki saya, apa boleh buat. Seandainya nasib saya lagi mujur, kan lumayan dapat bonus bayaran dua bulan,” tutur si penyapu seraya tersenyum mengenang pengalaman yang tak terlupakan. Setelah itu dia tidak berani lagi berangan-angan lagi tentang rejeki nomplok.
Di usia senjanya Sakri berharap anak bungsunya Fery Hermawan yang kini masih duduk di kelas 4 SD bisa bersekolah hingga perguruan tinggi. Siapa tahu nasib awak lagi mujur? Mumpung berangan-angan masih belum bayar.
Memandang potret kehidupan Sakri, kita dihadapkan pada realita kemiskinan yang menghimpit sebagian besar masyarakat yang tak berdaya. Bentuk rumahnya berdinding gedeg guling reyot beralaskan tanah. Sekarang kondisi matanya buta. Sudah tiga bulan dia telah menggantung sapu, tidak mampu lagi bekerja karena penyakit kataraknya telah akut. Sementara para pedagang pasar Kedungpring sepertinya tidak melihat adanya sesuatu yang berubah di sekitar mereka dengan tidak hadirnya Sakri. Begitulah panggung sandiwara. ***

3 Tanggapan

  1. aku teman anak nya pak sakri,anak pak sakri ada 2 yaitu:1,hermawan,2feri itu teman sekelas ku dia tergolong anak bodoh dan miskin.dia anak kls 4

  2. dia adalah saudara ku. dan dia sama hidup seperti aku,tolong kasihani kami ,untuk membantu kami perlu rumah.

Komentar & Pertanyaan yang santun pasti dimuat, iklan boleh tapi jangan berlebihan (SPAM)

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: