Kastimin, (Mudin Kampung) Baru 2 Tahun Dapat Bayaran Rp 30 Ribu / Jenazah

Reporter : Hare Kurniawan & Hilal Mabruri
Penulis : Rokimdakas

Mbah Kastimin, Mudin kampung dari Ujung Pangkah, Gresik

Mbah Kastimin, Mudin kampung dari Ujung Pangkah, Gresik

Apa yang dialami seseorang sering menyimpang dari perkiraan, seperti dialami Kastimin. Setelah lulus dari pesantren Legowo dia berharap bisa menjadi ustadz atau mubaligh sambil berdagang namun warga desanya meminta agar meminta dia menjadi mudin kifayah mengurusi jenazah, sebuah realita yang jauh dari mimpi.

Rp 30 Ribu / Jenazah
Tidak semua orang punya keberanian menghadapi mayat karena ketika ada orang yang mati muncul persepsi kengerian akibat pengaruh kisah-kisah horor. Itu sebabnya ketika Dusun Sumber Suci, Desa Rangkah Wetan, Ujung Pangkah, Gresik tidak ada orang yang berperan sebagi mudin kifayah yang bisa mengurusi jenazah kalangan warga tampak resah.
Ketika digelar musyawarah kampung tahun 1984, Kastimin yang telah lama meninggalkan Pondok Pesantren Legowo di Bungah tanpa terduga diminta oleh warga desa agar mau menjadi mudin. Warga beralasan bahwa sebagai alumni pesantren, Kastimin pasti pernah diajari tentang hukum mengurus jenazah serta doa-doanya. “Saya merasa masuk dalam situasi yang sulit untuk melepaskan diri. Saya benar-benar tak berdaya menolaknya,” tutur lelaki kelahiran Lamongan 1935 ini mengenang masa silamnya saat menjelang usia emas.
Sejak kembali ke desa Kastimin mencoba menanggalkan semua impiannya yang pernah dibangun selama mondok di pesantren. Sebagaimana umumnya para santri jika telah lulus setidaknya ingin melibati dunia pendidikan dengan menjadi guru agama, juru dakwah atau jika beruntung bisa menjadi pegawai negeri, suatu pekerjaan yang bisa diharap bisa memberi kesejahteraan. Tapi apa yang diharap dari mudin kampung? Hari-hari pertama Kastimin menerima jabatan itu tidak serta merta bisa meredam gejolak jiwanya yang berkecamuk.
Perasaan seperti itu pernah dialami ketika hendak dikawinkan oleh orang tuanya dengan perempuan yang belum pernah dikenalnya. “Ternyata saya dijodohkan dengan anak gadis yang masih berumur 9 tahun padahal saya berusia 25 tahun, saat itu seperti terjebak dalam situasi yang sulit untuk berkelit. Akhirnya saya turuti saja kemauan orang tua dan ternyata tidak ada masalah, sampai sekarang rumah tangga saya rukun-rukun saja,” tutur Kastimin yang beristrikan Nemu. Perkawinan mereka dikaruniahi enam orang anak, antara lain Nasikin (54), Munif (43), Nasrullah (40), Saiful (38), Muhfid (37) dan Siti Aisah (23).
Setelah 25 tahun berlalu, Kastimin masih tetap menjabat sebagai mudin kampung dengan beragam pengalaman menghampiri hidupnya. S uatu hari dia didatangi beberapa orang yang mengabarkan ada mayat terapung di bengawan kemudian dia diminta mengurusi mayatnya. Ketika Kastimin tiba di lokasi, dia melihat mayatnya sudah tidak utuh, beberapa bagian tubuhnya tercerai berai, terpaksa dia memunguti lalu disucikan sebelum dikubur di pemakaman desa.
Meski tugas yang ditangani tidak ringan namun imbalan yang diberikan masyarakat belum seimbang. Setiap mengurus jenazah dia mendapat imbalan Rp 30 ribu, “Baru dua tahun pengurus desa membuat kebijakan tersebut, sebelumnya tidak ada. Tapi meski tidak mendapat imbalan saya tidak mempersoalkan karena niatan saya hanyalah ingin beramal sebanyak-banyaknya mumpung saya masih mampu,” tutur Kastimin. Kini istrinya juga ditunjuk oleh warga desa untuk menjadi mudin perempuan.
Yang dirasa menghibur, dia dipercaya menjadi mudin negara yang membantu pencatatan nikah dengan masa bhakti 1990 hingga 2010. Untuk jabatan tersebut Kastimin memperoleh tunjangan Rp 200 ribu per bulan sebelumnya yang hanya Rp 75 ribu. Sementara jika tidak ada tugas kemudinan, lelaki berusia senja tersebut menjaring ikan di sungai sekitar desa untuk dijual, hasilnya berkisar Rp 5 ribu hingga Rp 15 ribu untuk kebutuhan keluarga.
Di mata banyak orang, jabatan mudin nikah dinilai cukup basah tapi tidak demikian dengan Kastimin. Jika sedang mengurus perceraian dia justru sering merugi karena rela membayar dulu ongkos perkaranya namun setelah masalahnya diputus pengadilan agama orang-orang yang beperkara yang seharusnya membayar biaya perkara ternyata hanya mengucap terimakasih lalu menghilang begitu saja. Karena sering dibohongi sekarang dia dibantu oleh anak bungsunya, Siti Aisah yang berperan sebagai juru tagih.
Meski tugas mudin nikah menjanjikan keuntungan namun jika sedang bersamaan dengan orang meninggal maka dia lebih memilih menangani jenazah karena tidak semua orang mampu mengatasi. “Bagaimanapun saya harus bisa mengurus keduanya,” Kastimin mengunci percakapan di ruang tamu rumahnya.***

Komentar & Pertanyaan yang santun pasti dimuat, iklan boleh tapi jangan berlebihan (SPAM)

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: