Amiroh, (Mudin Perempuan) 56 Tahun Tangani Jenazah Digaji Rp 100 Ribu Per Bulan

Reporter : Hare Kurniawan & Hilal Mabruri
Penulis : Rokimdakas

Amiroh, 56 Tahun menjadi Mudin Wanita

Amiroh, 56 Tahun menjadi Mudin Wanita

Kita semua pernah merasakan betapa paniknya ketika ada sanak keluarga meninggal dunia, siapa yang mengurusi jenazah hingga ke pemakaman? Siapapun yang ditanya pasti menunjuk, “Mudin”. Itulah profesi Amiroh (74) yang dilakoni sejak tahun 1953. Meski perannya sangat dibutuhkan namun perhatian masyarakat pada pengabdiannya masih amat rendah. Baru dua tahun terakhir dia digaji Rp 100 ribu per bulan.
Usia 18 tahun bagi seorang gadis merupakan masa ranum, daya pikatnya begitu kuat bagi siapapun yang memandangnya. Jika gadis-gadis sebayanya asyik berdandan untuk menarik perhatian lawan jenis agar meminangnya namun tidak demikian Amiroh. Kembang Desa Nangka Kerep, Kecamatan Bungah, Gresik di tahun 1950 malah senang mengurusi mayat membantu emaknya, Mukarromah, yang telah puluhan tahun menjadi mudin.
“Menginjak usia limabelas saya mulai membantu emak menangani jenazah khusus perempuan. Setelah tiga tahun magang dan dianggap mampu lalu emak menawari untuk melanjutkan profesinya, tanpa ragu atau takut saya mengiyakan. Sejak itulah secara resmi saya jadi mudin wanita,” tutur Miroh, sapaan perempuan kelahiran Gresik 30 Juni 1935, perkawinannya dikaruniahi 10 anak.
Istri Mochammad Syafiq ini mengatakan, bahwa pilihannya menjadi mudin wanita lantaran dorongan hati untuk menolong orang lain yang sedang kesusahan. Jika terdapat sebuah keluarga dirundung kesedihan karena familinya ada yang meninggal dunia saat itulah Miroh mengulurkan tangan, membantu mengurusi jenazahnya. Pada saat seperti itu pula ada perasaan bangga atas kemampuannya yang tidak semua orang memiliki.
Di jaman serba hitungan seperti sekarang, sikap manusia kian individualis dan rapuhnya kepedulian antar-sesama maka keberadaan sosok seperti Amiroh menjadi amat langka, apalagi yang ditangani bukan pekerjaan lumrah. Jika binatang mati masih banyak orang berebut untuk memanfaatkan dagingnya tetapi kalau manusia? Apalagi mayatnya mengalami perubahan bentuk? Apa tidak ngeri? Bagi Miroh, kapanpun, dimanapun dan bagaimanapun mayat yang dihadapi dia seakan mati rasa, dirinya imum dari segala rasa takut.

Peristiwa Aneh
Bukan pekerjaan gampang yang harus ditangani mudin. Ia harus paham tata cara mengurus mayat secara syariat Islam. Mulai cara membopong, memangku menjelang dimandikan, cara membersihkan dan penyiraman air kemudian membungkus dengan kain kafan. Kemudian berlanjut ke prosesi pelepasan jenazah oleh segenap keluarga hingga pemberangkatan ke makam serta cara memasukkan ke liang kubur beserta ritualnya. “Apapun yang berkaitan dengan penanganan jenazah saya diajari langsung dari emak,” tutur Amiroh mengenang awal kiprahnya di bidang layanan masyarakat.
Apa tidak pernah mengalami peristiwa aneh? “Ya pernah se…,” sahut wanita senja bercucu …. ini dengan dialek Gresik. “Suatu ketika, tengah malam, sehari setelah menangani jenazah seseorang saya dikejutkan peristiwa aneh. Daun pintu rumah terdengar diketuk berkali-kali. Mendengar suara gaduh tersebut kemudian suami saya menghampiri asal suara. Ternyata di depan pintu terlihat seekor bebek. Seperti menghadapi seseorang, suami saya bertanya, ada keperluan apa datang kemari? Seketika itu juga si bebek lari terbirit-birit, menghilang di kegelapan… Aneh?”
Peristiwa itu membebani pikiran keluarga Amiroh selama berhari-hari? Isyarat apakah yang membuat bebek itu bersikap seperti itu, bebek macam apa kok mengetuk pintu tengah malam? Amiroh lalu mencoba mengingat kejadian yang dialami beberapa hari sebelum menangani jenazah.
“Saya kemudian teringat, beberapa waktu sebelum menangani jenazahnya, almarhumah memberi saya sepotong baju. Peristiwa itu kemudian saya utarakan pada beberapa orang, mereka kemudian menganjurkan agar saya mengembalikan baju pada keluarganya. Tidak berselang lama saya turuti perintah tersebut, setelah saya serahkan tidak lagi diganggu oleh bebek aneh”.
Jika melihat pekerjaan yang harus ditangani bukan sesuatu yang mudah sudah sepatutnya memancing pertanyaan, berapa upah yang diterima? Amiroh tersenyum sesaat sebelum menyahut, “sejak awal mewarisi pekerjaan ini saya diwanti-wanti oleh emak agar tidak mencari duit dari orang yang kesusahan tapi tolonglah secara ikhlas. Jadi orang yang saya tolong pun seikhlasnya saja jika mau memberi imbalan, itu pun sangat jarang yang memberi. Jujur saja, nawaitu saya jadi mudin adalah hanya untuk meringankan beban orang susah…”
Uang Makan Mudin
“Dulu sebelum ada bantuan uang makan mudin rasanya tidak ada perhatian sama sekali atas keberadaan mudin,” tutur Amiroh atas sikap masyarakat sekitarnya, “namun dalam dua tahun terakhir pengurus desa membuat keputusan yang cukup menyenangkan yakni memberi uang makan mudin yang diserahkan setiap 6 bulan senilai Rp 600 ribu atau Rp 100 ribu per bulan.
“Meski sebutannya uang makan tapi sebenarnya hanya cukup untuk beli permen…” Kelakar Miroh membuat suami dan anaknya yang mendampingi perbincangan tertawa berderai.
Berapapun rupiah yang diterima dia menyikapi dengan gemi, ditabungnya rupiah demi rupiah di pundi kesayangannya dalam almari agar suatu ketika bisa mewujudkanya obsesinya. “Saya ingin naik haji.”
Disinggung soal pengganti Miroh punya cerita lain, “sebenarnya saya berharap salah satu anak saya ada yang berminat mewarisi pekerjaan ini tetapi tidak ada yang mau, mereka mengaku takut. Tidak ada yang berani melihat mayat. Anehnya, malah keponakannya bernama Amanah yang berminat karenanya dia mengajari tata cara menangani jenazah. Sudah setahun calon pengganti itu telah mengasah ketrampilannya menyiapkan diri menjadi mudin perempuan.
Bila merenungi perjalanan hidupnya, Amiroh sering bersyukur, mungkin karena keikhlasannya dalam membantu orang susah membuat kehidupan keluarganya tidak pernah susah, ada saja rejeki dari arah tak terduga sehingga tidak pernah merasa kekurangan. Gusti Allah mencukupi siapapun yang membantu pekerjaaanNya.
Sepenggal ayat ini patut kita ukir di dinding hati. ***

Komentar & Pertanyaan yang santun pasti dimuat, iklan boleh tapi jangan berlebihan (SPAM)

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: