Abdurrachman Chadry, 37 tahun menjadi Guru Bantu

Reporter : Hare Kurniawan & Hilal Mabruri
Penulis : Rokimdakas

Chadri sedang membagi 'ilmu' kepada anak-anak kampung

Chadri sedang membagi 'ilmu' kepada anak-anak kampung

Betapa sering kita dianjurkan agar gemar berbagi ilmu demi terbentuknya kaum penerus yang lebih baik namun hanya sedikit yang melakukan anjuran mulai itu. Diantara yang sedikit itu tercatat nama Abdurrachman Chadry (68). Bermodal bahasa Inggris dia mengajari anak-anak seputar Gresik.

Abdurrachman Chadry atau biasa disapa Aman. Pendidikan formalnya hanya sampai SMEA, itupun tidak tamat, namun semangatnya untuk menimba ilmu begitu menggebu. Karenanya pada tahun 1958 –1959 dia belajar bahasa Inggris dengan bimbingan Buth Peters, ekspatriat asal Amerika Serikat. Dengan modal kemampuan tersebut dia memberanikan diri mengajar private. Dengan menggunakan sepeda angin dia menghabiskan hari-hari panjangnya untuk mengunjungi rumah demi rumah siswanya di kampung seputar Gresik.
Di awal Maret 1972 KH. Wahid Tamim dan Mazir Gozi, kakak beradik yang cukup lama mengamati kiprahnya Aman mengajak mendirikan lembaga kursus untuk melayani anak-anak yang tinggal di perkampungan, tidak lama kemudian berdirilah Iqbal English Study Club (IESC). Penggunaan nama Iqbal diambil dari nama pujangga Pakistan benama M. Iqbal.
Sebagai tempat belajar sementara digunakanlah rumah Wahid Tamim kemudian pindah ke gedung SMA NU (Nahdlatul Ulama). “Saat itu SPPnya hanya Rp 75,” tutur Amang, warga kampung Nyai Ageng Arem Arem VI/14 Gresik, Desa Kebungson, Gresik. Namun aktivitas Iqbal di SMA NU 1 tidak berlangsung lama karena ruangan dipakai kursus pada malam akandigunakan untuk persiapan ujian. “Karena statusnya menumpang maka kami harus pindah. Di saat kebingungan itulah muncul alternatif pindah ke rumah saya.”
Upaya Iqbal untuk memperoleh gedung sebagai pusat kegiatan belajar mendapat . Pada tahun 1979, lembaga pendidikan Darul Islam di Jl. KH Kholil merelakan ruang kelasnya digunakan untuk kegiatan kursus malam hari, selama 16 tahun Iqbal beraktivitas di sana.
Pada perkembangannya Aman menyadari bahwa pengetahuan yang dia miliki telah jauh di bawah orang-orang yang dulu pernah jadi muridnya. Diantaranya mereka sudah banyak yang menjadi sarjana sehingga mereka yang lebih tepat melanjutkan kursus ini dengan metodologi up to date. “Sekarang saya tidak lagi mengajar tapi hanya menjadi guru bantu jika ada pengajar yang tidak masuk,” tutur Aman yang dijuluki Umar Bakri oleh teman-temannya karena figurasi dirinya seperti tokoh yang disajikan Iwan Fals dalam karya legendanya
Dengan alasan mencari untuk mencari suasana baru, IESC boyongan ke MI Poemusgri sampai sekarang dan sudah 16 tahun menumpang di lokasi tersebut. Dengan menempati delapan kelas IESC merekrut 230 siswa SMP dan SMA dengan jadwal berbeda. Untuk SMA pada hari Senin, Rabu, Jumat dengan iuran sebesar Rp Rp 50 ribu sedang tingkat siswa SMP kelas I dan III pada hari Selasa dan Jumat dan kelas II pada hari Senin dan Rabu, besaran SPPnya Rp 35 ribu per bulan.
Ditanya tentang pola manajemen yang diterapkan IESC, Aman menuturkan, sejak berdiri sampai sekarang menerapkan manajemen ikhlas. Para pengajarnya tidak dibayar tapi hanya diberi tunjangan transportasi. Karena itu untuk menjadi pengajar Igbal dibutuhkan niat yang kuat dan keikhlasan untuk mengamalkan ilmu bagi masyarakat. “Saya sendiri dalam sebulan mendapat tunjangan Rp 200 ribu,” tutur Aman yang bertugas untuk mengantar surat teguran ke rumah siswa yang telah tiga kali tidak mengikuti kursus.

Juara Harmonika
Bukan Aman namanya jika tidak pandai berulah. Sisi lain kehidupannya yang menarik adalah dia dikenal mahir meniup harmonika. Dua kali dia meraih nilai teratas dalam lomba harmonika yang diselenggarakan Radio Suzana Surabaya pada tahun 1987 dan 1997. Atas kemahirannya tersebut dia akrab disapa Amang Genggong.
Yang menarik dari pola permainannya adalah kemampuannya menyajikan tiga suara sekaligus,yakni melodi, rithem dan bass saat menyajikan lagu Ampar Ampar Pisangg, Rujak Ulek, Mother Ho Are You To Day dan lain-lain. Untuk bisa seperti itu dia butuh waktu belajar selama lima tahun. Seperti untuk belajar suara satu guna menyajikan lagu-lagu membutuhkan waktu setahun. Sedangkan rithem dan bas masing-masing ditempuh dua tahun.
“Saya memilih harmonika karena harganya murah dan praktis untuk dibawa kemana suka,” alasannya. Yang dia impian adalah memiliki harmonika merek Hofner dengan 24 lubang.
Ketrampilan bermain harmonica dipelajari secara otodidak sejak Januari 1954, setahun kemudian dia memimpin orkes kanak-kanak ‘Seruni’ hingga tahun 1959. Menginjak dewasa dia bergabung dengan orkes gambus peniup harmonika dan vokalis yang mendendangkan lagu Melayu, India, Arab serta Indonesia.
Bersama harmonika kesayangannya dia pernah mempopulerkan nama Gresik di hadapan masyarakat musik di Jakarta dengan tampil di Warung Apresiasi dan Taman Ismail Marzuki dengan menyajikan tembang-tembang surau sebagai cermin khazanah budaya Gresik. ***

Komentar & Pertanyaan yang santun pasti dimuat, iklan boleh tapi jangan berlebihan (SPAM)

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: