Abdullah Chobir, (Muadzin) 30 Tahun Tak Pernah Telat Menyiapkan Shalat Berjamaah

Reporter : Didik Haryanto & Musa Al Kadzim
Penulis : Rokimdakas

Pak Chobir, 30 tahun jadi Muadzin Masjid Jami' Gresik

Pak Chobir, 30 tahun jadi Muadzin Masjid Jami' Gresik

Tak ada yang istimewa pada penampilan Abdullah Chobir (76), pada jam-jam tertentu dia terlihat mengayuh sepeda butut di seputar alun-alun. Namun jika disimak kehidupannya , kita terperanjat dibuatnya. Betapa tidak, selama 30 tahun dia melantunkan adzan dan menyiapkan shalat berjamaah di masjid jamik Gresik. “Alhamdulillah, saya tak pernah badar.”

“Selama berserah diri, ikhlas menjalan tugas, kehidupan saya tercukupi. Jika saya renungi, setiap mengalami kesulitan biasanya tidak terlalu lama ada saja pertolongan. Dan, setiap saya mengalami kejutan seperti itu saya bersyukur, Gusti Allah memang kaya. Dia mengirimkan rezeki lewat siapa saja,” ucap Chobir dalam perbincangan di Masjid Jami’ sebelah barat alun-alun Kota Gresik.
Dulu, menjelang tahun 1950 di seputar alun-alun Gresik terdapat sirine peninggalan Jepang yang oleh takmir dibunyikan sebagai tanda menjelang berbuka puasa dan waktu Imsak. Saat itu Abdullah Chobir remaja sering membantu untuk membunyikannya. Tidak itu saja, dia rela membantu takmir jika ada kegiatan, baik membagi makanan bagi orang-orang yang berbuka puasa maupun menyiapkan perlengkapan pengajian.
“Itulah hiburan yang menyenangkan karena bisa berhubungan dengan banyak orang karena sejak bayi orang tua bercerai sehingga tidak pernah mengenal bapak.” Warga kampung Faqih Usman XVI/12 Gresik ini mengudar masa kanak-kanaknya yang kelabu. Walau emaknya, Cholilah, teramat miskin namun tetap saja berusaha menyekolahkannya di SMP Nahdlatul Ulama hingga lulus. “Ibu sering menemui kepala sekolah untuk minta keringanan karena tidak punya uang untuk membayar sekolah,” imbuh lelaki kelahiran 9 Agustus 1933 ini dengan selalu melakukan shalat sunnah yang dihadiahkan bagi ibunya yang meninggal tahun 1995.
Kembali ke aktivitasnya membantu takmir masjid, menginjak tahun 1979 dia ditawari untuk menjadi muadzin yang mengumandangkan adzan pada lima waktu, ia pun menerima dengan senang hati karena dianggap sebagai penghormatan. Di sela-sela kegiatannya menjahit songkok yang jadi sumber penghasilan, Chobir selalu mengawasi jarum jam secara seksama. Sebelum tiba waktu shalat dia harus sudah siap di tempat pengimaman untuk adzan.
“Dengan menggunakan sepeda, setiap pukul 03.00 dini hari saya sudah ke masjid, setelah shalat subuh menyiapkan peralatan yang digunakan untuk pengajian hinggga pukul 06.30, kemudian pulang. Jam 11.00 menyiapkan shalat Duhur lalu pulang dan kembali balik pukul 14.00 menyiapkan Ashar disambung pengajian hingga menjelang Magrib berlanjut ke Isya’. Saat puasa dia baru pulang setelah usai shalat tarawih. Selain adzan bila imamnya tidak datang, Chobir menjadi imam pengganti.

Merakit Songkok
“Itulah rutinitas yang saya lakukan selama 30 tahun dan alhamdulillah tak sehari bada kecuali jika kondisi tubuh benar-benar tidak memungkinan,” tutur suami Wasifah (60) yang menikah pada tahun 1965 dan dikaruniahi 4 orang anak.
Seperti hari sialnya pada 2003, saat melintas di tikungan jalan dekat alun-alun sepedanya ditabrak pengendara sepeda motor, akibatnya sepeda bututnya rusak parah dan kepalanya terluka hingga bajunya penuh dengan percikan darah. Selama seminggu beristirahat total setelah pulih dia dibelikan sepeda oleh seorang donatur.
Untuk menopang hidup keluarga, Chobir tetap pada profesinya merakit songkok yang menjadi salah satu produk andalan Gresik. Jika kita menyusuri perkampungan banyak orang yang mengerjakan songkok secara borongan, beragam kreasi dan merek gencar dipasarkan selama Ramadhan. Namun sejak 1995, ketika daya pandang matanya menurun dia tak mampu lagi melakukan pekerjaan yang dilakoni sejak bujang. Sementara istrinya, Wasifah alumni Ponpes Tambak Beras mengajar bahasa Arab di Sekolah Sanad khusus perempuan, dalam setahun setahun terakhir pun mengundurkan diri digantikan oleh menantunya, Anim Rohatin.
Chobir bersama istri dan anaknya merupakan generasi keempat yang menempati rumah berusia 300 tahun di kampung Faqih Usman XVI/12 Gresik. Di situlah dia membesarkan keempat anaknya dengan kondisi pas-pasan. Yang dia syukuri, anak-anaknya memiliki semangat untuk melanjutkan pendidikan. Seperti si bungsu, Shofir Fuad (kelahiran 1968) lulusan IAIN Surabaya kini mengajar agama di Perguruan Tinggi Kesehatan Pontianak. Kedua, Faikhotul Himah (1970) alumnis IKIP Surabaya, bekerja sebagai guru agama di PT. Semen Gresik. Ketiga, Didik Abdul Basyid (1974) alumni Fak. Mesin Universitas Brawijaya, Malang, setelah bekerja di Dubai kini di Semen Gresik sementara yang ragil, Imam Musirrih (1978) bekerja di perusahaan air minum Flow.
“ Sewaktu anak-anak masih kuliah, saya pernah kehabisan uang dan tiba-tiba ada orang minta tolong agar membacakan Alquran di makam keluarganya dengan memberi imbalan Rp 50 ribu. Saya tidak melihat nilainya tapi itulah jawaban Tuhan atas keuangan yang saya butuhkan,” tuturnya mengenang. Kejutan lain berlangsung pada 2001, dia didatangi oleh dua orang dermawan, H. Suyud dan H. Ali untuk diberangkatkan ke tanah suci menunaikan ibadah haji. “Ya Allah, tidak bisa dinalar saya bisa haji, membayangkan saja tidak berani.”
“Banyak hadiah yang saya peroleh dari Allah selama menjalankan tugas kemasjidan,” ucap Chobir bangga. ***

Komentar & Pertanyaan yang santun pasti dimuat, iklan boleh tapi jangan berlebihan (SPAM)

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: