Stren-dog Millionaire

30gusurp1
Menyaksikan uber-uberan, saling dorong, dan baku pukul antara polisi pamong praja dengan warga stren kali Jagir beberapa waktu yang lalu, saya teringat adegan film Slumdog Millionaire.

Film ini dibuat di Mumbai (dulu disebut Bombay) sebuah kota yang penuh ironi di India. Kota ini gemerlap karena kehidupan selebritas kelas jetset ada di sana.

Kalau Anda ingat Bollywood, di sinilah tempatnya. Sebuah sentra industri perfilman yang cuma kalah dari Hollywood dalam hal produktivitasnya.

Di salah satu sudut kota ini ada gaya hidup dengan standar orang paling kaya dari seluruh kota terbesar dan termahal di dunia. Pesta-pesta mewah dengan orang-orang superkaya yang mewah dan wangi setiap saat ada di kota ini.

Tapi, di sisi yang lain, Mumbai adalah potret ironi seperti bumi dan langit. Jutaan orang hidup dalam gubug-gubug kecil berdesak-desakan di pinggir tumpukan sampah dan stren-stren kali.

Jangan bicara soal kebersihan, jangan tanya soal pendidikan. Orang-orang miskin ini tidak akan pernah mendengar kata itu. Mereka orang terpinggirkan, mereka hidup bersama sampah dan menjadi bagian darinya.

Seperti saudara-saudara mereka di Jagir, orang-orang miskin di Mumbai ini juga menjadi korban kekuasaan pemerintah yang sewenang-wenang. Mereka menjadi peras-perasan para preman dan bajingan yang bergentayangan. Dan—yang tidak kalah penting—mereka menjadi bahan eksploitasi para politisi yang sedang mencari dukungan.

Jamal Malik, seorang anak yatim melarat. Rumahnya hanya sepetak kayu beratap kardus di pingiran kali Mumbai. Ia hidup yatim piatu, orangtuanya mati akibat kerusuhan antar-etnis. Setiap hari ia harus ekstra-waspada karena terus-menerus dikejar-kejar oleh satpol PP-nya India.

Suatu ketika, Jamal yang sudah remaja ikut kuis Who Wants To Be Millionaire di televisi.

Sebuah kuis yang—sesuai dengan namanya–bisa membuat pemenangnya terkenal dan kaya raya mendadak karena hadiahnya miliaran. Kuis ini hanya bisa dimenangkan oleh orang-orang cerdas dan terpelajar. Tapi, Si Jamal, anak pinggir kali yang hidup dengan sampah, ternyata bisa menjawab semua pertanyaan. Bahkan sebuah pertanyaan mengenai sastra yang rumit bisa dijawab.

Geniuskah si Jamal ini. Tidak. Sama sekali tidak. Dia bukan jenius akademis atau academic smart yang jadi monopoli orang sekolahan. Tapi dia jenius jalanan, street smart. Ia pintar karena pelajaran hidup mengajarinya menjadi pintar. Ia cerdik, karena kesulitan hidup setiap hari mewajibkannya menjadi waspada. Ia cerdas karena hanya dengan itu ia bisa mencari makan setiap hari.

Jamal bisa menjawab semua pertanyaan dan menjadi juara karena semua pertanyaan itu adalah pengalaman yang sudah ia jalani dalam penderitaannya.

Ia pun dicurigai, ditangkap polisi karena dianggap mencuri bocoran soal (atau memakai joki), lalu diinterograsi dan disiksa.

* * *

Saya berkhayal, kalau ada sutradara kita yang sekelas dengan

Danny Boyle, pasti akan muncul film Indonesia yang tidak kalah kelas dari Slumdog Millionaire.

Tragedi dan drama seperti itu terjadi setiap saat di Surabaya. Puluhan atau ratusan dan bahkan ribuan anak di Surabaya mempunyai kisah yang tidak kalah pahit dari Jamal Malik. Bahkan, mungkin, di Mumbai tidak ada balita yang mati karena kesiram air panas ketika dikejar-kerja polisi pamong praja.

Sayang, sutradara kita hanya bisa bikin film mistik hantu-hantuan dan menjejali penonton dengan cerita percintaan dan hedonisme yang konsumeristis

Di stren kali Jagir, hidup tidak kalah keras dari Mumbai.

Para penghuni stren ini diuber-uber polisi pamong praja dan digebuki karena dianggap sebagai sampah kota. Mereka diperas oleh preman dan dipaksa membayar pajak kepada petugas yang korup.

Di tengah gedung-gedung tinggi dan mal-mal yang gemerlap, orang-orang stren ini akan menjadi gundukan yang mengganggu.

Mereka menjadi aib bagi pemerintah kota. Dan bagi orang-orang kaya yang lalu lalang dalam mobil yang adem, kemelaratan ini mengganggu.

Solusi pintas adalah menggusur lalu memaksa mereka tinggal di rumah susun yang sumpek.

Penguasa kota lebih senang membangun mal dan gedung olahraga ratusan miliar daripada membenahi nasib orang miskin. Kalau Anda membangun fasilitas olahraga yang fantastik itu Anda akan terlihat berprestasi.

Anda enggan mengeluarkan uang untuk memperbaiki nasib orang miskin karena proyek ini tidak populer dan tidak terlihat monumental.

Anda ingin dikenang karena meninggalkan monumen wadag dalam bentuk mal-mal dan fasilitas olahraga yang mewah itu. Meski untuk itu Anda harus menggusur dan menelantarkan ribuan orang yang teraniaya.

* * *

Kalau sutradara Danny Boyle mendengar kisah sedih dari Jagir ini mungkin dia akan bikin sekuel berjudul Stren-dog Millionaire. Atau, kalau Boyle tidak mau, kita minta Ram Punjabi untuk memproduksi film itu. Toh, seperti kata pepatah: Tak ada rotan Ram Punjabi…*

Sumber:
http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=a66b2ecb853ed5851a778f3e48ad59d5&jenis=6364d3f0f495b6ab9dcf8d3b5c6e0b01

Komentar & Pertanyaan yang santun pasti dimuat, iklan boleh tapi jangan berlebihan (SPAM)

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: