PASAR MAUT

Kaum migran Surabaya berebut remah-remah berkah Kota

Kaum migran Surabaya berebut remah-remah berkah Kota

Di tengah maraknya bangunan SuperMall yang berdiri di kota-kota besar, ternyata tidak sedikit migran kota yang hanya memperoleh kesempatan mengais rejeki di pingiran rel Kereta Api yang masih aktif.

Menurut Sosiolog FISIP UNAIR, Bagong Suyanto, kecenderungan mengakses daerah-daerah rawan bahkan ‘terlarang’ untuk melakukan perdagangan seperti di jalur rel kereta api, seringkali dilakukan oleh kaum migran kota yang memang tidak mampu mendapatkan akses ke wilayah pasar resmi (dikelola Pemerintah). Hal ini selain dikarenakan biaya sewa stand, mereka masih harus membayar retribusi sampah, tagihan listrik, biaya keamanan dan belum lagi biaya ‘preman’.

Kondisi inilah yang menyebabkan kaum migran kota terpinggirkan dan untuk meneruskan hajat hidup, mereka tak enggan memasuki wilayah-wilayah informal yang terkadang ilegal. Seperti misalnya di daerah Surabaya, terdapat ‘PASAR MAUT’ yakni sebutan bagi pasar yang beroperasi di sekitar bahkan di tengah jalur kereta api yang masih aktif. Pasar ini, setidaknya ada di dua lokasi : Pasar Maut di daerah Dupak Magersari dan yang kedua adalah Pasar di daerah perbatasan Surabaya dan Waru, Sidoarjo.

Pasar Dupak Magersari, photo by Robertus Pudyanto

Pasar Dupak Magersari, photo by Robertus Pudyanto


Meskipun sama-sama menempati wilayah jalur rel kereta yang masih aktif, namun dua pasar ini memiliki karakteristik yang berbeda. Pasar di daerah Dupak Magersari, relatif ‘kurang berbahaya’ karena kereta api yang meluncur dari Stasiun Pasar Turi seringkali adalah Kereta api yang barusan berjalan sehingga kecepatannya tidak begitu kencang. Sementara Pasar di daerah Waru, bisa dikategorikan ‘Sangat Berbahaya’ karena kereta api yang melintas baik dari arah selatan maupun utara, rata-rata berkecepatan tinggi.

Sampai saat ini, tim DOCNET terus mengadakan upaya-upaya persuasif kepada pihak-pihak terkait untuk lebih memberikan perhatian kepada para pedagang maupun masyarakat pembeli yang ada di dua pasar tersebut. ***

Satu Tanggapan

  1. biarkan hidup berjalan apa adanya
    jadikah pasar maut membuat hidup kita lebih sadar
    akan bahwa kita semua menpuyai Pencipta
    thanks
    miss u surabaya

Komentar & Pertanyaan yang santun pasti dimuat, iklan boleh tapi jangan berlebihan (SPAM)

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: