Republik Petruk

Era Petruk Dadi Ratu telah tiba. Orang-orang yang tidak pernah kita kenal sebelumnya tiba-tiba dipaksakan muncul di depan mata kita. Wajah-wajah asing dengan gaya seragam; berjas dasi lengkap dengan kopiah bagi yang pria dan baju muslim lengkap dengan kerudung bagi perempuan.

Mereka ada di mana-mana. Di perempatan jalan, di lampu merah di sepanjang jalan. Di warung kopi, di kios rokok, dan di rombong bakso.

Hari-hari ini kita dipaksa melihat wajah-wajah mereka setiap hari. Pagi-pagi ketika kita keluar dari rumah, di perempatan jalan kampung kita sudah disuguhi wajah-wajah mereka. Di gardu jaga wajah-wajah itu tersenyum ke arah kita.

Ketika kita menyetir kendaraan, di sepanjang jalan wajah-wajah itu memaksa kita menengok karena mereka ada di bokong angkot dan di bemper bus kota.

Mohon doa restu dan pilihlah saya. Itulah kalimat standar yang menghiasi foto-foto itu. Wajah-wajah itu bervariasi, mulai wajah-wajah yang sudah berkerut sampai wajah-wajah segar yang masih imut-imut. Entahlah apa yang mereka maui. Entahlah apa yang ada di kepala mereka.

Kalau seumpama mereka bisa menjadi anggota legislatif, kita tidak akan tahu apa yang mereka lakukan. Mungkin tidur selama sidang yang tidak mereka mengerti materinya. Mungkin main SMS atau menelepon teman selama sidang yang membosankan. Atau sekadar duduk bengong karena tidak mengerti sama sekali apa yang sedang terjadi di sekitarnya.

Inilah era republik Petruk. Menjadi politisi dan anggota dewan dianggap pekerjaan gampang yang semua orang bisa melakukannya.

Siapa saja yang dikenal akan dicomot supaya mau menjadi caleg. Teman, tetangga, adik, kakak, anak, mertua, keponakan, dan siapa saja.

Coba comot secara acak orang-orang itu, lalu kita tes pengetahuan politik mereka. Saya yakin lebih dari separoh tidak akan tahu berapa besar APBD Surabaya atau Jawa Timur.

Toh, bagi mereka politik itu ilmu katon. Bisa dipelajari sambil jalan. Cukup dengan ikut acara pembekalan dua atau tiga kali dari partai mereka merasa cukup siap duduk di kursi.

Inilah yang ditangisi Socrates kira-kira 2.500 tahun yang lalu. Ia berkata bahwa menjalankan negara adalah pekerjaan paling berat dan paling menuntut tanggung jawab. Tetapi, anehnya, kata Socrates, banyak orang yang merasa bisa melakukannya tanpa perlu belajar.

* * *

Alkisah, Petruk yang berhasil menguasai jimat Kalimasada bisa menjadi ratu sakti mandraguna. Tidak ada yang bisa melawan dan mengalahkannya, bahkan para dewa sekalipun. Ia bisa berbuat apa saja sekehendak hatinya karena jimat itu begitu saktinya.

Petruk, seorang punokawan jelata yang polos dan lugu, berubah jadi gila kekuasaan dan kemewahan.

Sekarang ini petruk-petruk baru bermunculan. Mereka yang asalnya bodoh dan tidak mengerti apa-apa tiba-tiba menjadi ratu yang sangat berkuasa. Petruk-petruk itu menjadi walikota, bupati, gubenur, anggota dewan, pemimpin partai politik, tokoh agama, pemimpin ormas, pengusaha besar, preman profesional, preman amatir, dan banyak lagi.

Kalau dulu Petruk menjadi ratu karena memegang jimat Kalimasa, sekarang ini para petruk bisa berkuasa karena mempunyai dua jimat yang tidak kalah saktinya. Jimat apa itu? Namanya ‘jimat reformasi’ dan ‘jimat demokrasi’.

Jimat itulah yang membuat petruk-petruk baru bermunculan menguasai seluruh sisi kehidupan kita tanpa ada yang bisa melawan dan mengalahkannya.

Petruk sang Punokawan dan patruk-petruk modern di sekitar kita itu sama-sama pantas digelari sebagai ‘Prabu Belgeduwelbeh…* (Sumber Artikel : Surabaya Post, Link)

Komentar & Pertanyaan yang santun pasti dimuat, iklan boleh tapi jangan berlebihan (SPAM)

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: