Teleporter made in Surabaya

Surabaya adalah sebuah kota yang dibelah oleh sungai. Dari arah laut, tepatnya dari arah selat Madura, kita bisa langsung melihat sungai Kalimas yang mengaliri wilayah Surabaya utara. Bahkan hingga kini jembatan atau lebih tepatnya rongsokan bernama ‘Petekan’ menjadi sisa-sisa bukti sejarah bahwa Kota ini dulunya begitu makmur dengan hasil maritimnya.

Menelusuri Kalimas hingga ke perairan tengah kota, aliran air payau ini perlahan berubah menjadi sungai air tawar yang akrab disebut sebagai sungai Brantas. Mungkin kata ‘tawar’ kurang tepat mengingat laporan hasil riset teman-teman Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Observation) yang mengemukakan bahwa 600 pabrik di sepanjang aliran sungai di Surabaya, hanya 60 pabrik yang memenuhi syarat pengolahan limbah.

‘Tawar’ mungkin sudah terkontaminasi dengan asin, getir, pahit, asam, pekat, nyinyir dan kental. Lalu kemana perginya rasa ‘manis’ sungai Surabaya?

Barangkali hanya segelintir orang kecil yang masih bisa merasakan ‘manis’ dari berkah sungai Brantas ini. Setidaknya beberapa orang yang tiap hari menjadi operator ‘Teleporter’ made ini Surabaya alias Perahu Rakit a.k.a Perahu Nambang.

Sebut saja namanya Bu Yayuk (Bukan nama sebenarnya), sudah hampir sepuluh tahun ini ia menjalankan perahu rakit milik Haji Dollah (Juga nama samaran) setelah almarhum suaminya meninggalkan ia dan tiga orang anak.

Bu Yayuk yang menguasai jalur ‘Teleporter’ di kawasan Dinoyo Surabaya ini, setiap harinya ‘memindahkan’ puluhan para penumpang termasuk sepeda motor, dan bakul-bakul sayur dari kawasan Dinoyo ke kawasan Ngagel. Kalau menempuh jalur normal alias jalan raya biasa, mereka harus memutar dan melewati jembatan B.A.T yang memakan waktu 30 menit. Dengan bantuan ‘teleporter’ bu Yayuk, maka mereka hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari 5 menit untuk sampai di kawasan Ngagel dan sekitarnya.

Di Kawasan Dinoyo, bu Yayuk tidak sendirian, menurut hasil laporan pandangan para gelandangan yang sering tidur di pinggir sungai, setidaknya ada 4 buah jalur teleporter sepanjang sungai Brantas yang membelah kawasan Dinoyo hingga Darmo kali dengan kawasan Ngagel hingga Wonokromo.

Kabarnya, ‘teleporter’ dengan medium tali tambang berbahan bakar otot lengan manusia ini, juga ada di kawasan sungai Brantas sepanjang jalan raya Mastrip atau Kedurus dan terdapat pula di kawasan Dupak yang dibelah oleh sungai Kali anak.

Perahu Nambang di kawasan antara Kedurus dan Pagesangan

Penghasilan yang di dapat dari usaha perahu nambang ini rata-rata per hari berkisar antara Rp 150 ribu hingga 250 ribu. Bahkan untuk jenis perahu nambang yang sengaja di design khusus untuk bisa memuat lebih banyak penumpang dan sepeda motor seperti di daerah Kedurus, bisa mencapai 300 ribu hingga 500 ribu per hari. Dari penghasilan tersebut, si operator harus menyetor ke pemilik perahu sesuai dengan jumlah yang disepakati, sisanya baru menjadi haknya.

Beberapa tahun lalu, Pemerintah Kota Surabaya memang merencanakan akan membuka jalur wisata air yang hingga kini belum terealisasi dengan serius. Meskipun hal ini sempat dirintis dengan dibukanya perahu pesiar di Taman Prestasi (Belakang Grahadi) yang menempuh jalur ke arah Kayun dan berputar di area sungai pinggir Monumen Kapal Selam.

Jika anda cukup beruntung, anda mungkin sempat menikmati perahu pesiar yang beroperasi di sepanjang sungai menuju pintu air Jagir Wonokromo.

Saya tidak tahu apakah ini hanya semacam rendesvouz akan kejayaan kehidupan sungai Surabaya di masa lalu ataukah justru visi futuristik untuk kembali menghidupkan ‘jalan sungai’ layaknya kota-kota di banyak negara yang memiliki kondisi geografis yang serupa.

Namun jika mengingat ikan sungai yang terlalu beresiko untuk dikonsumsi, air sungai yang sudah jelas tak layak konsumsi, sebaiknya memang dibutuhkan gagasan cemerlang atau strategi baru agar sungai-sungai di kota Surabaya berfungsi kembali.

Seorang pengusaha kenamaan Surabaya yang kerap berkunjung di Eropa mengatakan suatu ketika kepada saya, bahwa Lay-out rumah-rumah di bantaran sungai yang cenderung membelakangi sungai, itu menandakan bahwa sungai di fungsikan sebagai jamban rumah tangga. Hal ini berbeda dengan letak rumah-rumah di Eropa yang selalu menghadap ke arah sungai. Secara psikis, rumah yang menghadap sungai pasti merangsang warga untuk turut merawat sungai yang setiap saat menjadi pemandangan depan rumah mereka.

Bahkan Dukut Imam Widodo suatu kali pernah menyodorkan sebuah foto Koleksi Surabaya Tempo Doeloe. Foto tersebut adalah foto gedung Grahadi yang saat itu masih menghadap ke arah sungai. Orang Belanda yang memang terbiasa dengan kehidupan dan jalan sungai, sejak awal telah mendesign letak gedung sengaja menghadap sungai.  Sejak kapan Gedung Grahadi membelakangi sungai? Sepertinya kita tak begitu berkepentingan tahu soal itu. Barangkali kita lebih ingin tahu apakah Gedung yang merepresentasikan kekuasaan (Baca: Kekuatan untuk mengelola) itu cukup punya energi dan semangat merestorasi sungai-sungai di Surabaya? ***

Satu Tanggapan

  1. Saya suka sekali naik rakit nambang. Seandainya bisa lebih indah lagi sungai surabaya, barangkali bukan saya saja yang suka naik nambang

Komentar & Pertanyaan yang santun pasti dimuat, iklan boleh tapi jangan berlebihan (SPAM)

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: