Gembong in Memoriam (1958-2008): Museum tanpa atap dan Kolonialisme Bangsa Rombeng

Siang itu, di tahun 1959 seorang laki-laki butut bersepeda tiba-tiba menghentikan sepedanya. Matanya tertahan oleh termos almini bermotif blirik. Buru-buru ia parkir sepedanya di tepi jalan. Ia jongkok memeriksa termos itu dengan seksama. Tak lama ia tersenyum, ia ingat keluhan istrinya kemarin karena harus selalu masak air setiap kali hendak bikin kopi untuknya.

Mendadak sebuah becak penuh barang-barang rongsokan hampir saja menabraknya. Ia kaget dan mau marah. Tapi urung, karena ia lihat di atas jok becak itu tergolek beberapa benda yang juga menarik perhatiannya; ada kompor, timbangan, Velg sepeda, radio tua, selimut, topi, tumpukan suratkabar dan buku-buku usang, bahkan kursi kayu dan tas koper yang terbuat dari kulit dan besi. Sebentar kemudian, orang-orang di sekitar tempat itu sudah mengerumuni becak tadi, sibuk memilih barang. Ada yang langsung beli, ada yang memilah-milah barang yang hanya ia perlukan, dan ada pula yang sibuk menawar.

Suasana di tahun 1950an itu sepertinya tak banyak berubah hingga di tahun 2008. Setidaknya itu yang saya temukan saat berkunjung buat terakhir kali di Pasar Loak Jl. Gembong Surabaya minggu pertama Februari 2008 lalu.

Seorang teman, Antropolog yang menyamar menjadi pedagang barang rombeng untuk melakukan riset buku terbarunya, suatu malam menelpon saya. Ia memberitahukan bahwa Pasar Gembong tiga hari lagi akan diratakan dengan tanah.

Tanpa ragu saya mengajak beberapa teman untuk mengabadikan Pasar ‘Legendaris’ Gembong lewat photo. Tapi salah seorang dari mahasiswa itu menghentikan saya dan bertanya,

-Sebenarnya apa sih arti penting Pasar Gembong ini mas? Maaf, saya kan lahir tahun 1980an, lagi pula saya bukan asli Surabaya, jadi nggak seberapa paham..

*Waduh, mungkin arti terpentingnya ya buat pedagang dan sejumlah orang yang sehari-harinya mencari nafkah di situ, kalau buat saya sih, nggak penting-penting amat..

-Lhaa..kalau nggak penting, kok pake di ‘abadi’kan segala..

*Mau dibuat pura-pura penting juga bisa. Sebenarnya Pasar gembong ini bagi saya semacam wisata, melihat dari dekat apa saja sebenarnya isi rumah orang surabaya, dari jaman ke jaman. Jadi sebenarnya Pasar Gembong itu semacam galeri, atau museum sosial budaya tanpa atap yang jauh lebih komplit dari museum yang ada di Surabaya. Kamu akan menemukan artefak tahun 1900an, produk fashion tahun 1970an hingga elemen teknologi tinggi (high tech) pada masa-masa awal.

-Wah..jadi penting dong?

*Bagi siapa?

-Kok bagi siapa, ya bagi semua orang yang butuh pengetahuan tentang hal-hal itu..

*Yaah..itu sih relatif..pengetahuan itu kan kekayaan bathin, sepertinya kekayaan macam itu nggak penting buat orang Indonesia..

-Jangan sinis begitu mas, saya ini orang Indonesia juga! Mungkin maksud mas, itu oknum pejabat PEMKOT yang suka gusar-gusur sana sini..

*Lha si Oknum kalau bukan orang Indonesia apa bisa jadi pejabat PEMKOT??

-Iya juga sih..

*Embeeerrr..

-Terus, gimana mas?

*Terus ya dibongkar, digusur, diratakan dengan tanah, bahasa santunnya ‘ditertibkan’..

-Bukan, maksud saya terus bagaimana nasib kekayaan pengetahuan yang seharusnya dilestarikan itu mas..

+Sebentar bung!

Tiba-tiba temen saya yang antropolog itu datang dan langsung menyela pembicaraan.

+Kalau tadi bung katakan, bahwa pasar gembong itu cuma perkara kekayaan pengetahuan atau bathin buat warga kota Surabaya, saya kurang sepaham..

*Memang ada lagi bang?

Saya memanggil ‘bang’ teman saya itu karena ia pernah menirukan logat bahasa Batak semasa di SMA. Dia sendiri lahir di Tulungagung dan besar di Surabaya.

+Dari hasil riset saya, dengan menyamar menjadi pedagang buku bekas di pasar Gembong mulai tahun 2004 hingga 2008 ini, saya memperoleh data bahwa pendapatan ekonomi perbulan pasar gembong rata-rata bisa mencapai 1,5 M..

Saya dan teman-teman mahasiswa melongo, setengah tak percaya.

-Dari hasil jual barang rongsokan, bisa dapat hasil segitu?

Teman Antropolog saya mengangguk tenang. Seakan-akan dia juga telah ikut merasakan manis dengan berdagang buku bekas disana.

-Itu pendapatan kotor mungkin mas?

Teman saya menggeleng. Lalu ia melempar sebuah komik karya Ganes Th. ke lantai.

+Coba tebak, berapa saya beli komik butut ini dari pasar itu?

-Hmm…tiga ribu?

Teman saya tersenyum lalu menggeleng.

-Mmm..seribu lima ratus?

+Saya beli cuma 5000 rupiah komplit alias 10 hingga 12 jilid. Lalu saya bisa menjualnya di kolektor komik seharga 100 hingga 250 ribu tergantung kondisi fisik komiknya.

*Sebentar toh bang, sebenarnya kamu itu mau riset buat tulisan-tulisanmu atau beneran mau jadi tukang rombeng profesional?

Teman saya nyengir, lalu ia menepuk pundak saya.

+Ini namanya penelitian yang terlibat,..menyelam sambil minum air..ya penelitian, ya bisnis..

Saya geleng-geleng melihat kepawaian teman saya yang satu ini.

+Tapi jangan salah, aku bukan mau menyerobot jatah rejeki orang-orang kecil yang berdagang disana. Aku cuma ngetest kemampuan ‘salesmanship’ku disana.. buktinya aku sekarang sudah menulis dan menghasilkan trilogi novel ‘Buku Harian seorang Tukang Rombeng’..

*Nah..benar kan kataku tadi, Gembong itu bukan sekadar pasar. Bagi orang-orang tertentu, Gembong bisa memberikan arti dan fungsi yang beragam, ada yang mencari bahan inspirasi, alternatif buku murah, hunting benda-benda tempo doeloe buat koleksi hingga mencari barang bekas pakai yang masih bisa digunakan untuk menambal kecelakaan ekonomi..

Misalkan kamu bangkrut karena bapakmu korupsi, terbiasa pakai AC, nah di Gembong kamu masih bisa beli kipas angin dengan harga murah,..kamu sudah terbiasa kemana-mana pakai sepeda motor, lalu karena doyan togel terus motormu amblas ikut terjual, nah kamu masih bisa membeli sepeda pancal dengan harga miring asal kamu bisa menawar..

-Satu lagi mas..

*Apa ?

-Kalau pas lagi kepepet..aku bisa merombeng baju sama celana disana..

*Nah..makin pinter kamu…

-Kalau ke Carefour atau Giant, Hypermart dan sejenisnya..kan nggak ada yang mau beli barang bekas kita? Kalau di Gembong kan oke-oke aja, hehehe..

+Tapi nggak usah terlalu sedih..’mental Gembong’ masih akan terus menyala di jiwa alumni pasar Gembong. Karena pada dasarnya filosofi mereka adalah ‘Always Move’..bahasa antropologinya ‘nomaden’. Justru itu yang membuat mereka tetap survive. Kalau pasar Gembong digusur, nggak usah kuatir, masih banyak lapak-lapak bebas yang tersebar di seluruh permukaan tanah air Indonesia!

*Kamu kok semangat gitu bang? Mentang-mentang alumni Gembong..

+Oh jelas! Kalau soal mencari nafkah kita harus selalu pantang mundur, jangan mudah menyerah meskipun banyak cobaan dan ujian.

*By the way,..mereka pindah kemana ya bang? Apa ke Bangkalan seperti yang direncanakan dengan manis oleh pemerintah..

+No way!..kita adalah majikan hidup kita sendiri. Jangan mau terlalu banyak diatur orang lain yang sok peduli, tetapi di balik itu hatinya penuh ulat belatung!

-Wah mas ini ternyata penuh dendam kesumat..maklum habis digusur ya?

+Kita para kaum rombeng menolak untuk tunduk pada bahasa undang-undang yang dirakit dengan pikiran laba, perasaan lupa dan mental kolonial! Kita akan terus penuhi setiap ruas-ruas jalan yang masih tersisa untuk membeber semua barang yang masih bisa kami jual..apa saja yang masih bisa kami jual, akan kami jual! Asal tidak harga diri kami, apalagi hati kecil kami!

*Waduuh..sebentar..sebentar bang, mentang-mentang kamu mantan aktivis demo terus ngomongnya berapi-api gitu…coba kita dudukkan persoalan ini dengan tenang, dengan kepala dan hati dingin..

+Kepala dan Hati dingin cuma akan membawamu menjadi Tiran!

*Hei bang,..makanya kamu jangan terlalu lama kalau melakukan riset di satu habitat, ya begini ini akibatnya, kamu jadi kehilangan obyektivitas! Bagi ilmuwan, obyektivitas kan penting bang?

+Tahu apa kamu tentang obyektivitas? Obyektivitas itu kumpulan dari subyektivitas! Jadi sumbernya adalah juga subyektif! Subyektif itu pendapat, dan pendapat itu dilindungi oleh undang-undang!

*Maksudku begini bang,..di kawasan Gembong itu kan ada rumah-rumah, lalu karena letaknya di pinggir jalan, ada juga keluarga yang membuka usaha toko..nah selama ini kan usaha mereka tidak bisa maksimal karena tertutupi oleh keberadaan para kaum rombeng yang dengan gaya anarkis membuka lapak-lapak bahkan sampai ada lapak yang semi permanen?

*Kamu pernah nggak mencoba dialog dari hati ke hati dengan penduduk yang bertempat tinggal disana..membayangkan betapa susahnya mereka kalau pas lagi punya hajatan..rumah mereka kehilangan wajah karena terasnya di’duduki’ selama 50 tahun oleh Kolonialisme Bangsa Rombeng?

+Tapi kan itu bukan sebab! Itu kan karena akibat sistem pemerataan ekonomi kita yang carut marut? Keterbukaan informasi yang pincang dan jalur distribusi kemakmuran yang macet!

+Para Kaum rombeng itu adalah warna bangsa yang sejati, ia tak menyerah karena tak bisa sekolah layak hingga menjadi abdi dalem departemen-departemen Pemerintah, ia juga tak menyerah dengan menjadi begal atau begundal-begundal, memlih jalan rombeng adalah salah satu bentuk survival! Dan bagiku tak sekadar itu, memilih jalan rombeng adalah perlawanan terhadap kapitalisme pasar modern, plaza, departemen store atau sistem supermarket yang mengamini kebuasan hedonisme.

*Kamu kok jadi serius begini bang?

+Karena sekarang makin jarang orang yang serius dengan hal-hal yang sudah semestinya dipedulikan..mereka semua cuma main-main..dan yang dipermainkan adalah nasib bahkan nyawa banyak orang..

-Mereka itu siapa mas?

Teman saya geregetan menahan gemeletuk amarahnya yang sudah sampai ke ujung gigi. Ia tak menjawab. Ia cuma menyepak besi penahan sepeda pancalnya dan segera mengayuh sepedanya ke arah utara.

*Oii bang!?..kemana?

+Aku sudah telat! Aku mau jualan di pasar Maling dekat kantor DPRD Jatim!! Nanti kita sambung lagi..

Teman saya berteriak dari atas sepedanya. Roda-roda sepedanya berputar cepat meninggalkan saya dan seorang teman mahasiswa yang masih berusaha mencerna kalimat-kalimatnya.

***

Komentar & Pertanyaan yang santun pasti dimuat, iklan boleh tapi jangan berlebihan (SPAM)

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: